ilustrasi pelajar SMK (pexels.com/Thành Đỗ)
Namun di balik itu, kemunculan AI tentunya menimbulkan kekhawatiran terhadap perilaku penggunanya, di mana intensitas penggunaan AI dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritits pelajar. Journal Research and Education Studies menyebutkan, bahwa ketergantungan akan penggunaan AI dinilai dapat menggerus proses intelektual yang seharusnya dilakukan melalui literasi, menalar, dan menyusun argument secara mandiri.
Peranan AI yang mempermudah pekerjaan juga beresiko mereduksi motivasi para pelajar untuk berpikir secara mandiri. Pada konteks ini, kehadiran AI tidak lagi hanya sebagai alat “bantu”, tetapi dapat dikatakan menjadi “pengganti” proses berpikir.
Melalui artikel dari New Collage Board (2026) yang membahas mengenai "Faculty Express Near-Universal Concern That Student AI Use Undermines Original Writing and Critical Thinking" menyebutkan, bahwa lebih dari 84 persen menyetujui bahwa AI bisa mengurangi kemampuan berpikir kritis, mempengaruhi originalitas akan hasil kerja, keterlibatan mendalam pelajar terhadap materi. Sementara, sebanyak 88 persen merasa khawatir akan ketergantungan yang berlebih terhadap otomatisasi atau kemudahan.
Ketergantungan terhadap AI dapat memengaruhi kepercayaan diri dalam menyelesaikan pekerjaan secara mandiri. Intensitas penggunaan AI yang berlebihan juga berpotensi mengurangi kemampuan pelajar dalam berpikir kritis dan menganalisis suatu permasalahan.
Pelajar cenderung mengandalkan jawaban yang diberikan AI tanpa melakukan proses evaluasi atau verifikasi terhadap informasi tersebut. Akibatnya, kemampuan untuk menyusun argumen, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan secara mandiri dapat menurun. Oleh karena itu, penggunaan AI perlu diimbangi dengan keterlibatan aktif pelajar dalam memahami materi dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.