“Soalnya zaman sekarang, apalagi di dunia teknologi atau digital, orang pindah-pindah kerja itu karena lebih dulu dapat tawaran. Kalau ada yang lebih baik, kenapa gak?” ungkap K, salah satu responden dalam riset IDN Times mengenai job hopping.
Pindah Kerja demi Bertumbuh, Loyalitas Masih Penting?

Gen Z dan milenial memandang pindah kerja sebagai cara belajar, memperluas pengalaman, dan menjaga kesejahteraan diri.
Makna loyalitas bergeser dari durasi kerja menjadi tanggung jawab, kinerja, pertumbuhan, dan pengalaman yang diperoleh.
Loyalitas tetap penting, sementara uang, makna, kesejahteraan, lingkungan sehat, dan peluang berkembang memengaruhi keputusan bertahan.
Tiap generasi punya cara yang berbeda dalam menyikapi pekerjaan. Dulu, loyalitas seseorang terlihat dari seberapa lama ia mampu bertahan dalam suatu pekerjaan atau perusahaan. Namun, gen Z dan milenial kini hidup dengan cara pandang yang berbeda.
Tak sedikit generasi muda, baik milenial maupun gen Z, yang memilih pindah pekerjaan dalam waktu singkat. Riset yang dilakukan oleh IDN Times pada Januari-Maret 2022, mengungkap ada 30,4 persen responden yang mengaku pernah pindah kerja sebanyak dua kali. Bahkan 29,1 persen responden pernah pindah tempat kerja lebih dari tiga kali.
Alasannya pun beragam, dari gaji yang kurang sesuai, merasa stuck, butuh peningkatan karier, hingga lingkungan kerja yang gak mendukung kesehatan mental. Namun, banyak generasi muda justru melihat pindah kerja sebagai cara belajar, memperluas pengalaman, sekaligus menjaga kesejahteraan diri. Lalu, apakah keputusan berpindah kerja berarti seseorang tidak lagi loyal?
1. Loyalitas bukan lagi soal seberapa lama bertahan di suatu pekerjaan atau perusahaan

ilustrasi kerja konsuler (pexels.com/Gustavo Fring) Jurnal yang berjudul "Redefining Loyalty: A Qualitative Exploration of the Job-Hopping Paradox and Occupational Commitment in Generation Z" ini, membahas perubahan cara pandang Generasi Z terhadap loyalitas kerja dan fenomena job hopping (sering berpindah pekerjaan dalam waktu singkat). Generasi sebelumnya mengukur loyalitas berdasarkan lama masa kerja, tetapi pandangan ini berubah di mata gen Z. Kondisi ini sangat berbeda dengan dinamika tenaga kerja masa kini yang tidak melihat loyalitas dari durasi masa kerja.
Gak heran apabila ada fenomena job hopping di mana seseorang berpindah-pindah tempat kerja dalam waktu singkat. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi hal tersebut dari perubahan lingkungan kerja, tantangan, hingga kondisi tempat kerja yang kurang mendukung.
Itu sebabnya, generasi sekarang tidak lagi melihat loyalitas dari seberapa lama bertahan di suatu pekerjaan atau perusahaan. Mereka melihat tanggung jawab dan kinerja selama menjabat atau bekerja di tempat tersebut.
2. Arti loyalitas mulai bergeser, bukan berarti tidak setia

ilustrasi kerja tim (pexels.com/olia danilevich) Di era sekarang, generasi muda merasa pertumbuhan jauh lebih penting daripada sekadar bertahan. Dari riset yang dilakukan IDN Times juga, data menjelaskan bahwa generasi muda percaya job hopping adalah hal positif bagi proses pengembangan diri.
Dari Deloitte Global Gen Z & Millennial Survey 2026, ditemukan data bahwa mayoritas gen Z memilih perkembangan karier yang berkelanjutan daripada mengejar promosi yang cepat. Bahkan, mereka bersedia untuk pindah posisi atau mundur demi memperoleh pengalaman baru.
Artinya, ada pergeseran arti tentang loyalitas. Bukan berarti mereka tidak setia, melainkan generasi sekarang punya definisi yang berbeda.
3. Loyalitas tetap penting

Ilustrasi kerja keras (pexels.com/ Andrea Piacquadio) Loyalitas tetaplah penting, tetapi perusahaan juga perlu menyediakan lingkungan yang bisa membuat orang ingin bertahan. Dilansir Deloitte, riset yang mereka lakukan pada 2025 silam, menyebut bahwa uang, makna, dan kesejahteraan merupakan tiga hal yang menentukan kepuasan kerja seseorang.
Tiga hal tersebut merupakan kunci bagi perusahaan untuk bisa meningkatkan keterlibatan pekerja di dalamnya. Data survei yang mereka lakukan menunjukkan bahwa gen Z banyak meninggalkan pekerjaan yang dianggap tidak bisa memberikan makna atau tidak sesuai dengan nilai mereka.
Dengan begitu, memang loyalitas tidak bisa diukur hanya dari kesetiaan saja. Pengalaman kerja yang sehat dan kesempatan untuk berkembang merupakan faktor-faktor yang juga memengaruhi orang untuk bertahan di perusahaan.
Pada akhirnya, loyalitas bukanlah hal yang bisa dianggap remeh sekarang. Dulu, seseorang mungkin bisa bertahan puluhan tahun di perusahaan tempatnya bekerja. Sekarang, dinamika pekerja sangatlah berbeda. Ada banyak hal yang mereka pertimbangkan untuk bisa mencapai titik karier yang ideal.






















