Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Orangtua Cerdas Tanamkan Nilai Uang pada Anak Sejak Usia Dini

5 min read
5 Cara Orangtua Cerdas Tanamkan Nilai Uang pada Anak Sejak Usia Dini
ilustrasi anak menabung (pexels.com/cottonbro studio)
  • Orangtua dapat mengenalkan nilai uang sejak dini lewat situasi sehari-hari, terutama dengan membantu anak membedakan kebutuhan seperti sekolah dan makanan dari keinginan seperti mainan atau gim.
  • Konsistensi menolak permintaan yang belum perlu serta melatih anak menunggu sebelum membeli membantu mereka memahami batasan, pilihan, konsekuensi, dan pentingnya mengendalikan dorongan.
  • Anak dapat belajar bahwa uang berkaitan dengan usaha melalui target sederhana, lalu membagi uang untuk belanja, tabungan, dan berbagi agar terbiasa merencanakan penggunaan uang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mengajarkan anak tentang uang sejak usia dini bisa menjadi bekal penting ketika mereka mulai mandiri nanti. Pelajarannya gak harus langsung berupa cara membuat anggaran atau mengenalkan investasi karena konsep sederhana pun sudah cukup untuk memulainya.

Kamu bisa mengajarkan nilai uang melalui kebiasaan sehari-hari, seperti saat berbelanja, menerima uang, atau ketika anak meminta sesuatu. Dari situ, anak perlahan memahami bahwa uang perlu digunakan dengan pertimbangan dan gak selalu bisa dipakai untuk memenuhi semua keinginan.

Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan orangtua untuk membantu anak mengenal nilai uang sejak kecil.

  1. 1. Ajarkan perbedaan kebutuhan dan keinginan

    ilustrasi screen time, anak kecil main tablet, ponsel, hp, gadget
    ilustrasi screen time, anak kecil main tablet, ponsel, hp, gadget (pexels.com/Helena Lopes)

    Anak mungkin belum bisa memahami kenapa membeli sepatu sekolah dianggap penting, sementara membeli mainan baru masih bisa ditunda. Bagi mereka, barang yang menarik bisa terasa sama pentingnya dengan sesuatu yang memang dibutuhkan. Kamu bisa membantu dengan membuat dua daftar sederhana bersama anak, yaitu daftar kebutuhan dan daftar keinginan. Kebutuhan dapat berisi makanan, pakaian, sepatu, perlengkapan sekolah, dan obat-obatan, sedangkan keinginan dapat berupa mainan, gim, aksesori, atau barang elektronik.

    Setelah membuat kedua daftar tersebut, ajak anak membicarakan perbedaannya tanpa membuat mereka merasa salah karena memiliki keinginan. Misalnya, anak memang boleh menginginkan tablet baru, tapi kalau tablet lama masih bisa digunakan untuk belajar, pembelian tersebut mungkin belum menjadi prioritas. Percakapan seperti ini membantu anak memahami bahwa memiliki keinginan adalah hal yang wajar, tapi setiap keinginan perlu dipertimbangkan. Mereka pun mulai belajar bahwa uang sebaiknya digunakan terlebih dahulu untuk sesuatu yang benar-benar diperlukan.

  2. 2. Konsisten mengatakan tidak saat diperlukan

    ilustrasi menolak atau say no
    ilustrasi menolak atau say no (freepik.com/drobotdean)

    Anak bisa belajar sejak dini bahwa merengek atau terus meminta sesuatu terkadang membuat orangtua berubah pikiran. Kalau setiap penolakan akhirnya berujung pada pemberian uang atau pembelian barang, anak dapat menganggap bahwa terus meminta adalah cara untuk mendapatkan keinginannya. Karena itu, kamu perlu konsisten ketika sudah menetapkan batas dalam urusan belanja. Penolakan juga gak harus disampaikan dengan marah, karena anak tetap bisa memahami batasan melalui penjelasan yang sederhana.

    Menurut penelitian dalam Journal of Child and Family Studies, pengalaman anak menghadapi situasi ketika keinginannya gak langsung terpenuhi dapat membantu mereka belajar mengelola ketidaknyamanan dan memahami hubungan antara pilihan serta konsekuensi. Hal tersebut berkaitan dengan proses perkembangan kemampuan mengatur diri dan menghadapi penolakan. Jadi, ketika kamu mengatakan “tidak” dan tetap pada keputusan tersebut, anak mendapatkan kesempatan untuk belajar bahwa gak semua keinginan bisa dipenuhi saat itu juga. Pelajaran ini nantinya bisa berkaitan dengan kemampuan mereka mengendalikan dorongan ketika mulai mengelola uang sendiri.

