Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Kamu Belum Siap Berdamai dengan Kesalahan Orangtua
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Julia M Cameron)
  • Sulit berdamai saat orangtua tidak mengakui perlakuan yang menyakitkan, sehingga memaafkan terasa seperti menyelesaikan masalah yang bukan dibuat oleh anak.
  • Memaafkan kerap ditakutkan sebagai pembenaran atas perlakuan lama, terutama ketika dampaknya masih terbawa pada rasa bersalah, ketakutan mengecewakan, atau sulit menentukan pilihan.
  • Kemarahan juga bisa berasal dari kehilangan dukungan, rasa aman, dan kedekatan yang diharapkan, serta harapan bahwa orangtua kelak berubah dan memahami sudut pandang anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada kesalahan orangtua yang tetap terasa mengganjal meskipun kejadiannya sudah berlalu bertahun-tahun. Setiap kali teringat, rasanya masih ada bagian dari diri yang ingin bertanya kenapa hal tersebut harus terjadi dan mengapa dulu tidak ada yang membela atau memahami perasaanmu. Karena itu, ketika orang lain mengatakan bahwa sudah waktunya memaafkan, nasihat tersebut justru bisa terasa seperti tuntutan untuk melupakan sesuatu yang kamu rasa belum selesai.

Berdamai dengan kesalahan orangtua juga bukan proses yang bisa dipaksakan hanya karena usia terus bertambah atau keadaan keluarga sekarang sudah berbeda. Ada alasan tertentu mengapa hati masih berat menerima kejadian masa lalu, bahkan ketika kamu sebenarnya ingin hubungan dengan orangtua terasa lebih baik. Berikut beberapa hal yang menjelaskan bahwa kamu belum siap berdamai dengan kesalahan orangtua.

1. Masih berharap orangtua mengakui kesalahannya

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Rasa sulit berdamai bisa muncul karena tidak pernah ada pengakuan bahwa sesuatu yang dilakukan orangtua memang menyakitkan. Kamu mungkin sudah berusaha memahami alasan di balik sikap mereka, tetapi tetap merasa ada bagian yang belum selesai karena tidak pernah mendengar kalimat sederhana seperti, “Waktu itu Mama atau Papa salah.” Akhirnya, setiap kali diminta memaafkan, muncul perasaan bahwa kamu justru diminta menyelesaikan masalah yang sejak awal bukan kamu yang buat.

Contohnya, dulu kamu sering dibandingkan dengan saudara dan sampai sekarang masih mengingat ucapan tersebut. Ketika orangtua menganggapnya hanya candaan atau mengatakan bahwa itu dilakukan demi membuatmu lebih termotivasi, rasa sakit yang kamu rasakan seolah tidak mendapat tempat. Wajar jika memaafkan terasa sulit ketika pengalamanmu sendiri belum pernah benar-benar diakui.

2. Takut memaafkan berarti membenarkan perlakuan mereka

ilustrasi trauma (pexels.com/cottonbro studio)

Ada perbedaan antara memaafkan seseorang dan menganggap perbuatannya benar. Namun, ketika luka masih terasa, keduanya bisa terlihat seperti hal yang sama. Kamu mungkin khawatir bahwa jika mulai bersikap baik kepada orangtua, semua kejadian lama seolah dianggap tidak pernah terjadi dan mereka tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukan.

Misalnya, kamu pernah merasa sangat dikontrol sampai kesulitan menentukan pilihan sendiri. Sekarang orangtua mungkin sudah lebih longgar, tetapi pengalaman tersebut masih membekas. Menerima keadaan saat ini tidak berarti kamu harus mengatakan bahwa cara mereka dulu sudah tepat, sehingga kamu tidak perlu memaksa diri untuk langsung menganggap semuanya baik-baik saja.

3. Kamu masih merasakan dampaknya sampai sekarang

ilustrasi takut (pexels.com/RDNE Stock project)

Kesalahan di masa lalu memang sudah tidak bisa diulang, tetapi pengaruhnya belum tentu ikut hilang. Cara orangtua memperlakukanmu ketika kecil bisa terbawa sampai dewasa, misalnya membuatmu mudah merasa bersalah ketika menolak permintaan, takut mengecewakan orang lain, atau selalu merasa harus membuktikan bahwa dirimu cukup baik. Kalau akibatnya masih terasa dalam kehidupan sekarang, wajar jika proses berdamai membutuhkan waktu lebih panjang.

Contohnya, sejak kecil kamu sering dimarahi ketika melakukan kesalahan, sehingga sekarang sedikit kekeliruan saja bisa membuatmu merasa sangat bersalah. Mengetahui bahwa orangtua mungkin tidak bermaksud membuatmu seperti itu tidak otomatis menghapus kebiasaan yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Ada bagian dari pengalaman tersebut yang memang perlu dipahami terlebih dahulu sebelum kamu bisa melihat masa lalu dengan lebih tenang.

4. Masih marah karena merasa kehilangan sesuatu

ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/The Unmistakables)

Tidak semua luka berasal dari kejadian besar. Kadang, rasa sakit justru muncul karena sesuatu yang seharusnya kamu dapatkan ketika tumbuh besar ternyata tidak pernah ada. Bisa berupa dukungan, rasa aman, kesempatan memilih, waktu bersama, atau sekadar perasaan bahwa pendapatmu dianggap penting oleh orangtua.

Misalnya, kamu melihat teman bisa bercerita kepada orangtuanya tentang pilihan kuliah, pekerjaan, atau pasangan tanpa takut dimarahi, sementara pengalamanmu berbeda. Rasa iri terhadap hubungan orang lain tersebut mungkin sebenarnya menyimpan kesedihan karena ada bentuk kedekatan yang dulu kamu inginkan, tetapi tidak pernah kamu rasakan. Selama kehilangan itu masih terasa, memaksa diri untuk langsung berdamai justru bisa membuat perasaan tersebut semakin sulit dipahami.

5. Kamu masih ingin mendapatkan versi orangtua yang dulu diharapkan

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Nicole Michalou)

Salah satu penyebab belum siap berdamai dengan kesalahan orangtua adalah masih berharap bahwa suatu hari mereka akan menjadi sosok yang selama ini kamu inginkan. Kamu mungkin masih menunggu mereka meminta maaf, mulai mendengarkan, mengakui pilihanmu, atau akhirnya memahami mengapa kejadian tertentu begitu membekas. Selama harapan itu masih ada, setiap pertemuan dengan orangtua bisa terasa seperti kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang dulu tidak pernah kamu dapatkan.

Contohnya, setiap kali bertemu orangtua, kamu berharap kali ini pembicaraan akan berjalan berbeda dan mereka akhirnya mengerti sudut pandangmu. Ketika hal tersebut kembali tidak terjadi, kekecewaan lama ikut muncul lagi. Menerima bahwa orangtua mungkin tidak akan berubah menjadi sosok yang kamu harapkan memang tidak mudah, tetapi kesadaran tersebut bisa menjadi bagian penting dari proses melihat hubungan secara lebih realistis.

Berdamai tidak harus dimulai dengan mengatakan bahwa semua yang terjadi sudah tidak penting. Kadang, langkah pertama justru dengan mengakui bahwa ada hal yang memang masih menyakitkan dan kamu belum sanggup menerimanya sepenuhnya. Kalau melihat lima alasan tadi, mana yang paling menggambarkan kenapa kamu masih sulit berdamai dengan kesalahan orangtua?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article