ilustrasi anak bermain gadget (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Ada anggapan bahwa dalam keluarga, orangtua harus selalu menjadi pihak yang paling tahu. Di era digital, pola tersebut tidak selalu berlaku. Anak bisa jadi lebih cepat memahami aplikasi, fitur baru, tren, bahkan cara kerja komunitas online tertentu. Tidak ada salahnya jika sesekali orangtua meminta anak mengajari mereka.
Namun, posisi anak sebagai "guru" teknologi tidak berarti tanggung jawab berpindah sepenuhnya kepada anak. Orangtua tetap perlu menentukan batasan yang sesuai usia, membantu anak memahami konsekuensi, dan memastikan mereka tahu harus mencari bantuan ketika menghadapi sesuatu yang berbahaya.
"Dampingi anak saat mencoba aplikasi, game, dan platform daring. Bantu mereka membuat pilihan yang aman. Saat mengakses platform baru, pastikan pengaturan platform sejak awal sudah meminimalkan pengumpulan data oleh pihak ketiga," demikian dikutip dari UNICEF Indonesia.
"Libatkan anak saat mengambil keputusan terkait privasinya di dunia maya. Sampaikan hal-hal yang menjadi kekhawatiran orangtua, dan simak penjelasan anak tanpa menghakimi mereka. Seiring bertambah pengalaman anak di dunia maya, orangtua perlu mencari cara untuk membuat mereka lebih berdaya dengan memberikan mereka tanggung jawab yang sesuai usia sambil tetap memantau aktivitas mereka di internet," tambahnya.
Pada akhirnya, parenting di era Gen Alpha bukan tentang siapa yang paling mengerti teknologi. Orangtua tidak harus mengetahui semua slang yang sedang viral, dan anak juga tidak harus menjadi sumber informasi teknologi bagi keluarganya. Yang lebih penting adalah menciptakan hubungan di mana anak merasa aman untuk menjelaskan dunianya, sementara orangtua bersedia mendengarkan, belajar, dan tetap memberikan arahan.