Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Realitas Tak Menyenangkan tentang Pertemanan di Usia Dewasa
ilustrasi dua sahabat cewek (freepik.com/wayhomestudio)

Memasuki usia dewasa, pertemanan ternyata tidak selalu berjalan seperti ketika kita masih sekolah atau kuliah. Dulu, bertemu teman mungkin terasa mudah karena kita berada di lingkungan yang sama hampir setiap hari. Namun, semakin bertambah usia, kehidupan masing-masing mulai bergerak ke arah yang berbeda sehingga menjaga sebuah pertemanan membutuhkan lebih banyak usaha.

Ada kalanya kita mulai menyadari bahwa tidak semua teman akan bertahan selamanya. Beberapa hubungan perlahan menjauh bukan karena adanya pertengkaran, melainkan karena kesibukan, perubahan prioritas, atau sekadar perbedaan jalan hidup. Meskipun terasa menyedihkan, hal tersebut merupakan salah satu bagian dari realita pertemanan ketika beranjak dewasa. Nah, berikut ini lima realitas tak menyenangkan tentang pertemanan di usia dewasa. Keep scrolling!

1. Tidak semua teman akan tetap dekat

ilustrasi teman yang mulai tidak akrab (freepik.com/drobotdean)

Salah satu kenyataan yang cukup menyakitkan adalah menyadari bahwa teman yang dahulu sangat dekat, perlahan menjadi orang yang jarang kita temui. Ketika masih sekolah atau kuliah, intensitas pertemuan membuat hubungan terasa begitu kuat dan mudah dipertahankan. Setelah dewasa, pekerjaan, pasangan, keluarga, tempat tinggal, hingga berbagai tanggung jawab baru dapat membuat frekuensi komunikasi semakin berkurang.

Menjauhnya seseorang juga tidak selalu berarti hubungan tersebut berakhir karena konflik. Terkadang, dua orang hanya sedang menjalani kehidupan dengan arah yang berbeda. Kita mungkin masih menyayangi mereka sebagai teman, tetapi harus menerima kenyataan kalau kedekatan yang dulu tidak selalu bisa dipertahankan dengan cara yang sama.

2. Pertemanan membutuhkan usaha dari kedua pihak

ilustrasi tiga cowok sedang hangout (magnific.com/pressfoto)

Saat dewasa, sekadar memiliki hubungan baik dengan seseorang tidak selalu cukup untuk membuat pertemanan tetap berjalan. Keduanya perlu saling menghubungi, menyediakan waktu, bertanya kabar, dan sesekali hangout bareng. Jika hanya satu orang yang terus berusaha mempertahankan hubungan, lama-kelamaan pertemanan tersebut bisa terasa melelahkan.

Realitanya, kita mungkin akan berada dalam situasi ketika harus berhenti mengejar seseorang yang tidak lagi memberikan usaha yang sama. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena pertemanan yang sehat seharusnya tidak membuat satu pihak terus merasa bertanggung jawab untuk menjaga semuanya tetap hidup. Terkadang, melepaskan usaha yang terlalu sepihak justru menjadi bentuk menghargai diri sendiri.

3. Lingkaran pertemanan bisa semakin kecil

ilustrasi dua orang sahabat (freepik.com/freepik)

Semakin dewasa, jumlah teman dekat yang kita miliki mungkin justru semakin sedikit. Kita mungkin masih mengenal banyak orang, berinteraksi dengan rekan kerja, atau memiliki banyak kenalan di media sosial, tetapi hanya beberapa orang yang benar-benar menjadi tempat untuk berbagi cerita. Hal ini terkadang membuat kita merasa kehilangan kehidupan sosial yang dulu terasa lebih ramai.

Namun, lingkaran yang semakin kecil tidak selalu berarti kehidupan sosial kita menjadi lebih buruk. Kedewasaan sering membuat kita lebih selektif dalam menentukan siapa yang benar-benar ingin kita pertahankan dalam hidup. Kita mungkin tidak lagi membutuhkan banyak teman, tetapi lebih menghargai beberapa hubungan yang terasa aman, tulus, dan tidak menguras energi.

4. Teman bisa memiliki prioritas yang berbeda

ilustrasi dua sahabat cewek (freepik.com/wayhomestudio)

Ketika masih muda, kita mungkin memiliki tujuan dan rutinitas yang relatif mirip dengan teman-teman di sekitar kita. Setelah dewasa, perbedaan kehidupan menjadi semakin terlihat. Ada teman yang fokus membangun karier, ada yang sibuk dengan keluarga, ada yang memilih menikah, sementara yang lain mungkin sedang mengejar pendidikan atau menikmati kehidupan sendiri.

Perbedaan tersebut terkadang membuat kita sulit memahami satu sama lain seperti sebelumnya. Kita mungkin merasa teman sudah berubah, padahal sebenarnya kehidupan memang sedang membawa masing-masing orang ke tempat yang berbeda. Karena itu, mempertahankan pertemanan di usia dewasa membutuhkan kemampuan untuk menghargai pilihan hidup orang lain tanpa selalu mengharapkan mereka menjalani kehidupan dengan cara yang sama seperti kita.

5. Kehilangan teman adalah bagian dari kehidupan

ilustrasi dua sahabat sedang bersenang-senang (freepik.com/lookstudio)

Mungkin salah satu realita paling menyakitkan adalah bahwa beberapa pertemanan memang memiliki batas waktu. Ada orang yang hadir selama bertahun-tahun, menemani kita melewati berbagai fase kehidupan, tetapi akhirnya harus berjalan ke arah yang berbeda. Tidak semua hubungan harus berakhir dengan pertengkaran agar bisa disebut selesai.

Kehilangan seorang teman juga tidak berarti hubungan tersebut tidak pernah berarti. Ada orang-orang yang mungkin tidak lagi hadir dalam kehidupan kita, tetapi pernah memberikan pengalaman, pelajaran, dan kenangan yang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kita. Bentuk kedewasaan dalam pertemanan adalah mampu berterima kasih atas kebersamaan yang pernah ada tanpa memaksa hubungan tersebut untuk tetap menjadi seperti dulu.

Pada akhirnya, pertemanan di usia dewasa memang tak selalu tentang memiliki banyak orang di sekitar kita. Ada fase ketika kita harus menerima bahwa beberapa teman akan menjauh, ada hubungan membutuhkan usaha lebih besar, dan ada yang mungkin memang harus dilepaskan. Meski terasa tidak menyenangkan, semua itu tidak selalu berarti kita gagal mempertahankan pertemanan. Justru, belajar menerima perubahan dalam hubungan dapat membantu kita memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article