5 MBTI Ini Paling Tidak Bisa Marah Lama-Lama, Kenapa?

- ENFP cenderung cepat mencair setelah marah, memilih bercanda dan kembali hangat ketika suasana membaik atau menerima perhatian serta permintaan maaf tulus.
- INFP, ESFJ, dan ISFJ sulit mempertahankan kemarahan karena empati, kebutuhan akan hubungan harmonis, serta ketidaknyamanan terhadap ketegangan emosional berkepanjangan.
- ENFJ lebih memilih mencari solusi dan menjaga hubungan daripada memperpanjang konflik; kelima tipe ini umumnya mudah memaafkan setelah emosi mereda.
Setiap orang memiliki cara berbeda saat menghadapi rasa kesal atau konflik dengan orang lain. Ada yang memilih memendam emosi dalam waktu lama, tetapi ada juga yang mudah luluh meski sebelumnya sempat marah besar. Beberapa tipe kepribadian bahkan dikenal sulit mempertahankan rasa marah karena tidak nyaman berada dalam situasi yang penuh ketegangan.
Dalam MBTI, beberapa tipe cenderung lebih mengutamakan hubungan baik dan suasana yang harmonis dibanding terus mempertahankan emosi negatif. Mereka mungkin sempat kecewa atau kesal, tetapi perasaannya biasanya cepat mencair setelah suasana mulai membaik. Berikut lima MBTI yang dikenal paling tidak bisa marah lama-lama.
1. ENFP

ilustrasi perempuan marah (pexels.com/Andrea Piacquadio) ENFP termasuk tipe yang emosinya mudah terlihat, termasuk ketika sedang marah atau kecewa. Namun, rasa kesal mereka biasanya tidak bertahan terlalu lama karena ENFP sulit menjaga suasana tetap tegang dalam waktu lama. Mereka lebih suka kembali bercanda dan mencairkan keadaan dibanding terus memikirkan konflik yang sudah terjadi.
Selain itu, ENFP juga mudah luluh ketika melihat orang lain menunjukkan perhatian atau meminta maaf dengan tulus. Perasaan mereka cenderung cepat berubah sehingga emosi negatif perlahan menghilang seiring waktu. Meskipun sempat marah besar, ENFP biasanya kembali bersikap hangat setelah suasana mulai membaik dan hubungan terasa nyaman lagi.
2. INFP

ilustrasi sesorang marah (pexels.com/Engin Akyurt) INFP memang mudah merasa sakit hati, tetapi mereka juga termasuk tipe yang sulit mempertahankan rasa marah terlalu lama. Setelah emosinya lebih tenang, INFP biasanya mulai memikirkan sudut pandang orang lain dan mencoba memahami alasan di balik suatu masalah. Sikap empati tersebut membuat mereka lebih cepat memaafkan dibanding terus menyimpan dendam.
Di sisi lain, INFP tidak nyaman berada dalam hubungan yang dipenuhi ketegangan emosional. Mereka lebih suka menyelesaikan konflik secara perlahan daripada terus menjaga jarak karena rasa kesal. Jika hubungan tersebut masih dianggap penting, INFP biasanya akan berusaha mencairkan suasana meskipun sebelumnya sempat merasa sangat kecewa.
3. ESFJ

ilustrasi wanita marah (pexels.com/Pavel Danilyuk) ESFJ dikenal sangat peduli terhadap hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Saat marah, mereka memang bisa terlihat emosional, tetapi jauh di dalam hati ESFJ sebenarnya tidak tahan jika harus bermusuhan terlalu lama. Suasana yang dingin dan canggung sering membuat mereka merasa tidak nyaman.
Karena sangat mengutamakan keharmonisan, ESFJ biasanya lebih cepat membuka diri untuk berdamai setelah emosinya mereda. Mereka juga mudah tersentuh oleh perhatian kecil atau usaha sederhana untuk memperbaiki hubungan. Itulah sebabnya ESFJ sering kembali bersikap hangat meskipun sebelumnya sempat marah atau kecewa cukup besar.
4. ISFJ

ilustrasi menahan marah (pexels.com/Polina Zimmerman) ISFJ termasuk tipe yang jarang marah secara terang-terangan karena mereka lebih sering memendam perasaan sendiri. Namun, ketika sudah benar-benar kecewa, ISFJ biasanya hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum akhirnya kembali seperti biasa. Mereka tidak suka mempertahankan konflik terlalu lama karena hal itu menguras energi emosional mereka.
Selain memiliki sifat penyayang, ISFJ juga cenderung mudah memahami kesalahan orang lain. Jika melihat adanya niat baik untuk memperbaiki hubungan, hati mereka biasanya cepat melunak. Meskipun sempat menjaga jarak, ISFJ sering kembali bersikap perhatian setelah emosinya perlahan mereda dan suasana terasa lebih nyaman.
5. ENFJ

ilustrasi kemarahan (pexels.com/Pavel Danilyuk) ENFJ sangat peduli terhadap hubungan interpersonal dan kondisi emosional orang lain. Ketika marah, mereka biasanya lebih kecewa daripada benar-benar ingin memutus hubungan. Karena terlalu memikirkan perasaan orang di sekitarnya, ENFJ sering kesulitan mempertahankan rasa marah dalam waktu lama.
Mereka juga cenderung lebih fokus mencari solusi daripada memperpanjang konflik. Saat suasana mulai membaik, ENFJ biasanya perlahan kembali bersikap hangat dan terbuka. Rasa empati yang besar membuat mereka mudah memaafkan, terutama jika hubungan tersebut masih dianggap penting dan layak dipertahankan.
Itulah 5 MBTI yang dikenal paling tidak bisa marah lama-lama. Meski sempat merasa kesal atau kecewa, mereka biasanya lebih memilih memperbaiki hubungan daripada terus mempertahankan konflik. Kemampuan untuk memaafkan dan mencairkan suasana membuat mereka sering kembali bersikap hangat setelah emosinya mereda.









![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Tipe Pacar yang Cocok Untukmu](https://image.idntimes.com/post/20260407/1000012410_9f9746b7-2440-477e-ac81-d2aafe91133b.jpg)






![[QUIZ] Kamu Tipe Job Hugger atau Job Hopper?](https://image.idntimes.com/post/20260826/pexels-n-voitkevich-6837645_19d10f2b-06a5-4175-86d4-56b2d7c662bb.jpg)


![[QUIZ] Inner Self Kamu Bisa Kebongkar Cuma dari Pertanyaan Receh Ini](https://image.idntimes.com/post/20260519/ciri-kamu-sedang-tumbuh-meski-semuanya-berantakan-bingung_4957ec70-f479-4ff9-9403-e5ff2360cbb7.jpeg)


