Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kamu Animal Lover? 7 Buku Ini Bisa Ubah Cara Pandangmu

Kamu Animal Lover? 7 Buku Ini Bisa Ubah Cara Pandangmu
ilustrasi baca buku dengan hewan peliharaan (pexels.com/www.kaboompics.com)
Intinya Sih
  • Artikel ini merekomendasikan tujuh buku nonfiksi yang mengajak pembaca memahami perilaku, emosi, dan kecerdasan hewan dari perspektif ilmiah maupun pengalaman pribadi para penulisnya.
  • Setiap buku menyoroti spesies berbeda—dari anjing, kucing, ayam, hingga gurita—untuk menunjukkan bahwa hewan memiliki cara berpikir dan berinteraksi yang kompleks serta layak dihargai.
  • Melalui kisah dan riset para ahli seperti Frans de Waal dan Sy Montgomery, artikel menegaskan pentingnya empati manusia terhadap kehidupan hewan di bumi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Menyayangi hewan bukan sekadar memberi makan atau mengajak mereka bermain. Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa hewan memiliki cara berkomunikasi, membangun hubungan sosial, hingga mengekspresikan emosi yang jauh lebih kompleks daripada yang selama ini kita bayangkan. Karena itulah, memahami dunia hewan bisa menjadi pengalaman yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga membuka perspektif baru tentang kehidupan.

Kalau kamu mengaku sebagai animal lover, ada banyak buku nonfiksi yang layak masuk daftar bacaan. Buku-buku ini ditulis oleh ilmuwan, naturalis, hingga jurnalis yang menghabiskan bertahun-tahun mengamati perilaku berbagai spesies—mulai dari kucing, anjing, ayam, burung, hingga gurita. Selain menambah wawasan, buku-buku berikut juga bisa membuatmu semakin menghargai makhluk hidup yang berbagi planet ini bersama manusia. Yuk, kita telusuri!

1. The Hidden Life of Dogs karya Elizabeth Marshall Thomas

cover buku The Hidden Life of Dogs
cover buku The Hidden Life of Dogs (amazon.com)

Anjing dikenal sebagai sahabat terbaik manusia, tetapi seberapa jauh kita benar-benar memahami mereka? Dalam The Hidden Life of Dogs, antropolog Elizabeth Marshall Thomas mengajak pembaca melihat kehidupan anjing dari sudut pandang yang berbeda. Berdasarkan pengamatan selama bertahun-tahun terhadap anjing-anjing yang hidup di sekitarnya, ia menunjukkan bahwa mereka memiliki struktur sosial, cara berkomunikasi, hingga dinamika keluarga yang jauh lebih rumit daripada dugaan banyak orang.

Buku ini tidak dipenuhi istilah ilmiah yang membingungkan. Sebaliknya, Thomas menyampaikan berbagai temuannya melalui kisah-kisah yang hangat dan mudah diikuti. Pembaca diajak memahami alasan di balik perilaku anjing, mulai dari cara mereka menyapa sesama, menentukan hierarki kelompok, hingga menunjukkan kasih sayang kepada manusia.

Kalau kamu memelihara anjing, buku ini akan membantumu memahami bahasa tubuh dan kebutuhan emosional mereka. Bahkan jika tidak memiliki anjing sekalipun, kisah-kisah di dalamnya tetap mampu mengubah cara pandang tentang kecerdasan sosial salah satu hewan paling dekat dengan manusia.

2. The Trainable Cat karya John Bradshaw dan Sarah Ellis

cover buku The Trainable Cat
cover buku The Trainable Cat (amazon.com)

Masih banyak orang percaya bahwa kucing tidak bisa dilatih karena sifatnya yang mandiri. Anggapan tersebut dipatahkan oleh John Bradshaw dan Sarah Ellis melalui The Trainable Cat. Dengan memadukan ilmu perilaku hewan dan pengalaman bertahun-tahun mempelajari kucing domestik, keduanya menunjukkan bahwa kucing sebenarnya mampu belajar berbagai kebiasaan baru jika didekati dengan metode yang tepat.

Buku ini membahas banyak hal, mulai dari alasan kucing mencakar sofa, takut pada tamu, sulit masuk kandang, hingga cara mengurangi stres ketika berpindah lingkungan. Semua dijelaskan berdasarkan riset ilmiah, bukan sekadar mitos yang beredar di kalangan pemilik kucing.

Yang menarik, buku ini tidak bertujuan membuat kucing menjadi "penurut", melainkan membantu manusia memahami kebutuhan alami mereka. Dengan begitu, hubungan antara pemilik dan kucing bisa menjadi lebih harmonis dan saling menghargai.

3. How to Speak Chicken karya Melissa Caughey

cover buku How to Speak Chicken
cover buku How to Speak Chicken (amazon.com)

Ayam sering dianggap sebagai hewan ternak biasa. Padahal, Melissa Caughey menunjukkan bahwa unggas ini memiliki kepribadian, kebiasaan, bahkan cara berkomunikasi yang sangat beragam. Melalui How to Speak Chicken, pembaca diajak mengenali bahasa tubuh, suara, dan perilaku ayam dalam kehidupan sehari-hari.

Caughey menjelaskan bahwa ayam dapat mengenali individu lain, membangun persahabatan, mengingat pengalaman buruk, hingga menunjukkan rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya. Semua kisah tersebut disampaikan dengan gaya yang ringan sehingga mudah dipahami, bahkan oleh pembaca yang belum pernah memelihara ayam.

