Ilustrasi anak menyendiri (pexels.com/Павел Гавриков)
Paparan konten negatif tidak selalu membuat anak langsung bercerita. Ada anak yang menjadi lebih pendiam, mudah marah, takut membuka media sosial, sulit tidur, atau terus memikirkan sesuatu yang dilihatnya. Sebagian mungkin merasa malu karena menjadi sasaran komentar jahat, sedangkan yang lain takut orangtuanya akan menyita ponsel jika mereka mengaku.
Perubahan seperti ini tidak otomatis berarti anak mengalami gangguan psikologis, tetapi patut diperhatikan, terutama jika berlangsung lama atau mengganggu aktivitas sehari-hari. APA mengingatkan bahwa dampak media sosial pada remaja bergantung pada karakteristik individu, kondisi psikologis, lingkungan sosial, dan jenis konten yang mereka temui.
Karena itu, orangtua perlu melihat pengalaman anak secara menyeluruh, bukan hanya menghitung berapa lama ia menggunakan ponsel. Perhatikan apakah media sosial mengganggu tidur, kegiatan belajar, hubungan pertemanan, atau kesejahteraan emosionalnya.
"Kehidupan remaja di dunia daring mencerminkan sekaligus memengaruhi kehidupan mereka di dunia nyata. Dalam banyak kasus, dampak media sosial bergantung pada karakteristik pribadi dan psikologis remaja itu sendiri serta kondisi sosial mereka—yang berinteraksi dengan konten, fitur, atau fungsi spesifik yang tersedia di berbagai platform media sosial. Dengan kata lain, dampak media sosial kemungkinan besar bergantung pada apa yang dapat dilakukan dan dilihat remaja saat daring, kekuatan atau kerentanan yang telah dimiliki remaja sebelumnya, serta konteks lingkungan tempat mereka tumbuh," dikutip dalam panduan APA Health advisory on social media use in adolescence.
"Pengalaman remaja di dunia daring dipengaruhi oleh: 1) cara mereka membentuk pengalaman media sosial mereka sendiri (misalnya, memilih siapa yang akan disukai atau diikuti); dan 2) fitur-fitur—baik yang terlihat maupun yang tidak diketahui—yang dirancang ke dalam platform media sosial tersebut," lanjutnya.
Jika anak terus merasa takut, mengalami kecemasan yang mengganggu, menarik diri dari kegiatan sehari-hari, atau menunjukkan perubahan perilaku yang menetap, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental yang kompeten. Jika anak mengungkapkan keinginan menyakiti diri sendiri atau berada dalam bahaya, tanggapi dengan serius dan segera cari bantuan profesional serta perlindungan yang diperlukan.
Mendampingi anak menghadapi konten negatif di media sosial bukan hanya tentang membatasi akses internet. Tetapi juga membekalinya dengan kemampuan untuk mengenali risiko, berpikir kritis, menjaga privasi, dan meminta bantuan ketika diperlukan. Orangtua tidak mungkin mengawasi setiap konten yang muncul di layar anak, tetapi dapat membangun hubungan yang membuat anak nyaman bercerita tanpa takut dihakimi.