Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Perkembangan Sosial Anak Usia 2-3 Tahun, Belajar Berteman dan Berempati

Perkembangan Sosial Anak Usia 2-3 Tahun, Belajar Berteman dan Berempati
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/ketutsubiyanto)
Share Article

Usia 2 hingga 3 tahun merupakan masa ketika kemampuan sosial anak berkembang pesat. Jika sebelumnya si kecil lebih banyak berinteraksi dengan orangtua atau pengasuh, pada fase ini mereka mulai tertarik pada lingkungan sekitar, belajar memahami emosi, berbagi, hingga menjalin hubungan dengan teman sebaya.

Meski begitu, perkembangan sosial setiap anak bisa berbeda-beda. Ada anak yang mudah bergaul, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan orang baru. Agar orangtua bisa mendampingi si kecil dengan tepat, berikut beberapa perkembangan sosial yang umum terjadi pada anak usia 2–3 tahun.

1. Mulai tertarik bermain dengan anak lain

ilustrasi anak kecil bermain (pexels.com/michaelmorse)
ilustrasi anak kecil bermain (pexels.com/michaelmorse)

Anak usia 2 tahun biasanya mulai menunjukkan minat terhadap teman sebaya. Namun, mereka umumnya masih berada pada tahap parallel play atau bermain berdampingan, yaitu bermain di dekat anak lain tanpa benar-benar bermain bersama. Meski interaksinya belum banyak, pengalaman ini membantu anak mengenal cara bersosialisasi sejak dini.

Memasuki usia 3 tahun, kemampuan sosial anak mulai berkembang ke tahap associative play. Pada tahap ini, anak mulai mencari teman bermain, mengobrol sederhana, atau terlibat dalam aktivitas yang sama. Kesempatan bermain bersama teman sebaya penting untuk membantu anak melatih komunikasi dan keterampilan sosial.

"Pada tahap ini memang belum banyak interaksi dengan anak lain, tetapi tetap penting untuk memberi anak kesempatan menghabiskan waktu bersama anak-anak lain," ujar Heather Wittenberg, Ph.D., seorang psikolog berlisensi yang berspesialisasi dalam perkembangan anak, dikutip dari Parents.

2. Belajar berbagi dan bergiliran

ilustrasi anak kecil bermain (pexels.com/cottonbro)
ilustrasi anak kecil bermain (pexels.com/cottonbro)

Jika si kecil sering berkata, "Ini punyaku!", orangtua tidak perlu langsung khawatir. Pada usia 2–3 tahun, anak masih cenderung melihat dunia dari sudut pandangnya sendiri sehingga konsep berbagi belum sepenuhnya dipahami. Karena itu, berebut mainan atau sulit bergiliran merupakan hal yang umum terjadi.

Seiring bertambahnya usia, anak mulai belajar bahwa bermain bersama membutuhkan kerja sama dan bergiliran. Orangtua dapat membantu proses ini dengan memberi contoh berbagi dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu membangun keterampilan sosial yang penting bagi anak.

"Perilaku sosial mereka mencerminkan pola pikir yang egosentris, dan perilaku mereka dipandu oleh keinginan mereka sendiri," ujar Maria Kalpidou, Ph.D., profesor psikologi di Assumption College di Worcester, dikutip dari Parents.

3. Mulai mengenali emosi dan menunjukkan empati

ilustrasi anak balita perhatian dengan adik bayi (pexels.com/kampus)
ilustrasi anak balita perhatian dengan adik bayi (pexels.com/kampus)

Anak usia 2–3 tahun mulai belajar mengenali berbagai emosi, seperti senang, sedih, marah, atau kecewa. Namun, karena kemampuan berbahasa mereka masih berkembang, anak belum selalu mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Hal inilah yang membuat tantrum masih cukup sering terjadi pada usia ini.

Di sisi lain, kemampuan empati anak juga mulai tumbuh secara bertahap. Misalnya, si kecil mungkin akan memeluk temannya yang menangis atau mencoba menghibur anggota keluarga yang sedang sedih. Meski terlihat sederhana, perilaku tersebut menunjukkan bahwa anak mulai memahami perasaan orang lain.

"Mereka memiliki beragam emosi yang sedang mereka pelajari untuk diungkapkan dengan kata-kata," ujar Emily Rooker, ahli patologi wicara dan bahasa di Bright SpOT Pediatric Therapy, dikutip dari Parents.

4. Mulai memperluas hubungan di luar keluarga inti

ilustrasi anak kecil makan bersama (pexels.com/naomishi)
ilustrasi anak kecil makan bersama (pexels.com/naomishi)

Seiring bertambahnya usia, anak mulai memperluas lingkaran sosialnya dan tidak hanya bergantung pada orangtua atau pengasuh. Mereka bisa menikmati waktu bersama kakek-nenek, saudara, atau bahkan menyapa orang yang ditemui sehari-hari. Hal sederhana seperti melambaikan tangan atau mengucapkan salam menjadi tanda bahwa kemampuan sosial anak terus berkembang.

Namun, setiap anak memiliki cara beradaptasi yang berbeda. Ada anak yang cepat akrab dengan orang baru, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman. Karena itu, orangtua sebaiknya memberi ruang bagi anak untuk menyesuaikan diri sesuai ritmenya tanpa memaksa mereka bersosialisasi.

"Orang tua sering menganggap sifat pemalu sebagai sesuatu yang negatif, padahal wajar jika anak membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan orang yang tidak mereka kenal atau jarang mereka temui," jelas Dr. Wittenberg.

5. Suka meniru perilaku orang di sekitarnya

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/valeriaushakova)
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/valeriaushakova)

Anak usia 2–3 tahun dikenal sebagai peniru ulung. Mereka dapat meniru cara berbicara, ekspresi wajah, hingga kebiasaan orang dewasa di sekitarnya. Melalui proses meniru ini, anak belajar memahami aturan sosial dan cara berinteraksi dengan orang lain.

Karena itu, lingkungan yang positif sangat penting bagi perkembangan anak. Orangtua perlu memberikan contoh perilaku yang baik, seperti bersikap sopan, mengucapkan terima kasih, atau menunjukkan empati kepada orang lain. Tanpa disadari, kebiasaan kecil yang dilakukan orang dewasa akan menjadi pelajaran berharga bagi si kecil.

Dengan dukungan dan teladan yang baik dari orangtua, si kecil dapat belajar berinteraksi, memahami emosi, dan tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama. Jadi, jangan lupa dampingi setiap proses belajar sosial si kecil, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

Gaya Makeup dan Dekor Ultah ke-23 Zara Adhisty, Serba Pink!

22 Jun 2026, 23:45 WIBLife