“Dih, ngapain baca novel, gak ada bobotnya. Banyak buku non-fiksi atau filsafat yang bikin kamu pintar.”
Membaca Bukan Lomba, Kenapa Selera Buku Suka Diadu?

Bookshaming membuat selera bacaan dibandingkan dan dapat membuat seseorang merasa malu atau bersalah atas buku yang dibaca.
Buku kerap dipandang sebagai simbol intelektualitas, identitas, dan posisi sosial seseorang.
Perbedaan motivasi membaca menunjukkan bahwa hiburan, pembelajaran, dan manfaat membaca tidak hanya terkait satu genre.
Mungkin kalimat semacam itu pernah terdengar telingamu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang-orang Indonesia punya kemampuan membaca yang rendah berdasarkan skor PISA. Ditambah lagi dengan istilah baru yang dikenal sebagai bookshaming, tindakan seseorang yang merendahkan atau mempermalukan orang lain berdasarkan genre bacaan mereka.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) sudah keluar pada tahun 2026 lalu. Hasilnya tidak jauh berbeda dengan skor PISA sebelumnya, yang berarti skor Indonesia masih jauh di bawah target. Secara skor rata-rata, nilainya masih di bawah rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Skor PISA 2025 menunjukkan bahwa nilai kemampuan membaca mengalami sedikit perbaikan. Ada sedikit peningkatan tetapi gak bisa menyatakan bahwa kemampuan literasi masyarakat Indonesia mulai membaik. Nyatanya, hanya ada 27 persen siswa Indonesia yang mencapai tingkat kecakapan minimum (level 2 atau lebih) dibandingkan rata-rata OECD sebesa 69 persen.
Ironinya, di tengah rendahnya minat baca justru muncul perdebatan tentang buku mana yang bagus dan jelek atau bacaan apa yang dianggap lebih “bernilai”. Padahal, bukankah setiap orang punya pandangan dan selera masing-masing? Lantas, mengapa selera buku saja diadu?
1. Buku jadi simbol intelektualitas

ilustrasi buku dan sticky notes (pexels.com/Book Hut) Bukan sekadar jendela dunia. Bagi sebagian orang, buku menjadi simbol intelektualitas yang mencerminkan kecerdasan seseorang. Gak heran apabila ada yang mengategorikan buku menjadi buku bagus atau buku yang dipandang “berbobot”. Padahal, setiap genre memiliki nilai dan manfaatnya masing-masing.
Dilansir Marketing Interactive, buku menjadi simbol gaya terbaru, suatu hal yang bisa dipamerkan. Di era serba AI, orang yang punya dan membaca buku menjadi istimewa. Orang-orang mulai banyak beralih untuk membaca karena kelelahan dengan segala konten sementara buku menawarkan pengalaman yang berbeda.
Sebabnya, buku juga bisa dibilang simbol intelektualitas. Ada pergeseran pandangan dari buku yang semula dianggap biasa saja menjadi suatu hal yang mewah. Kenapa? Buku menawarkan nilai yang jauh lebih besar tentang ide, keresahan, referensi, dan apa yang diharapkan masyarakat.
“Konsumen saat ini tidak hanya membeli produk; mereka membeli sebuah pandangan dunia,” kata Koo Sok Hoon, Direktur Marketing di Shangri-La Singapore kepada Marketing Interactive.
Pilihan bacaan seseorang gak sepenuhnya netral. Apa yang mereka baca sebenarnya ikut membentuk identitas dan posisi sosial seseorang. Ini dijelaskan lewat teori Cultural Capital yang dipopulerkan oleh Pierre Bourdieu, dikutip dalam Simply Psychology.
Ia menjelaskan bahwa ada beberapa modal budaya atau aset-aset non finansial yang sebenarnya memengaruhi status dan peluang seseorang dalam bermasyarakat. Aset-aset ini gak cuma menggambarkan kekayaan tapi bagaimana intelektualitas seseorang.
Misalnya, seseorang yang mengoleksi buku langka atau rekaman musik klasik bisa memproyeksikan kesan sosok yang cerdas, berkelas, dan berada di lingkungan elit. Begitu juga dengan akses terhadap buku, secara signifikan meningkatkan perkembangan intelektual seseorang.
2. Ada fenomena bookshaming

ilustrasi buku di meja (pexels.com/Yusuf Çelik) Bookshaming juga salah satu alasan kenapa selera kerap dibanding-bandingkan. Secara harafiah menurut Urban Dictonary, bookshaming merupakan perilaku yang membuat seseorang merasa malu dan merasa bersalah tentang buku yang mereka baca.
Gak cuma bodyshaming, bookshaming juga masih ada sampai sekarang. Tiap orang punya selera atau kesukaannya masing-masing terhadap buku yang mereka baca. Namun, terkadang respons mereka terhadap buku yang dibaca orang lain terkesan menyudutkan sehingga disebut bookshaming.
Bodyshaming bisa membuat seseorang tidak percaya diri, begitu juga dengan bookshaming. Salah satu riset yang dilakukan oleh mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga (2020) meneliti komunitas pecinta buku di Yogyakarta. Bentuk bookshaming yang ditemukan antara lain fanatisme pada penulis tertentu, merasa paling paham tafsir isi buku, memberi stigma, dan anggapan bahwa membaca buku bukan aktivitas penting.
3. Ada perbedaan motivasi membaca

Ilustrasi membaca buku. (pexels.com/Shvets Production) Perdebatan tentang selera terhadap buku bisa disebabkan oleh perbedaan motivasi membaca. Tidak semua orang punya tujuan yang sama. Sama halnya dengan selera terhadap genre buku yang dipilih.
Ada orang-orang yang memang ingin mencari hiburan, melepas penat, dan menikmati cerita-cerita yang menantang. Namun, ada pula orang-orang yang sangat tertarik belajar dan berpikir. Ketika standar mereka masing-masing disamaratakan dengan orang lain, maka selera pun akhirnya diadu.
Dilansir Psychology Today, pembaca fiksi naratif yang sering membaca mendapat skor empati dan kecakapan sosial lebih tinggi daripada pembaca nonfiksi. Kabar baiknya, sains tidak berpihak pada satu genre saja.
Peneliti Universitas Cambridge dalam tinjauan di Psychological Medicine (2026) menyebut membaca untuk kesenangan sudah membawa manfaat besar, apa pun bacaannya. Sebenarnya, belum ada data ilmiah yang menunjukkan satu genre dianggap lebih berbobot daripada genre yang lain.












![[MADING] Air Mata Di Balik Tawa: Perundungan Fisik di Sekolah](https://image.idntimes.com/post/20261103/img-20261101-wa0038_c8ed136a-789d-4717-87fe-39eeac197029.jpeg)