  3. 3. Latih anak bersabar sebelum membeli

    ilustrasi mainan
    ilustrasi mainan (freepik.com/freepik)

    Anak yang terbiasa mendapatkan sesuatu secara langsung mungkin akan kesulitan memahami kenapa mereka harus menunggu. Padahal, kemampuan menunda keinginan bisa menjadi bagian penting dalam belajar mengelola uang, lho. Kamu bisa membuat daftar barang yang ingin dibeli anak dan menentukan target kapan barang tersebut bisa diperoleh. Setiap kali anak berhasil menyisihkan uang, beri tanda pada daftar tersebut supaya mereka dapat melihat perkembangan tabungannya.

    Menurut penelitian dalam Psychological Science, kemampuan menunda kepuasan berkaitan dengan berbagai aspek pengendalian diri dan perilaku jangka panjang. Konsep menunggu juga bisa diterapkan dalam pembelajaran finansial dengan mengajak anak memahami bahwa uang yang dimiliki sekarang gak harus langsung dihabiskan. Anak jadi belajar mempertimbangkan apakah mereka lebih memilih kesenangan sesaat atau menyimpan uang untuk sesuatu yang sudah direncanakan. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mereka memahami hubungan antara kesabaran, perencanaan, dan penggunaan uang.

  4. 4. Kenalkan hubungan antara usaha dan uang

    ilustrasi anak kecil bersih-bersih, membersihkan kamar mandi
    ilustrasi anak kecil bersih-bersih, membersihkan kamar mandi (pexels.com/Gustavo Fring)

    Ketika anak menginginkan sesuatu, kamu bisa mengajaknya memahami bahwa uang memiliki hubungan dengan usaha dan pekerjaan. Salah satu caranya adalah membuat target sederhana untuk barang yang ingin dimiliki, kemudian menunjukkan bagaimana proses mengumpulkan uang tersebut. Kamu dapat menggunakan aktivitas yang sesuai usia anak untuk mengenalkan konsep tanggung jawab dan penghargaan terhadap usaha. Dengan begitu, anak gak hanya melihat uang sebagai sesuatu yang tiba-tiba tersedia ketika mereka meminta barang.

    Menurut penelitian dalam Teaching Children About Money: Prospective Parenting Ideas From Undergraduate Students, orangtua memiliki peran penting dalam memberikan pengalaman dan pembelajaran mengenai uang kepada anak. Pembelajaran tersebut dapat dilakukan melalui percakapan, contoh dari orangtua, serta pengalaman yang membantu anak memahami bagaimana uang digunakan dan dikelola. Ketika anak dilibatkan dalam proses menentukan tujuan dan mempertimbangkan pembelian, mereka memiliki kesempatan untuk melihat bahwa mendapatkan sesuatu membutuhkan perencanaan. Pengalaman tersebut juga bisa membuat anak lebih menghargai barang yang akhirnya berhasil mereka dapatkan.

  5. 5. Ajarkan menabung sebelum membelanjakan uang

    ilustrasi anak kecil menabung
    ilustrasi anak kecil menabung (vecteezy.com/Pitsanu Jaroenpipitaphorn)

    Saat anak mendapatkan uang, kamu bisa mengenalkan kebiasaan membaginya berdasarkan tujuan. Salah satu cara yang sederhana adalah menggunakan tiga kategori, yaitu uang untuk dibelanjakan, uang untuk ditabung, dan uang untuk berbagi. Anak tetap memiliki kesempatan menikmati uangnya, tapi pada saat yang sama mereka belajar bahwa sebagian uang sebaiknya disimpan untuk kebutuhan atau keinginan di kemudian hari. Pola sederhana ini bisa dibuat menggunakan tiga celengan atau wadah berbeda supaya konsepnya lebih mudah dipahami.

    Kamu juga bisa mengajak anak membicarakan alasan mengapa menabung diperlukan. Misalnya, ada barang yang ingin dibeli tapi harganya cukup mahal sehingga mereka perlu menyimpan uang selama beberapa minggu atau bulan. Ketika anak berhasil mencapai target, mereka bisa melihat secara langsung manfaat dari kebiasaan menyisihkan uang. Perlahan, mereka akan memahami bahwa uang gak selalu harus habis dibelanjakan dan sebagian bisa digunakan untuk tujuan yang sudah direncanakan.

    Mengajarkan nilai uang kepada anak sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan yang sangat sederhana di rumah. Kamu bisa mengajak mereka membedakan kebutuhan dan keinginan, belajar menerima penolakan, menunggu sebelum membeli, memahami hubungan antara usaha dan uang, hingga membiasakan diri menabung.

    Gak perlu menunggu anak cukup besar untuk mulai mengenalkan konsep tersebut karena pengalaman sehari-hari justru bisa menjadi media belajar yang paling mudah dipahami. Semakin sering anak mendapatkan contoh dan kesempatan untuk mempraktikkannya, semakin terbiasa pula mereka melihat uang sebagai sesuatu yang perlu digunakan dengan bijak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More