Buku ini juga memberikan banyak tips praktis mengenai cara merawat ayam agar tetap sehat dan nyaman. Setelah membacanya, kamu mungkin akan melihat ayam bukan lagi sekadar hewan ternak, melainkan makhluk hidup dengan karakter unik yang layak dipahami.

4. Are We Smart Enough to Know How Smart Animals Are? karya Frans de Waal

cover buku Are We Smart Enough to Know How Smart Animals Are?
cover buku Are We Smart Enough to Know How Smart Animals Are? (amazon.com)

Bagaimana cara mengukur kecerdasan seekor hewan? Apakah hewan dianggap pintar jika mampu melakukan hal yang sama seperti manusia? Dalam buku ini, primatolog Frans de Waal mengkritik cara berpikir tersebut. Menurutnya, setiap spesies memiliki bentuk kecerdasan yang berkembang sesuai kebutuhan hidupnya masing-masing.

Melalui berbagai hasil penelitian, de Waal mengajak pembaca mengenal kemampuan luar biasa simpanse, burung gagak, gajah, lumba-lumba, gurita, hingga anjing. Ada yang mampu menggunakan alat, mengenali wajah, menyelesaikan masalah rumit, bahkan bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Buku ini sangat cocok bagi pencinta hewan yang ingin memahami, bahwa kecerdasan tidak selalu berarti mampu berpikir seperti manusia. Justru keberagaman cara setiap spesies beradaptasi menunjukkan betapa menakjubkannya evolusi kehidupan di Bumi.

5. Mama's Last Hug karya Frans de Waal

cover buku Mama's Last Hug
cover buku Mama's Last Hug (amazon.com)

Apakah hewan bisa bersedih? Bisakah mereka merasakan empati atau kehilangan? Melalui kisah seekor simpanse betina bernama Mama, Frans de Waal mengajak pembaca menyelami dunia emosi hewan dalam Mama's Last Hug. Buku ini memadukan hasil penelitian ilmiah dengan kisah nyata yang menyentuh hati.

De Waal menjelaskan bahwa berbagai spesies mamalia mampu menunjukkan kasih sayang, kecemburuan, rasa malu, hingga perilaku menghibur anggota kelompok yang sedang mengalami kesedihan. Temuan-temuan tersebut menantang anggapan lama bahwa emosi kompleks hanya dimiliki manusia.

Selain memperluas wawasan, buku ini juga mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan spesies lain. Semakin kita memahami bahwa hewan juga memiliki kehidupan emosional, semakin besar pula rasa hormat yang muncul terhadap mereka.

6. Beyond Words: What Animals Think and Feel karya Carl Safina

cover buku Beyond Words: What Animals Think and Feel
cover buku Beyond Words: What Animals Think and Feel (amazon.com)

Dalam Beyond Words, ekolog Carl Safina mengajak pembaca mengikuti perjalanan ke berbagai belahan dunia untuk mengamati kehidupan gajah, serigala, paus, dan lumba-lumba. Melalui observasi lapangan dan dukungan berbagai penelitian ilmiah, Safina menunjukkan bahwa banyak spesies memiliki ikatan keluarga yang kuat, kemampuan bekerja sama, bahkan proses berduka ketika kehilangan anggota kelompok.

Keunggulan buku ini terletak pada cara Safina memadukan ilmu pengetahuan dengan narasi yang hangat. Pembaca tidak hanya mendapatkan fakta-fakta ilmiah, tetapi juga diajak merasakan pengalaman emosional saat menyaksikan kehidupan satwa liar dari dekat.

Bagi pencinta mamalia liar, buku ini menawarkan perspektif yang sangat berharga. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk yang mampu mencintai, melindungi keluarga, atau merasakan kehilangan.

7. The Soul of an Octopus karya Sy Montgomery

cover buku The Soul of an Octopus
cover buku The Soul of an Octopus (amazon.com)

Gurita mungkin bukan hewan peliharaan yang umum, tetapi kecerdasannya membuat banyak ilmuwan terpukau. Dalam The Soul of an Octopus, Sy Montgomery menceritakan pengalamannya berinteraksi langsung dengan berbagai gurita di akuarium sambil mengulas hasil-hasil penelitian terbaru tentang kemampuan mereka.

Buku ini mengungkap bahwa gurita mampu memecahkan teka-teki, mengenali manusia, belajar dari pengalaman, bahkan menunjukkan rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan sistem saraf yang sangat berbeda dari mamalia, gurita menjadi bukti bahwa kecerdasan dapat berevolusi dalam bentuk yang sama sekali berbeda.

Lewat perpaduan sains dan kisah personal, Montgomery mengajak pembaca melihat dunia laut dengan cara yang lebih penuh empati. Setelah menutup buku ini, sulit rasanya memandang gurita hanya sebagai hewan laut biasa.

Menjadi pencinta hewan berarti terus belajar memahami kehidupan mereka, bukan sekadar mengaguminya dari kejauhan. Ketujuh buku di atas menunjukkan bahwa setiap spesies memiliki cara berpikir, berkomunikasi, dan merasakan dunia yang unik. Semakin banyak kita mengenal mereka, semakin besar pula rasa hormat terhadap kehidupan dalam segala bentuknya. Siapa tahu, buku berikutnya yang kamu baca justru membuatmu semakin jatuh cinta pada dunia hewan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More