Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hal Kecil yang Membuat Anak Merasa Didengar, Ini Langkah Efektifnya!
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)
  • Artikel menekankan pentingnya perhatian penuh orangtua saat anak berbicara, seperti menghentikan aktivitas dan menunjukkan respons aktif agar anak merasa dihargai dan didengarkan.
  • Ditekankan bahwa memvalidasi perasaan anak tanpa menghakimi serta memberi waktu mereka menyelesaikan ucapan dapat memperkuat rasa aman dan kepercayaan dalam komunikasi keluarga.
  • Menghargai pendapat anak meski berbeda pandangan membantu membangun hubungan saling memahami, menumbuhkan kepercayaan diri, dan menciptakan komunikasi yang sehat antara orangtua dan anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap orangtua tentu ingin memiliki hubungan yang dekat dengan anak. Namun, kedekatan tersebut tidak hanya dibangun melalui hadiah, liburan, atau waktu yang panjang bersama. Justru, hal-hal sederhana dalam keseharian sering kali menjadi penentu apakah anak merasa dihargai dan didengarkan.

Cara orangtua merespons cerita, memperhatikan ekspresi wajah anak, hingga memberikan perhatian penuh saat berbicara dapat meninggalkan kesan yang mendalam. Perasaan didengar merupakan kebutuhan emosional yang penting bagi anak, baik yang masih kecil maupun yang sudah beranjak remaja.

1. Menghentikan aktivitas sejenak saat anak berbicara

potret orangtua dan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Kesibukan pekerjaan, pekerjaan rumah, atau penggunaan gawai sering membuat orangtua tetap melakukan aktivitas lain ketika anak sedang berbicara. Meskipun niatnya hanya ingin menyelesaikan pekerjaan, anak bisa menafsirkan bahwa ceritanya tidak terlalu penting. Akibatnya, mereka menjadi ragu untuk kembali mengajak orangtua berbincang di lain waktu.

Sebaliknya, menghentikan aktivitas selama beberapa menit dan memberikan perhatian penuh dapat menjadi sinyal bahwa orangtua benar-benar hadir. Menatap mata anak, menganggukkan kepala, atau mengucapkan kalimat sederhana seperti, "Mama dengar, lanjutkan ceritanya," membuat anak merasa dihargai.

"Mendengarkan dan kemudian merenungkan apa yang kamu dengar, dapat membantu remaja menyadari kebijaksanaan mereka sendiri. Mendengarkan dengan hormat dan tanpa menghakimi tidak berarti kamu harus setuju dengan apa yang dikatakan. Ini tentang menciptakan zona aman, bebas dari gangguan, interogasi, atau reaksi," kata Ken Ginsburg, MD, MSEd, dokter spesialis anak sekaligus profesor pediatri di Rumah Sakit Anak Philadelphia dikutip dari Parent and Teen.

 

2. Mengulang atau merangkum cerita anak

potret orangtua dan anak (pexels.com/Vlada Karpovich)

Banyak orangtua langsung memberikan solusi setelah anak selesai berbicara. Padahal, sebelum mencari jalan keluar, anak sering kali hanya ingin memastikan bahwa orangtuanya benar-benar memahami apa yang sedang dirasakan. Salah satu cara sederhananya adalah mengulang inti cerita anak dengan kalimat sendiri.

Misalnya, ketika anak berkata bahwa ia kecewa karena bertengkar dengan temannya, orangtua dapat merespons, "Jadi kamu sedih karena merasa temanmu tidak memahami maksudmu, ya?" Kalimat tersebut menunjukkan bahwa orangtua mendengarkan dengan saksama. Jika ada bagian yang kurang tepat, anak juga memiliki kesempatan untuk meluruskan maksudnya.

"Salah satu cara terbaik untuk mendengarkan secara aktif adalah menanyakan kembali dan merenungkan apa yang dikatakan. Pemantauan yang efektif adalah tentang menjadi tipe orangtua yang anaknya memilih untuk berbagi apa yang terjadi dalam hidup mereka," kata Ken Ginsburg.

