Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perubahan Iklim Ancam Tumbuh Kembang Anak, Ini Upaya ARNEC

5 min read
Perubahan Iklim Ancam Tumbuh Kembang Anak, Ini Upaya ARNEC
2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)
  • Perubahan iklim mengancam kesehatan serta perkembangan fisik, kognitif, dan emosional anak usia dini; paparan suhu di atas 30°C dikaitkan dengan peluang literasi dan numerasi dasar yang hampir 7 persen lebih rendah.

  • ARNEC menggelar forum regional di Jakarta bersama pemerintah dan mitra untuk memperkuat sistem pengembangan anak usia dini yang responsif iklim serta mendorong pendanaan adil, memadai, dan berkelanjutan.

  • Langkah yang didorong mencakup integrasi ketahanan iklim dalam layanan dasar, pembiayaan adaptasi berpusat pada anak, serta penguatan data, asesmen risiko, akuntabilitas, penelitian, dan pembelajaran lingkungan sesuai tahap perkembangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini merupakan hal krusial yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan masa depan mereka. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, salah satunya perubahan iklim (climate change). Perubahan iklim dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap anak usia dini, baik secara fisik, kognitif, maupun emosional. Hal ini karena anak-anak lebih rentan terhadap perubahan lingkungan, sementara sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.

Berdasarkan data Green Network pada 2025, suhu udara permukaan rata-rata global tercatat mencapai 1,48°C di atas tingkat praindustri. Kondisi tersebut dapat memberikan dampak mendalam terhadap kesehatan manusia, termasuk anak-anak. Anak-anak yang terpapar suhu harian di atas 30°C, tercatat hampir 7 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mencapai tonggak dasar literasi dan numerasi dibandingkan anak-anak yang tinggal di lingkungan lebih sejuk. Kondisi ini mendorong Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood (ARNEC) untuk meningkatkan perhatian terhadap keberlangsungan tumbuh kembang anak usia dini, terutama dalam menghadapi perubahan iklim yang dapat memengaruhi kehidupan mereka.

Melalui 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang mengusung tema “From Knowledge to Collective Action: Strengthening Climate-Responsive and Well-Financed ECD Systems in Asia-Pacific”, ARNEC mengajak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Tanoto Foundation, Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP), serta Koalisi Nasional PAUD-HI untuk memperkuat sistem pengembangan anak usia dini. Forum yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Barat pada Selasa (20/10/2026) ini, menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan untuk bertukar pengalaman, belajar bersama, dan merumuskan langkah konkret dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Berikut penjelasan lengkapnya.

  1. 1. Menetapkan dua prioritas utama untuk mendukung tumbuh kembang anak usia dini

    2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat
    2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

    ARNEC menyadari bahwa setiap anak berhak mendapatkan dukungan yang memadai untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang dapat memengaruhi kehidupan anak usia dini, ARNEC bersama para mitranya berupaya memperkuat sistem pengembangan anak usia dini agar mampu merespons perubahan iklim sekaligus memastikan terpenuhinya kebutuhan anak.

    Sebagaimana disampaikan oleh Evelyn Santiago, Executive Director ARNEC, kawasan Asia-Pasifik sangat rentan terhadap perubahan iklim. “Negara-negara di kawasan ini secara konsisten menempati peringkat teratas dalam Climate Risk Index. Sejak 2019, ARNEC telah menyuarakan kesadaran tentang dampak perubahan iklim terhadap anak usia dini. Regional Learning Forum ini merupakan bagian dari advokasi jangka panjang tersebut,” katanya.

    Oleh karena itu, forum ini berfokus pada dua prioritas utama, yaitu penguatan sistem pengembangan anak usia dini yang responsif terhadap perubahan iklim serta mobilisasi pendanaan yang memadai, adil, dan berkelanjutan. Kedua prioritas tersebut menjadi landasan penting untuk memastikan setiap anak memperoleh akses terhadap layanan pengasuhan dan pendidikan anak usia dini yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

  2. 2. Menjadi wadah regional untuk mendukung tumbuh kembang anak usia dini

    2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat
    2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

    Untuk menjawab tantangan perubahan iklim yang dapat memengaruhi masa depan anak usia dini, forum ini juga mendorong kemajuan melalui kampanye Act for Early Years. Kampanye tersebut merupakan gerakan global yang menyerukan akses terhadap layanan pengembangan anak usia dini, pengasuhan, dan pendidikan prasekolah yang berkualitas bagi semua anak perempuan dan laki-laki.

