Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Belajar Parenting dari Marsha dan The Bear, Cocok untuk Anak Usil
Masha and the Bear (dok. Animaccord/Masha and the Bear)
  • Kartun Masha and The Bear menyoroti interaksi Masha yang aktif dan usil dengan Bear; studio menyebut ketiadaan orangtua Masha karena tidak penting bagi konteks cerita.
  • Bear mencontohkan respons pengasuhan seimbang: tetap hangat, memberi jeda saat anak berbuat salah, serta menetapkan batas dan tuntutan jelas untuk mengurangi perilaku negatif.
  • Pengasuh dianjurkan menerapkan aturan konsisten dengan konsekuensi yang dipahami anak, memvalidasi emosi, dan membahas kembali pemicu tantrum secara singkat tanpa menghakimi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masha merupakan karakter dalam kartun berjudul Masha and The Bear. Ia adalah sosok anak yang digambarkan memiliki karakter aktif, penuh rasa ingin tahu, dan terkadang usil. Seluruh episode kartun tersebut memperlihatkan interaksi Masha dengan si beruang cokelat dan sama sekali tidak menampilkan orangtua Masha.

Menurut akun resmi Masha and The Bear di platform media sosial Rusia, VK, pihak studio menjelaskan bahwa absennya orangtua Masha karena karakter orangtua dianggap tidak terlalu penting untuk konteks cerita ini. Oleh karenanya, cerita lebih banyak menyoroti interaksi Masha dan Bear.

Meski hanya pengasuh saat bermain dan bukan orangtua asli, Bear mengajarkan banyak ilmu parenting yang bisa dicontoh bagi kehidupan sehari-hari. Simak poin-poinnya berikut ini.

1. Merespons kebutuhan anak secara seimbang

Masha and the Bear (dok. Animaccord/Masha and the Bear)

Masha memang banyak menunjukkan tingkah tak terduga yang sering kali membuat Bear kewalahan. Meski terkadang Bear tampak kesal, namun beruang itu menunjukkan sikap tenang kepada Masha hingga bocah tersebut memahami bahwa tingkahnya tidak tepat. Terkadang, jika Masha bersikap usil, Bear memilih untuk meninggalkannya, memberi jeda waktu agar anak tersebut memahami kesalahan yang diperbuat.

Sikap yang dilakukan Bear ternyata terbukti secara ilmiah dapat mendukung proses tumbuh kembang anak. Melansir Psychology Today, psikolog Tasha Seiter menyebut bahwa orangtua yang terlalu responsif terhadap anak ternyata lebih rentan terhadap emosi negatif. Respons yang berlebihan dapat meningkatkan masalah perhatian. Anak jadi suka cari perhatian sehingga bersikap usil. Sementara sikap orangtua yang kurang responsif akan menyebabkan perilaku agresif yang mengganggu.

Untuk itu, orangtua atau pengasuh diharapkan dapat menerapkan gaya pengasuhan yang memadukan kehangatan dan tuntutan yang berimbang. Sikap yang hangat, akrab, adanya keterlibatan orangtua, dan penetapan batas yang jelas akan mengurangi sikap negatif pada anak.

2. Menerapkan aturan yang tegas

ilustrasi animasi Masha and The Bear (dok. Apple TV)

Anak-anak belum tentu memahami aturan di rumah. Oleh karenanya, orangtua atau pengasuh harus mengajarkan nilai dan aturan untuk membentuk batasan yang sehat bagi mereka. Masih melansir Psychology Today, orangtua perlu menerapkan pola parenting yang tegas, konsisten, dan penuh batasan. Sebagaimana Bear yang selalu mengajarkan Masha untuk memahami aturan dan konsekuensi dari perilakunya, namun juga memberi ruang bagi Masha untuk melakukan eksplorasi.

Tasha juga menyarankan agar orangtua menetapkan ekspektasi yang jelas mengenai perilaku yang dapat diterima. Jelaskan aturan kepada anak, terapkan dengan penghargaan dan konsekuensi yang konsisten, serta bantu anak untuk memahami alasan yang masuk akal di balik setiap aturan.

3. Memvalidasi pertanyaan dan berdialog tentang keadaan yang menimpanya

potret karakter Masha dan si beruang (youtube.com/Masha and The Bear)

Memvalidasi perasaan anak dapat menjadi salah satu cara efektif untuk membantu mereka memahami emosi sekaligus menunjukkan bahwa orangtua menerima perasaan yang sedang dialami. Ketika perasaannya divalidasi, anak dapat merasa lebih dipahami dan memiliki ruang untuk mengekspresikan emosi yang kuat dengan lebih lega. Selain memvalidasi perasaan, laman Child Mind Institute juga menyebutkan bahwa psikolog Stephanie Samar menyarankan orangtua untuk membicarakan kembali situasi yang membuat anak tantrum atau merasa kesal.

“Wajar jika kita ingin melupakan kejadian tersebut dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Namun, ada baiknya membahasnya kembali secara singkat dengan cara yang tidak menghakimi,” ujar Stephanie.

Membicarakan kembali kejadian yang sebelumnya dialami anak, termasuk ketika mereka mengalami tantrum, dapat membantu anak memahami perasaannya, belajar meregulasi emosi, dan mengenali akar masalah yang memicunya.

Pendekatan serupa juga terlihat dalam interaksi Bear dan Masha ketika anak tersebut mulai menunjukkan perilaku usil. Bear memberikan ruang bagi Masha untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya, kemudian membantunya memahami situasi dan menemukan cara untuk menghadapi masalah tersebut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article