3. Memvalidasi perasaan anak, bukan langsung menilai

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Photo by Vlada Karpovich)

Sering kali orangtua bermaksud menenangkan anak dengan mengatakan, "Jangan cengeng,", "Ah, itu masalah kecil," atau "Kamu terlalu berlebihan." Meskipun terdengar sederhana, kalimat seperti ini dapat membuat anak merasa emosinya tidak penting. Lama-kelamaan, mereka mungkin memilih memendam perasaan karena khawatir akan kembali dianggap berlebihan.

Sebaliknya, orangtua dapat memvalidasi emosi anak dengan mengakui apa yang sedang dirasakannya. Kalimat seperti, "Ayah mengerti kenapa kamu kecewa," atau "Pasti rasanya tidak enak mengalami itu," menunjukkan bahwa perasaan anak diterima terlebih dahulu.

"Dalam perjalanan menjadi orangtua, memahami dan memvalidasi emosi anak-anak kita bukan hanya tindakan welas asih, tetapi juga langkah mendasar untuk menumbuhkan kesejahteraan dan ketahanan emosional mereka," kata psikolog klinis anak Dr. Zia Lakdawalla dalam Foundations for Emotional Wellness.

4. Memberi waktu anak menyelesaikan ucapannya

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/cottonbro studio)

Tidak sedikit orangtua yang tanpa sadar memotong pembicaraan anak karena merasa sudah mengetahui maksudnya atau ingin segera memberikan nasihat. Padahal, kebiasaan menyela dapat membuat anak merasa bahwa pendapatnya kurang penting. Jika hal ini terus terjadi, anak bisa menjadi enggan mengungkapkan isi pikirannya secara terbuka.

Memberikan jeda beberapa detik setelah anak selesai berbicara adalah kebiasaan kecil yang memiliki dampak besar. Jeda tersebut memberi kesempatan kepada anak untuk menambahkan cerita atau menjelaskan perasaannya lebih dalam. Orangtua juga memiliki waktu untuk memahami situasi sebelum memberikan respons yang tepat, sehingga percakapan terasa lebih tenang dan saling menghargai.

"Bereaksi terhadap apa yang mereka katakan justru menghentikan komunikasi. Ketika kita cepat menghakimi, menyampaikan kekhawatiran kita, atau membuat tuduhan, anak kita berhenti berbicara. Ketika kita mencoba menyelesaikan masalahnya, mereka berhenti berbagi. Tidak bereaksi adalah kuncinya. Tetap tenang dan usahakan untuk mendengarkan terlebih dahulu," saran Ken Ginsburg.

5. Menghargai pendapat anak meskipun berbeda

Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Setiap anak memiliki kepribadian, cara berpikir, dan pengalaman yang berbeda dari orangtuanya. Ketika anak mulai beranjak besar, mereka akan lebih sering mengemukakan pendapat yang mungkin tidak selalu sejalan dengan keinginan keluarga. Dalam situasi seperti ini, orangtua tidak harus langsung menyetujui semua pendapat anak, tetapi penting untuk menunjukkan bahwa pendapat tersebut layak didengar dan dipertimbangkan.

Menghargai pendapat anak dapat dilakukan dengan kalimat sederhana seperti, "Terima kasih sudah menyampaikan pendapatmu," atau "Ayah paham kenapa kamu berpikir begitu." Setelah itu, orangtua dapat menjelaskan sudut pandangnya dengan tenang disertai alasan yang jelas. Cara ini mengajarkan bahwa perbedaan pendapat bukanlah sebuah pertengkaran, melainkan kesempatan untuk saling memahami.

"Terkadang, anak berbagi informasi yang membuat orangtua merasa terkejut atau kewalahan. Rekomendasi utama saya adalah untuk mundur selangkah dan sebelum langsung menghukum, mengkritik, menyelesaikan, atau memperbaikinya, berikan ruang bagi mereka untuk terus berbicara dan berbagi," kata psikolog anak Dr. Shirin Mostofi dalam Rady Children’s Health.

 

Membuat anak merasa didengar tidak selalu membutuhkan cara yang rumit atau waktu yang panjang. Ketika anak merasa suaranya memiliki arti, mereka akan lebih percaya untuk berbagi cerita, meminta bantuan saat menghadapi kesulitan, dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri serta mampu membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Curated For You

Editorial Team

Related Article