5 Novel Klasik Jepang Karya Yukio Mishima, Penulis Nyentrik Enigmatik

Yukio Mishima adalah penulis klasik Jepang yang nyentrik dan enigmatik dengan kehidupan personal penuh kontroversi.
Novel-novelnya memanjakan pembaca lewat bahasa puitis, metafora kuat, dan gaya bertutur yang mengalir.
Di balik pandangan politiknya yang konservatif, karya-karyanya justru terasa progresif dan kaya paradoks.
Kalau suka novel klasik Jepang, jangan berhenti dengan baca buku-bukunya Osamu Dazai. Mari, melirik pula penulis bernama Yukio Mishima. Sosoknya lumayan kontroversial, apalagi kalau kamu membaca hikayat akhir hayatnya dan beberapa rumor yang mengiringi dirinya. Namun, sebagai penulis, Mishima dikenal sebagai talenta berbakat.
Caranya merangkai kata benar-benar memanjakan pembaca. Tulisannya kaya metafora dan diksinya bikin pembaca terlena. Satu lagi, prinsip dan nilai yang dianutnya tampak kontradiktif sehingga membuatnya jadi sosok yang enigmatik. Ia dikenal idealis dan konservatif soal politik, bahkan cenderung fasis. Namun, novel-novelnya terasa progresif. Penasaran? Ini lima novel klasik Jepang Yukio Mishima yang bisa membuktikan kontradiksi itu.
1. Spring Snow

Spring Snow merupakan kisah Kiyoaki, pemuda yang lahir dan besar di tengah keluarga aristokrat Jepang. Masalahnya, ketika ia mulai beranjak dewasa, transformasi besar-besaran terjadi di Jepang. Nilai-nilai modern dan Westernisasi makin intens memengaruhi kehidupan penduduk. Saat ia jatuh cinta pada perempuan sebaya dari keluarga kaya raya yang menganut modernisme, Kiyoaki menemukan dirinya dalam dilema. Novel ini ditulis dari sudut pandang kawan karib Kiyoaki yang bernama Shigekuni Honda. Dirilis sebagai tetralogi The Sea of Fertility, tiga sekuel buku Spring Snow masih menggunakan perspektif Honda dengan berbagai perkembangan karakter dan perubahan tokoh di sekitarnya.
2. The Sailor Who Fell from Grace with the Sea

Mishima membagi novel tipis ini jadi dua sudut pandang. Sudut pandang pertama datang dari Noboru, bocah 13 tahun yang tinggal bersama ibu tunggalnya sepeninggal sang ayah. Sudut pandang kedua datang dari ibu Noboru, Fusako, yang jatuh cinta pada seorang pelaut bernama Ryuji. Kalau Fusako dan Ryuji penuh optimisme dan kebahagiaan karena cinta mereka yang saling bersambut, Noboru justru mengalami krisis. Ia melihat Ryuji sebagai sebuah kegagalan dan anomali. Dari pelaut gagah nan patriotik, Ryuji ternyata menunjukkan kualitas-kualitas yang menurut Noboru tak mencerminkan maskulinitas sejati.
3. Confessions of a Mask

Confessions of Mask bisa dibilang progresif untuk sebuah novel klasik. Ia mengikuti POV Kochan, pemuda yang menemukan dirinya tertarik secara seksual terhadap pria. Ia berusaha menampik fakta itu dan melakukan berbagai cara, termasuk memacari seorang perempuan guna mendistraksi dirinya. Namun, ini ternyata tak berhasil. Di sisi lain, ia merasa dan dianggap “lemah” secara fisik untuk ukuran seorang pria. Sampai akhirnya, ia menemukan tekad untuk membuktikan dirinya ketika kabar soal perang berembus kencang di Jepang. Banyak pihak mengeklaim atau beropini bak novel ini bak sebuah autobiografi karena beberapa kemiripannya dengan kisah hidup Mishima sendiri.
4. The Temple of the Golden Pavilion

The Temple of Golden Pavilion merupakan cerita Mizoguchi, pemuda yang punya kondisi klinis tertentu, tetapi tak dapat dukungan emosional dan penanganan yang tepat. Teralienasi, ia menemukan obsesi terhadap sebuah kuil emas di Kyoto. Namun, obsesinya berubah jadi sebuah aksi fatal yang menghebohkan seantero Jepang. Mishima terinspirasi sebuah insiden nyata yang terjadi pada 1950 dan sebenarnya sedang memotret trauma yang menghantui banyak pria Jepang, terutama veteran perang setelah Perang Dunia II.
5. The Sound of Waves

The Sound of Waves merupakan kisah cinta terlarang seorang nelayan sederhana dengan perempuan dari keluarga kaya raya. Cinta mereka terhalang tembok kasta sosial ekonomi yang tampak mustahil untuk dijebol. Namun, tidak seperti kebanyakan novel Mishima yang berakhir tragis dan mengganggu, The Sound of Waves tergolong santuy. Ia bahkan mengakhirinya dengan penuh optimisme, sebuah anomali untuk seorang Mishima. The Sound of Waves memang tak bombastis, tetapi pembaca sepakat diksi dan metafora yang dipakai Mishima untuk merangkai cerita tergolong superior. Kalau bahasa kerennya puitis dan mengalir.
Mishima memang sosok yang nyentrik dan enigmatik. Terlepas dari kontroversinya, tulisan-tulisannya memang brilian dan melampaui zaman. Kompleksitas ceritanya kadang bikin pembaca bisa punya persepsi yang beragam. Justru bahan diskusi menarik, lho!


















