Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IDN Times Xplore (Tim Aksara_SMKN 4 Surabaya)

Halo, para pelajar Nusantara!

Kami dari tim DIGSP4T dari SMK Negeri 4 Surabaya, dengan penuh antusias dan semangat, mempersembahkan karya mading digital yang membahas Perundungan Bukan Tradisi, berfokus pada bahaya Cyberbullying yang sangat rawan melanda para remaja Gen Z.

Di balik layar ruang digital, interaksi media sosial, hingga aktivitas dalam komunitas, terdapat banyak ruang yang tanpa disadari kerap menjadi celah bagi tindakan perundungan siber. Melalui karya ini, kami ingin menyuarakan bahwa dunia digital seharusnya menjadi wadah yang aman untuk berekspresi, saling mendukung, dan menemukan kekuatan bersama, bukan tempat untuk saling menjatuhkan.

Tim redaksi kami terdiri dari:

• Guru Pendamping: Muhammad Najmul Falakh, S. Pd

• Penulis: Felisa Elina Karenza & Lubna Baiti

• Desainer Visual: Lifqa Nur Cahyani Fakhira & Fitri Siva Andini

• Fotografer: Dian Puspita Ayu Ramadhani

• Videografer: Muchammad Haedar Ramadhan

Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan dari redaksi IDN Times.

Esai

IDN Times Xplore (Tim Aksara_SMKN 4 Surabaya)

Di era transformasi digital, ruang interaksi remaja telah bergeser ke dunia maya. Namun, pergeseran ini membawa dampak negatif berupa maraknya perundungan siber atau c𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨. Berbeda dengan perundungan fisik, c𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 tidak mengenal batas ruang dan waktu sehingga bisa meneror korban selama 24 jam penuh, baik melalui media sosial, aplikasi pesan singkat, hingga platform game online.

𝘊𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 di kalangan pelajar sering kali bermanifestasi dalam bentuk yang beragam, mulai dari pelecehan verbal di kolom komentar, penyebaran rumor palsu (hoax), pengucilan dari grup daring, hingga pembuatan akun palsu untuk menjatuhkan reputasi seseorang. Dampak psikologisnya sangat fatal, memicu kecemasan, depresi, hingga penurunan drastis pada prestasi akademik siswa. Banyak pelaku yang tidak menyadari bahwa ketikan jari mereka di balik layar gawai memiliki daya hancur yang sama besarnya dengan kekerasan fisik. Oleh karena itu, diperlukan sebuah media edukasi yang tidak sekadar melarang, melainkan mampu mengalihkan energi digital siswa ke arah yang lebih positif dan inklusif.

Melalui Program Mading Digital di dalam gerakan AKSARA, ruang digital yang tadinya rentan menjadi tempat perundungan diubah menjadi panggung kreativitas. Mading digital ini berfungsi sebagai pusat informasi interaktif yang mudah diakses oleh seluruh siswa kapan saja dan di mana saja. Di dalam 𝘱𝘭𝘢𝘵𝘧𝘰𝘳𝘮 ini, siswa memproduksi dan mengonsumsi berbagai konten. Melalui gerakan AKSARA (Aksi Kreatif Siswa Suarakan Anti Perundungan Nusantara) hadir dengan inovasi konkret, yaitu sebuah wadah edukasi kreatif yang dirancang khusus untuk memutus rantai cyberbullying langsung dari akarnya. Antara lain, seperti:

• Infografis Literasi Digital: Menyajikan panduan praktis mengenai cara menyaring informasi, pentingnya menjaga privasi data, serta etika berkomentar di media sosial.

• Cerpen Digital : Menggambarkan realitas dampak buruk 𝘤𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 dari sudut pandang korban, guna mengetuk empati dan kesadaran emosional pembaca.

• Video Pendek: Berisi drama sudut pandang korban atau edukasi kreatif yang mengulas langkah hukum dan psikologis yang bisa diambil jika siswa menjadi korban atau saksi 𝘤𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨.

Kekuatan utama dari program Mading Digital AKSARA ini terletak pada pendekatan edukasi teman sebaya (peer-to-peer education). Remaja cenderung lebih terbuka terhadap pesan yang disampaikan dengan bahasa dan gaya penulisan khas generasi mereka sendiri. Ketika para kreator konten sekolah aktif menyuarakan pesan perdamaian, mereka secara tidak langsung sedang membentuk norma sosial baru di lingkungan sekolah: bahwa merundung orang lain secara daring bukanlah hal yang keren, melainkan tindakan pengecut yang merugikan.

Program Mading Digital di dalam gerakan AKSARA merupakan senjata kreatif yang sangat relevan untuk melawan 𝘤𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨. Dengan menyediakan wadah bagi siswa untuk terus memproduksi konten edukatif, AKSARA berhasil mengubah ponsel pintar dari alat yang berpotensi menyakiti menjadi alat yang menyembuhkan dan menginspirasi. Melalui kreativitas digital ini, siswa-siswi Nusantara bersama-sama membangun ekosistem internet yang lebih sehat, aman, dan penuh empati.

Ruang Kreasi [Cerpen]

IDN Times Xplore (Tim Aksara_SMKN 4 Surabaya)
IDN Times Xplore (Tim Aksara_SMKN 4 Surabaya)

Ruang Kreasi [Foto Bercerita]

IDN Times Xplore (Tim Aksara_SMKN 4 Surabaya)
IDN Times Xplore (Tim Aksara_SMKN 4 Surabaya)

Ruang Kreasi [Infografik]

IDN Times Xplore (Tim Aksara_SMKN 4 Surabaya)

Rubrik Diskusi 1 [BioFarma]

IDN Times Xplore (Tim Aksara_SMKN 4 Surabaya)

Rubrik Diskusi 2 [Bukit Asam]

IDN Times Xplore (Tim Aksara_SMKN 4 Surabaya)

Demikian karya mading digital dari tim DIGSP4T yang kami persembahkan sebagai bentuk kepedulian dan ajakan untuk bersama-sama melawan perundungan, khususnya cyberbullying di kalangan remaja. Kami berharap karya ini dapat membuka kesadaran bahwa setiap kata, komentar, dan tindakan di dunia digital memiliki dampak bagi orang lain.

Mari jadikan ruang digital sebagai tempat yang aman, positif, dan penuh inspirasi. Berani bersuara, saling menghargai, dan berhenti menjadikan perundungan sebagai hal yang dianggap biasa.

Karena dunia digital seharusnya menghubungkan, bukan menjatuhkan.

Salam hangat, Tim Digsp4t — SMK Negeri 4 Surabaya

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article