Notifikasi Erupsi Bikin Cemas? Kenali 4 Cara Atasi Disaster Anxiety

- Notifikasi dan paparan berita bencana berulang dapat memicu disaster anxiety, ditandai jantung berdebar, sulit tidur, curiga pada suara kecil, hingga doomscrolling.
- Batasi konsumsi berita bencana pada sumber resmi, lalu bedakan kesiapsiagaan rasional—seperti mengetahui jalur evakuasi—dengan kepanikan akibat informasi tanpa konteks.
- Saat kecemasan muncul, lakukan grounding 5-4-3-2-1 dan alihkan energi lewat aktivitas fisik seperti jalan santai, menyiram tanaman, atau yoga.
#LYF Kenapa Notifikasi Erupsi Bikin Ovt? Kenali Gejala Disaster Anxiety dan Cara Mengatasinya
Pernah gak saat kamu sedang santai, tiba-tiba muncul notifikasi berita erupsi gunung berapi yang bikin jantung langsung berdegup kencang? Situasi horor seperti ini pasti sering bikin kamu mendadak overthinking, apalagi kalau algoritma terus-menerus mencekokimu dengan visual awan pana atau info gempa bumi. Padahal, jarak tempat tinggalmu mungkin ribuan kilometer dari lokasi kejadian, tapi rasa cemasnya justru terasa begitu nyata di kepala.
Fenomena ini bukan cuma sekadar panik sesaat, melainkan sebuah sinyal bahwa mentalmu sedang merespons gejala disaster anxiety yang bikin kamu cemas. Kalau rasa cemas ini dibiarkan terus-menerus, kesehatan mentalmu bakal kedodoran dan bikin hari-harimu terasa penuh beban, lho. Kamu mungkin jadi susah tidur, gampang curiga dengan setiap suara gemuruh kecil di luar rumah, atau bahkan mengalami doomscrolling tanpa sadar sampai tengah malam. Yuk, kenali tanda-tanda dan langkah penyelamatannya biar kamu gak gampang tumbang secara emosional!
1. Batasi waktu scroll berita bencana di media sosial

ilustrasi batasi scroll media sosial agar kesehatan mental terjaga (pexels.com/Ivan S) Terlalu sering memantau linimasa atau grup percakapan yang penuh dengan video dramatis erupsi atau gempa bumi justru bakal bikin sistem sarafmu terus berada dalam mode siaga tinggi. Otak manusia pada dasarnya gak didesain untuk menyerap informasi bencana secara masif dan terus-menerus dari seluruh penjuru negeri dalam satu waktu. Saat kamu terus menerus melihat hal tersebut, hormon kortisol pemicu stres akan melonjak drastis dan membuat kecemasanmu semakin tak terkendali.
Jadi, cobalah tetapkan batasan waktu khusus, misalnya hanya mengecek berita resmi sekali sehari di pagi atau sore hari, ya. Membatasi diri dari paparan informasi yang berlebihan bukan berarti kamu menjadi orang yang acuh tak acuh atau gak peduli dengan keselamatan sesama, kok. Ini murni soal self-care agar mentalmu gak kehabisan energi untuk memproses rasa takut yang sebenarnya belum tentu terjadi di dekatmu.
2. Kenali dan bedakan antara waspada rasional serta panik buta

ilustrasi orang yang sedang panik (pexels.com/SHVETS production) Saat membaca kabar erupsi atau gempa bumi, penting sekali untuk menarik napas dalam-dalam dan mencerna informasi tersebut menggunakan logika yang jernih. Waspada yang sehat itu artinya kamu tahu jalur evakuasi dan menyiapkan dokumen penting, bukan malah membayangkan skenario terburuk seperti kisah di film fiksi ilmiah Hollywood. Panik berlebihan justru sering mengaburkan kemampuan berpikir rasional kamu dalam mengambil keputusan yang tepat saat situasi darurat benar-benar terjadi. Sadari bahwa rasa takut itu wajar, tapi jangan biarkan rasa takut itu mendikte seluruh hari-harimu, ya.
Mulai sekarang, cobalah untuk selalu memvalidasi fakta dari sumber yang kredibel alih-alih langsung percaya pada potongan video tanpa konteks yang berseliweran di TikTok. Kalau kamu merasa mulai panik, coba tanyakan pada diri sendiri: "Apakah informasi ini benar-benar berdampak langsung padaku saat ini juga atau gak?" Intinya, jadilah pengamat yang bijak, bukan penonton setia drama kecemasan yang diciptakan oleh algoritma media sosial, ya.
3. Lakukan teknik grounding untuk kembalikan fokus ke masa kini

ilustrasi teknik grounding (pexels.com/Екатерина Матвеева) Ketika pikiranmu mulai melayang jauh membayangkan dampak bencana yang menyeramkan, teknik grounding bisa jadi penyelamat instan buat mentalmu. Metode ini bekerja dengan cara mengembalikan fokus panca indramu ke lingkungan fisik yang ada di sekitarmu saat ini juga. Kamu bisa mencoba teknik sederhana 5-4-3-2-1, yaitu mencari lima benda di sekitar, empat hal yang bisa disentuh, tiga suara yang bisa didengar, dua bau yang bisa dicium, dan satu rasa yang bisa dikecap.
Latihan kecil ini kelihatannya sepele dan agak nyeleneh, tapi efeknya dapat mengalihkan sinyal bahaya palsu di otak dan mengajakmu kembali ke realitas yang aman. Jadi, pas kamu mulai merasa cemas gara-gara baca notifikasi berita, jangan ragu buat berdiri sebentar dan meraba meja kerja atau mencium aroma teh hangatmu. Ini jadi cara paling sportif buat bilang ke otakmu, "Hei, gak usah ikut panik, ya."
4. Alihkan energi cemas lewat aktivitas fisik yang menyenangkan

ilustrasi jalan santai dengan teman (pexels.com/Keira Burton) Rasa cemas yang menumpuk di dalam tubuh butuh saluran keluar yang positif agar gak berubah menjadi psikosomatis atau gangguan fisik beneran. Daripada duduk melingkar sambil terus-menerus menyegarkan halaman berita demi memantau status gunung berapi, lebih baik gunakan energi itu untuk bergerak. Aktivitas fisik, seperti jalan santai, menyiram tanaman, atau yoga, terbukti bisa membantu membakar hormon stres sekaligus melepaskan endorfin yang bikin suasana hatimu jadi jauh lebih baik.
Guys, bergerak aktif menjadi bentuk perlawanan paling elegan terhadap kecemasan digital yang siap menerkam kapan saja di sela-sela kesibukanmu. Kalau kamarnya rapi dan badannya segar, setidaknya ada satu hal terkecil di dunia ini yang berhasil kamu kendalikan di tengah ketidakpastian.
Mengelola gejala disaster anxiety dan cara mengatasinya memang butuh konsistensi, tapi kesehatan mentalmu jadi aset paling berharga yang harus dijaga. Tetaplah waspada secara bijak tanpa harus membiarkan rasa takut merusak hari-harimu yang penuh potensi, ya. Kamu jauh lebih kuat dari apa yang kamu pikirkan, kok!
















![[QUIZ] Kuis Gambar Ini Mengajakmu Bertemu Versi Diri yang Jarang Kamu Tahu](https://image.idntimes.com/post/20241123/1000057145-99a83272f9010317982b89aac9ec1a00-0da7b57139fb8b9226d593906627b377.jpg)




