IDN Times Xplore (Tim Aksara_SMKN 4 Surabaya)
Di era transformasi digital, ruang interaksi remaja telah bergeser ke dunia maya. Namun, pergeseran ini membawa dampak negatif berupa maraknya perundungan siber atau c𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨. Berbeda dengan perundungan fisik, c𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 tidak mengenal batas ruang dan waktu sehingga bisa meneror korban selama 24 jam penuh, baik melalui media sosial, aplikasi pesan singkat, hingga platform game online.
𝘊𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 di kalangan pelajar sering kali bermanifestasi dalam bentuk yang beragam, mulai dari pelecehan verbal di kolom komentar, penyebaran rumor palsu (hoax), pengucilan dari grup daring, hingga pembuatan akun palsu untuk menjatuhkan reputasi seseorang. Dampak psikologisnya sangat fatal, memicu kecemasan, depresi, hingga penurunan drastis pada prestasi akademik siswa. Banyak pelaku yang tidak menyadari bahwa ketikan jari mereka di balik layar gawai memiliki daya hancur yang sama besarnya dengan kekerasan fisik. Oleh karena itu, diperlukan sebuah media edukasi yang tidak sekadar melarang, melainkan mampu mengalihkan energi digital siswa ke arah yang lebih positif dan inklusif.
Melalui Program Mading Digital di dalam gerakan AKSARA, ruang digital yang tadinya rentan menjadi tempat perundungan diubah menjadi panggung kreativitas. Mading digital ini berfungsi sebagai pusat informasi interaktif yang mudah diakses oleh seluruh siswa kapan saja dan di mana saja. Di dalam 𝘱𝘭𝘢𝘵𝘧𝘰𝘳𝘮 ini, siswa memproduksi dan mengonsumsi berbagai konten. Melalui gerakan AKSARA (Aksi Kreatif Siswa Suarakan Anti Perundungan Nusantara) hadir dengan inovasi konkret, yaitu sebuah wadah edukasi kreatif yang dirancang khusus untuk memutus rantai cyberbullying langsung dari akarnya. Antara lain, seperti:
• Infografis Literasi Digital: Menyajikan panduan praktis mengenai cara menyaring informasi, pentingnya menjaga privasi data, serta etika berkomentar di media sosial.
• Cerpen Digital : Menggambarkan realitas dampak buruk 𝘤𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 dari sudut pandang korban, guna mengetuk empati dan kesadaran emosional pembaca.
• Video Pendek: Berisi drama sudut pandang korban atau edukasi kreatif yang mengulas langkah hukum dan psikologis yang bisa diambil jika siswa menjadi korban atau saksi 𝘤𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨.
Kekuatan utama dari program Mading Digital AKSARA ini terletak pada pendekatan edukasi teman sebaya (peer-to-peer education). Remaja cenderung lebih terbuka terhadap pesan yang disampaikan dengan bahasa dan gaya penulisan khas generasi mereka sendiri. Ketika para kreator konten sekolah aktif menyuarakan pesan perdamaian, mereka secara tidak langsung sedang membentuk norma sosial baru di lingkungan sekolah: bahwa merundung orang lain secara daring bukanlah hal yang keren, melainkan tindakan pengecut yang merugikan.
Program Mading Digital di dalam gerakan AKSARA merupakan senjata kreatif yang sangat relevan untuk melawan 𝘤𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨. Dengan menyediakan wadah bagi siswa untuk terus memproduksi konten edukatif, AKSARA berhasil mengubah ponsel pintar dari alat yang berpotensi menyakiti menjadi alat yang menyembuhkan dan menginspirasi. Melalui kreativitas digital ini, siswa-siswi Nusantara bersama-sama membangun ekosistem internet yang lebih sehat, aman, dan penuh empati.