Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Strategi agar Anak Mau Berpakaian tanpa Drama

4 min read
6 Strategi agar Anak Mau Berpakaian tanpa Drama
ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/august-de-richelieu)
Share Article

Pagi hari bisa terasa melelahkan ketika anak membutuhkan waktu lama untuk memilih atau memakai pakaian. Mulai dari ingin mengenakan baju yang sama terus-menerus hingga menolak pakaian karena terasa gak nyaman, situasi ini bisa berujung drama. Padahal, kebiasaan tersebut sering berkaitan dengan proses anak belajar mandiri dan memahami keinginannya.

Bagi balita, berpakaian juga melibatkan kemampuan memilih, merencanakan, dan melakukan keterampilan motorik halus seperti memasang kancing atau ritsleting. Karena itu, penolakan anak gak selalu berarti membangkang. Beberapa strategi berikut bisa membantu rutinitas berpakaian lebih lancar tanpa pertengkaran. Yuk, simak!

  1. 1. Berikan pilihan pakaian yang terbatas

    ilustrasi ibu dan anak memilih pakaian
    ilustrasi ibu dan anak memilih pakaian (pexels.com/anastasia-shuraeva)

    Anak membutuhkan kesempatan untuk menentukan pakaian yang ingin dikenakan, tetapi bukan berarti ia harus memilih dari seluruh isi lemari. Berikan dua atau tiga pilihan yang menurut orangtua tetap sesuai dengan situasi agar anak merasa memiliki kendali. Cara ini juga bisa mengurangi perdebatan karena batas pilihan sudah ditentukan sejak awal.

    Menurut Mikki Lee Elembaby, PsyD, associate psychotherapist di Clarity Therapy NYC, dikutip dari Parents, pakaian merupakan salah satu area yang memungkinkan anak menunjukkan kemandiriannya. Ketika pakaian favoritnya sedang gak tersedia, ia menyarankan orangtua memberikan beberapa pilihan agar anak tetap merasa memiliki kendali.

    “Ketika pakaian favoritnya bukan pilihan, biarkan ia memilih di antara dua atau tiga pakaian agar ia merasa memiliki kendali,” jelas Mikki Lee Elembaby.

  2. 2. Perhatikan kenyamanan pakaian

    ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak
    ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)

    Kadang-kadang anak menolak berpakaian bukan karena ingin membantah, melainkan karena pakaian tertentu terasa mengganggu. Label yang gatal, jahitan yang kasar, bahan tertentu, karet pinggang yang terlalu ketat, atau kaus kaki yang terasa mengganjal bisa membuat anak gak nyaman. Karena itu, perhatikan pakaian apa yang biasanya ditolak dan cari tahu bagian mana yang membuatnya gak nyaman.

    Sensitivitas terhadap tekstur juga bisa menjadi alasan anak terus memilih pakaian yang sama. Jika penolakan terhadap bahan atau jenis pakaian tertentu berlangsung terus-menerus dan menimbulkan tekanan yang besar, orangtua bisa berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional untuk mencari tahu penyebabnya.

  3. 3. Beri waktu karena anak masih belajar

    ilustrasi ibu dan anak
    ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/alex-green)

    Anak yang membutuhkan waktu lama untuk berpakaian belum tentu sengaja memperlambat orangtua. Mereka masih belajar memilih pakaian, memadukan warna, mengenakannya dengan benar, hingga melakukan berbagai gerakan yang membutuhkan koordinasi motorik halus.

    Dikutip dari Parents, Sara F. Douglas, PsyD, neuropsikolog, menjelaskan bahwa proses berpakaian melibatkan keterampilan yang masih berkembang pada anak. Hal ini termasuk kemampuan menggunakan kancing, kancing tekan, dan ritsleting yang membutuhkan koordinasi motorik halus.

    “Kerumitan kancing, kancing tekan, dan ritsleting merupakan hal penting yang perlu dipertimbangkan. Semua itu adalah keterampilan motorik halus yang membutuhkan waktu untuk berkembang,” jelas Sara F. Douglas.

  4. 4. Siapkan pakaian sejak malam sebelumnya

    ilustrasi ibu dan anak melipat pakaian
    ilustrasi ibu dan anak melipat pakaian (pexels.com/vlada-karpovich)

    Kesibukan di pagi hari bisa membuat proses berpakaian terasa semakin terburu-buru. Untuk mengurangi drama, ajak anak menentukan pakaian yang akan dipakai sejak malam sebelumnya. Orangtua juga bisa membuat urutan sederhana, misalnya memakai pakaian dalam, baju, celana, kaus kaki, lalu sepatu.

    Rutinitas yang konsisten membantu anak mengetahui apa yang harus dilakukan tanpa perlu terus-menerus diarahkan. Jika anak masih kesulitan memahami waktu, orangtua juga bisa menggunakan timer visual agar ia memiliki gambaran mengenai berapa lama waktu yang tersedia untuk berpakaian.

  5. 5. Jangan langsung mempermasalahkan pakaian yang gak serasi

    ilustrasi ibu dan anak melipat pakaian (pexels.com/annushkaahuja)
    ilustrasi ibu dan anak melipat pakaian (pexels.com/annushkaahuja)

    Anak mungkin memilih kombinasi pakaian yang menurut orangtua aneh atau gak serasi. Selama pakaian tersebut sesuai dengan cuaca, aman, bersih, dan masih pantas digunakan, gak semua pilihan perlu diperdebatkan. Memberikan ruang untuk bereksperimen dengan pakaian bisa menjadi bagian dari proses anak mengenali selera dan kemandiriannya.

    Alicia Goodman, PhD, psikolog di Phoenix Children’s, dikutip dari Parents, menjelaskan bahwa anak-anak sedang belajar membentuk identitas sekaligus menunjukkan kemandirian melalui pilihan sederhana, termasuk pakaian. Menurutnya, hal yang sudah familiar juga dapat memberikan rasa aman ketika anak menghadapi banyak hal baru setiap hari.

    “Ini juga merupakan salah satu cara pertama mereka menunjukkan kemandirian dan mengekspresikan diri memilih pakaian sendiri adalah cara untuk mengatakan, ‘Inilah diri saya!’” ujar Mikki Lee Elembaby.

  6. 6. Tetap tenang saat anak mulai tantrum

    ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak
    ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/august-de-richelieu)

    Ketika anak sudah menangis atau marah karena pakaian, memaksanya segera menurut biasanya justru membuat situasi semakin sulit. Beri waktu agar emosinya mereda sebelum kembali membicarakan pilihan pakaian. Dalam situasi tertentu, membiarkan anak mengenakan pakaian yang diinginkannya selama tetap aman dan sesuai kondisi bisa menjadi pilihan yang lebih praktis.

    Orangtua juga bisa membicarakan kembali kejadian tersebut setelah suasana tenang. Dengan begitu, anak tetap belajar bahwa perasaannya boleh muncul, tetapi ada batasan tertentu mengenai cara mengekspresikannya.

    Menghadapi anak yang sulit berpakaian memang membutuhkan kesabaran, terutama ketika ia sedang belajar mandiri. Dengan memahami kebutuhannya dan memberi ruang untuk memilih, rutinitas berpakaian bisa terasa lebih ringan tanpa drama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More