Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Bantu Anak Berani Ikut Lomba 17 Agustus Tanpa Harus Memaksa

5 Cara Bantu Anak Berani Ikut Lomba 17 Agustus Tanpa Harus Memaksa
ilustrasi anak-anak mengikuti lomba 17 agustus (pixabay.com/tresiahoban3)
  • Orang tua disarankan tidak memaksa anak ikut lomba, melainkan menggali alasannya dan memberi pilihan agar anak merasa aman serta memiliki kendali.
  • Anak dapat memulai dengan menonton lomba, memahami aturan, dan melihat peserta lain menikmati permainan; pilih juga jenis lomba yang sesuai karakter serta minatnya.
  • Orang tua perlu menekankan bahwa kalah bukan hal memalukan, menghindari perbandingan, dan memberi dukungan positif agar anak menikmati proses serta berani mencoba.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap bulan Agustus, suasana kampung biasanya berubah menjadi lebih meriah. Jalanan dihiasi bendera, musik terdengar dari kejauhan, dan berbagai lomba anak-anak mulai dipersiapkan. Namun, di tengah keseruan itu, ada saja si kecil yang justru memilih bersembunyi di balik ibu karena malu ikut lomba.

Jangan buru-buru menganggap anak penakut atau tidak percaya diri, ya, Bu. Bisa jadi, mereka hanya membutuhkan sedikit dorongan dan rasa aman sebelum berani mencoba. Nah, coba deh beberapa cara berikut agar pengalaman 17 Agustus terasa menyenangkan bagi anak.

  1. 1. Jangan memaksa anak ikut

    ibu yang membujuk anaknya yang marah
    ilustrasi ibu yang membujuk anaknya yang marah (pexels.com/Yan Krukau)

    Melihat anak hanya menjadi penonton ketika teman-temannya sibuk mengikuti lomba memang terkadang membuat ibu gemas. Namun, memaksa anak untuk langsung turun ke arena justru bisa membuatnya semakin tidak nyaman. Cobalah tanyakan dengan lembut apa yang membuatnya enggan ikut, apakah takut kalah, malu dilihat banyak orang, atau belum memahami permainannya.

    Dengarkan jawabannya tanpa menghakimi agar anak merasa bahwa perasaannya diterima. Setelah itu, berikan pilihan, misalnya ingin ikut lomba sekarang atau mencoba setelah melihat teman-temannya terlebih dahulu. Ketika anak merasa memiliki kendali atas pilihannya, keberanian untuk mencoba biasanya akan tumbuh secara lebih alami.

  2. 2. Ajak menonton lomba terlebih dahulu

    anak-anak yang sedang bermain bersama
    ilustrasi anak-anak yang sedang bermain bersama (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Kalau anak belum berani menjadi peserta, tidak masalah jika ia memulainya sebagai penonton. Ajak si kecil melihat berbagai lomba sambil memperkenalkan suasana dan menjelaskan aturan permainan dengan bahasa yang sederhana. Biarkan ia melihat bahwa peserta lain juga bisa tertawa ketika gagal atau jatuh dan tidak selalu harus menjadi pemenang.

    Ibu bahkan bisa mengajaknya memberi semangat kepada teman yang sedang bertanding agar anak mulai merasa menjadi bagian dari suasana tersebut. Dari sekadar menonton, rasa penasaran anak bisa perlahan mengalahkan rasa malunya. Siapa tahu, setelah melihat keseruannya, justru anak sendiri yang berkata, “Bu, aku mau ikut lomba!”

  3. 3. Pilihkan lomba yang sesuai karakter anak

    anak-anak yang bermain bersama
    ilustrasi anak-anak yang bermain bersama (pexels.com/Kampus Production)

    Setiap anak memiliki karakter dan tingkat kenyamanan yang berbeda ketika berada di tengah banyak orang. Anak yang pemalu mungkin akan lebih nyaman mengikuti lomba berkelompok daripada perlombaan yang mengharuskannya tampil sendirian. Sementara itu, anak yang aktif dan senang bergerak mungkin akan lebih antusias mengikuti balap karung, estafet, atau lomba fisik lainnya.

    Ibu tidak perlu menjadikan semua jenis lomba sebagai target karena yang terpenting adalah menemukan kegiatan yang membuat anak tertarik. Cara sederhana ini dapat membuat anak merasa didengarkan sekaligus lebih percaya diri. Ketika lombanya sesuai dengan minat, anak biasanya lebih fokus menikmati permainan daripada memikirkan apakah dirinya akan menang.

  4. 4. Ajarkan bahwa kalah itu tidak masalah

    seorang ibu yang mengajarkan anaknya
    ilustrasi seorang ibu yang mengajarkan anaknya (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Bagi sebagian anak, ketakutan terbesar bukan mengikuti lombanya, tetapi kemungkinan kalah di depan teman-teman. Di sinilah ibu bisa membantu mengubah cara pandang anak tentang kemenangan dan kekalahan. Jelaskan bahwa dalam perlombaan, ada yang menang dan ada yang belum berhasil, tetapi semuanya tetap mendapatkan pengalaman baru.

    Hindari membandingkan hasil anak dengan teman atau saudara karena hal tersebut justru dapat membuatnya semakin takut mencoba. Berikan pujian pada keberaniannya, misalnya dengan mengatakan, “Ibu senang kamu sudah berani ikut sampai selesai.” Ketika anak memahami bahwa kalah bukan sesuatu yang memalukan, ia akan lebih bebas menikmati permainan dan berani mencoba lagi.

  5. 5. Beri dukungan, bukan tekanan

    ilustrasi seorang ibu dan anak yang sedang bercanda (unsplash.com/Gabe Pierce)
    ilustrasi seorang ibu dan anak yang sedang bercanda (unsplash.com/Gabe Pierce)

    Dukungan ibu bisa menjadi sumber keberanian terbesar bagi anak ketika harus tampil di depan banyak orang. Saat perlombaan berlangsung, tunjukkan semangat dari pinggir arena tanpa terus memberikan instruksi yang membuat anak merasa tertekan.

    Jika anak melakukan kesalahan, tetap berikan respons positif agar ia tidak merasa sedang mengecewakan orang tua. Setelah lomba selesai, tanyakan bagian mana yang paling menyenangkan daripada langsung menanyakan apakah ia menang. Dengan begitu, anak akan belajar bahwa keberanian mencoba dan menikmati proses jauh lebih penting daripada sekadar membawa pulang hadiah.

    Tidak semua anak harus langsung berani berdiri paling depan ketika lomba 17 Agustus dimulai. Ada anak yang membutuhkan waktu untuk mengamati, ada yang perlu ditemani, dan ada pula yang baru berani setelah beberapa kali diyakinkan.

    Jadi, kalau tahun ini si kecil masih malu-malu, jangan buru-buru kecewa atau membandingkannya dengan anak lain. Jadikan momen 17 Agustus sebagai kesempatan untuk mengenalkan keberanian dengan cara yang menyenangkan dan tanpa paksaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More