Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Aksi Demonstrasi Perlu Menggunakan Simbol Tertentu?

4 min read
Apakah Aksi Demonstrasi Perlu Menggunakan Simbol Tertentu?
Simbol tiga jari yang ikut mewarnai aksi demo 28 Oktober 2026 #IndonesiaSadar di Bunderan HI. (Dokumentasi Istimewa)
  • Simbol membantu demonstran membangun identitas bersama dan memperkuat solidaritas, termasuk melalui ekspresi visual di ruang digital.

  • Bahasa visual dapat merangkum keresahan, ketidakadilan, dan tuntutan perubahan yang sulit disampaikan lewat satu kalimat atau orasi panjang.

  • Simbol juga membawa perjuangan kelompok tertentu ke ruang publik, seperti isu masyarakat adat di Papua Selatan melalui salib merah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayangkan kamu berada di tengah kerumunan demonstran. Di sekelilingmu, orang-orang mengangkat tangan dengan tiga jari terbuka. Sebagian membawa poster dengan kombinasi warna hijau, biru, dan merah. Ada pula yang menggunakan gambar atau tanda tertentu untuk menyampaikan pesan. Menariknya, orang-orang yang mungkin gak saling mengenal itu bisa memahami bahwa mereka sedang menyuarakan keresahan yang sama melalui simbol-simbol tersebut.

Dalam aksi demonstrasi, pesan memang bisa disampaikan melalui orasi, spanduk, dan tuntutan tertulis. Namun, simbol visual juga sering mengambil peran penting dalam menyampaikan aspirasi. Gestur three-finger salute yang terinspirasi dari The Hunger Games, kombinasi tiga warna yang ramai dibicarakan, hingga simbol salib merah yang ramai karena dibawa oleh Persatuan Mahasiswa Katolik RI di demo baru-baru ini. Lantas, mengapa demonstrasi kerap menggunakan simbol tertentu? Apakah keberadaannya memang diperlukan?

  1. 1. Menjadi identitas bersama bagi orang-orang dengan keresahan serupa

    Distrik 11 yang melakukan salam tiga jari di film The Hunger Games
    Distrik 11 yang melakukan salam tiga jari di film The Hunger Games. (thehungergames.fandom.com)

    Ketika banyak orang berkumpul dalam sebuah demonstrasi, mereka belum tentu berasal dari latar belakang, lingkungan, atau kelompok yang sama. Namun, ada keresahan atau tujuan tertentu yang mempertemukan mereka. Dalam situasi ini, simbol dapat menjadi penanda identitas bersama. Seseorang mungkin gak mengenal orang di sebelahnya, tetapi penggunaan simbol yang sama dapat membuat mereka merasa menjadi bagian dari satu gerakan.

    Hal ini dapat dijelaskan melalui konsep collective identity atau identitas kolektif. Dalam kajian psikologi sosial, identitas kelompok membantu individu mengenali dirinya sebagai bagian dari kelompok yang memiliki tujuan atau pengalaman bersama. Penelitian Sarah H. Awad dan Brady Wagoner dalam jurnal Current Opinion in Psychology (2020), berjudul Protest Symbols, juga menjelaskan bahwa simbol dapat membantu membentuk identitas bersama sekaligus memperkuat solidaritas di antara anggota gerakan sosial. Dengan demikian, simbol bukan hanya penanda visual. Simbol juga bisa menjadi representasi dari rasa kebersamaan yang dimiliki para demonstran.

    Menariknya, penggunaan simbol tiga jari (three-finger salute) juga gak berhenti di lokasi demonstrasi. Seiring semakin dikenal, gestur tersebut ikut muncul dalam berbagai unggahan media sosial, ilustrasi digital, poster, hingga desain visual yang digunakan untuk menyuarakan solidaritas. Ketika seseorang mengunggah ilustrasi tiga jari atau menggunakannya sebagai elemen desain, ia turut membawa pesan yang sama ke ruang digital. Simbol yang awalnya digunakan dalam aksi langsung pun dapat berkembang menjadi bagian dari ekspresi kolektif di internet. Bahkan menjangkau orang-orang yang gak hadir secara fisik dalam demonstrasi.

  2. 2. Menyampaikan pesan yang kompleks melalui bahasa visual

    Demo mahasiswa di Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026)
    Demo mahasiswa di Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Chantika)

    Gak semua keresahan sosial mudah dijelaskan melalui satu kalimat atau orasi panjang. Ada persoalan yang melibatkan pengalaman banyak orang, ketidakadilan, hingga tuntutan perubahan yang saling berkaitan. Simbol bisa membantu merangkum berbagai perasaan dan pesan tersebut ke dalam bentuk yang lebih sederhana serta mudah dikenali. Salah satu contohnya adalah three-finger salute yang dikenal melalui novel dan film The Hunger Games.

    Dalam cerita tersebut, gestur tiga jari awalnya digunakan sebagai tanda penghormatan, simpati, dan perpisahan. Seiring berkembangnya cerita, gestur itu berubah menjadi simbol solidaritas dan perlawanan terhadap pemerintahan otoriter Capitol. Di dunia nyata, simbol ini kemudian digunakan dalam sejumlah gerakan pro-demokrasi di Thailand, Myanmar, dan Hong Kong.

    Penelitian Peta M. Freestone, Jessica Kruk, dan Lauren Gawne dalam From Star Trek to The Hunger Games: emblem gestures in science fiction and their uptake in popular culture (2023) menunjukkan bahwa gestur dari karya fiksi tersebut telah berkembang melampaui konteks asalnya dan digunakan sebagai simbol protes lintas budaya. Artinya, sebuah simbol bisa membawa pesan yang lebih luas daripada bentuk visualnya saja.

  3. 3. Menyuarakan perjuangan yang mungkin gak dialami semua orang

    demo trisakti
    Massa demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti (Demo Trisakti) mulai berdatangan ke kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah)

    Simbol dalam demonstrasi juga bisa menjadi cara untuk membawa isu dan perjuangan kelompok tertentu ke ruang publik yang lebih luas. Salah satu contohnya adalah salib merah berukuran besar yang dibawa sejumlah anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dalam aksi demonstrasi. Simbol tersebut bukan sekadar atribut keagamaan, namun merujuk pada perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan dalam mempertahankan tanah dan hutan mereka dari ekspansi proyek berskala besar.

    Salib merah ini terinspirasi dari praktik masyarakat adat di Papua Selatan yang memasang tanda salib di wilayah adat sebagai penanda batas sekaligus bentuk penolakan terhadap perampasan ruang hidup. Praktik tersebut juga ditampilkan dalam film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026), karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale.

    Dalam konteks ini, salib merah menjadi representasi perjuangan mempertahankan tanah, hutan, dan hak masyarakat adat. Penggunaannya dalam demonstrasi turut membawa persoalan yang mungkin belum banyak diketahui publik, sekaligus memperluas perhatian terhadap pengalaman kelompok yang ruang hidupnya terancam.

    Pada akhirnya, simbol dalam demonstrasi bukan sekadar tanda atau atribut visual. Namun menjadi cara untuk menyatukan keresahan, menyampaikan pesan, dan membawa perjuangan tertentu agar lebih banyak orang mengetahuinya. Meski bentuk dan maknanya bisa berbeda, simbol-simbol tersebut menunjukkan bahwa sebuah gerakan juga dapat berbicara melalui bahasa visual yang sederhana tapi mendalam.

Related Articles

See More