Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)
Ketika anak tantrum, berteriak, atau sulit mengikuti instruksi, respons orangtua muda mulai bergeser dari “anak ini nakal” menjadi “kenapa anak ini melakukan hal tersebut?”. Perubahan pertanyaan ini penting karena perilaku anak kemudian dilihat sebagai bagian dari proses perkembangan, bukan semata-mata sebagai bentuk pembangkangan.
Penelitian tentang makna gentle parenting yang melibatkan 100 orangtua menemukan bahwa pendekatan tersebut banyak dikaitkan dengan kasih sayang yang tinggi serta regulasi emosi orangtua dan anak. Salah satu orangtua dalam penelitian itu menggambarkan gentle parenting sebagai tidak memukul, merendahkan, atau menghukum anak untuk membuatnya merasa lebih rendah, tetapi menghormati anak dan berusaha tetap tenang.
"Pendekatan ini meninggalkan pola pengasuhan lama yang sangat mengutamakan disiplin keras dan menjanjikan tumbuh kembang anak yang lebih bahagia serta lebih sehat. Gentle parenting tampak berbeda dari metode pengasuhan lainnya karena penekanannya pada penetapan batasan, meskipun penerapan batasan tersebut tidak seragam di antara para orangtua," demikian laporan studi “Trying to remain calm…but I do reach my limit sometimes”: An exploration of the meaning of gentle parenting dalam PubMed Central.
"Secara keseluruhan, para penganut gentle parenting melaporkan tingkat kepuasan dan efikasi pengasuhan yang tinggi; namun, sebagian kecil dari kelompok ini yang memiliki kecenderungan sangat kritis terhadap diri sendiri melaporkan tingkat efikasi yang jauh lebih rendah dibandingkan kelompok lainnya," lanjutnya.
Kesadaran mengenai perkembangan emosi anak juga membuat orangtua lebih berhati-hati dalam merespons tantrum. Anak yang sedang kewalahan belum tentu membutuhkan ceramah panjang. Kadang ia hanya membutuhkan bantuan untuk menenangkan diri terlebih dahulu, baru kemudian diajak memahami perilakunya.