ilustrasi bermain gadget di kamar gelap (pexels.com/SHVETS production)
Belajar bahasa internet bukan hanya tentang mengetahui arti FYP, meme, streak, atau istilah game. Orangtua juga perlu belajar 'bahasa' yang lebih penting, yaitu bahasa tentang privasi, persetujuan, jejak digital, keamanan akun, scam, dan batasan dalam membagikan informasi pribadi.
Laporan UNICEF Indonesia mengingatkan bahwa setiap klik, komentar, share, dan unggahan dapat menciptakan jejak digital. Orangtua disarankan mengenalkan konsep privasi kepada anak sejak mereka mulai menggunakan perangkat digital dan menjelaskan informasi apa saja yang perlu dilindungi.
Tapi menariknya, aturan ini juga berlaku untuk orangtua. Orangtua mungkin melarang anak mengunggah foto sembarangan, tetapi pada saat yang sama sering mengunggah foto anak tanpa meminta izin. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa beberapa ahli menyarankan agar orangtua lebih mencermati kebiasaan daring mereka sendiri-terutama yang berkaitan dengan privasi anak-anak mereka.
"Literasi media sangatlah penting, baik bagi anak-anak maupun orangtua," jelas Mary Alvord, PhD, psikolog dikutip dari APA.
"Hal ini bisa berujung pada rasa kesal atau sakit hati anak terhadap apa yang telah diunggah orang tua mereka," tambah Alvord yang mengkhawatirkan kebiasaan orangtua yang terlalu banyak berbagi informasi pribadi (oversharing) dapat memengaruhi rasa privasi dan kepercayaan anak.