    “Filantropi dapat melengkapi upaya pemerintah dengan mendukung penyediaan bukti, inovasi, dan kapasitas kelembagaan yang diperlukan untuk menerjemahkan pendekatan yang terbukti efektif menjadi perbaikan yang berkelanjutan. Kami menyambut baik kesempatan untuk belajar bersama pemerintah dan para mitra di Asia Pasifik dalam forum ini,” ungkap Eddy Henry, Head of Policy & Advocacy, Tanoto Foundation.

    Selain membahas upaya memperkuat sistem pengembangan anak usia dini, forum ini juga menjadi ruang untuk bertukar gagasan mengenai kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital. Diskusi tersebut bertujuan untuk merumuskan langkah bersama sebagai komunitas regional dalam memperkuat pengetahuan mengenai peluang dan risiko penggunaan teknologi dan AI pada anak usia dini.

  3. 3. Memperkuat sistem pengasuhan dan pendidikan melalui penelitian

    2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, pada Selasa
    2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

    Penguatan sistem pengasuhan dan pendidikan anak usia dini tidak hanya membutuhkan peningkatan kualitas layanan, tetapi juga penyelesaian berbagai tantangan struktural yang memengaruhi keberlanjutan dan pemerataan akses. Pendanaan perlu didukung oleh kerangka hukum yang kuat, menjangkau anak-anak dan masyarakat secara merata, serta berkelanjutan tanpa bergantung pada dukungan donor jangka pendek.

    “Pada saat yang sama, isu perubahan iklim perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan anak usia dini melalui pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, sehingga mereka dapat memahami tantangan lingkungan dan upaya pencegahannya,” jelas Prof. Vina Adriany, Direktur SEAMEO CECCEP.

  4. 4. Tiga pilar utama dalam menentukan langkah ke depan

    2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat
    2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

    Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, Amy Wickham, Education & Climate Lead Global Programme Division (GPD) – Education UNICEF Bangkok, menyebutkan tiga pilar utama yang perlu diperhatikan dalam menentukan langkah ke depan (next steps). Pilar pertama adalah mengintegrasikan ketahanan iklim ke dalam kebijakan dan layanan dasar, yang mencakup pengembangan anak usia dini (ECD), kesehatan, nutrisi, air, sanitasi, dan kebersihan (WASH), serta perlindungan. Langkah ini memprioritaskan anak-anak yang paling rentan melalui sistem peringatan dini, kesiapsiagaan, aksi antisipatif, serta peningkatan kapasitas tenaga kerja dan pemberi perawatan (caregivers).

    Pilar kedua adalah memobilisasi pembiayaan berkelanjutan dengan mengintegrasikan kebutuhan anak ke dalam pembiayaan adaptasi iklim dan Development Finance. Dengan demikian, kebutuhan anak dapat ditempatkan sebagai prioritas utama, bukan sekadar manfaat tambahan (co-benefits) yang terpisah. Pilar ketiga adalah memperkuat data, pengukuran, dan akuntabilitas melalui pengembangan asesmen risiko iklim yang berpusat pada anak (child-centered), pengintegrasian indikator ke dalam sistem informasi manajemen pendidikan dan sektor sosial, serta pelacakan gangguan terhadap layanan pendidikan.

    Tumbuh kembang dan pendidikan anak usia dini merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan karena berkaitan erat dengan masa depan mereka. Di tengah perubahan iklim yang dapat memengaruhi kesehatan, perkembangan, dan akses anak terhadap layanan esensial, diperlukan sistem pengembangan anak usia dini yang mampu beradaptasi terhadap berbagai risiko. Melalui forum ini, ARNEC bersama para mitranya mendorong penguatan kolaborasi, kebijakan, dan pendanaan berkelanjutan agar setiap anak usia dini memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, termasuk ketika menghadapi tantangan perubahan iklim.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More