5 Tips Konsisten Menerapkan Gentle Parenting meski Sedang Emosi

Mengasuh anak dengan pendekatan gentle parenting memang tidak selalu mudah. Ada kalanya orangtua merasa lelah, stres, bahkan emosi ketika menghadapi perilaku anak yang sulit dikendalikan. Namun, justru di momen inilah gentle parenting diuji, apakah bisa tetap konsisten atau justru tergelincir dengan nada keras dan marah.
Kalau kamu pernah merasa gagal menerapkan gentle parenting, percayalah kamu tidak sendirian. Banyak orangtua yang mengalami hal serupa, tapi tetap bisa belajar memperbaiki cara komunikasinya dengan anak. Yuk, simak beberapa tips berikut agar gentle parenting tetap bisa kamu terapkan meski sedang dalam kondisi emosi.
1. Sadari emosi diri sebelum merespons anak

Langkah pertama untuk tetap konsisten dengan gentle parenting adalah menyadari kondisi emosimu. Saat sedang marah atau kesal, jangan langsung bereaksi dengan kata-kata kasar atau nada tinggi. Menyadari emosi adalah kunci agar kamu tidak terbawa suasana dan bisa tetap tenang di hadapan anak.
Kamu bisa berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, atau menghitung sampai sepuluh sebelum berbicara. Dengan begitu, pikiranmu akan lebih jernih untuk memberikan respon yang sesuai prinsip gentle parenting. Ingat, anak belajar mengelola emosi dari cara orangtua mencontohkannya.
2. Ambil jeda sebelum memberikan arahan

Tidak ada salahnya mengambil jeda sebentar sebelum menegur anak yang melakukan kesalahan. Alih-alih langsung marah, cobalah untuk duduk sebentar atau berpindah ruangan agar emosimu mereda. Memberikan jeda juga membuatmu bisa berpikir lebih rasional dalam memilih kata-kata.
Setelah emosimu lebih tenang, dekati anak dengan nada lembut namun tetap tegas. Gunakan kalimat yang jelas agar anak mengerti apa yang salah tanpa merasa disalahkan. Dengan cara ini, pesanmu lebih mudah diterima dan hubungan tetap harmonis.
3. Gunakan bahasa tubuh yang menenangkan

Bahasa tubuh sering kali berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Saat emosi, cobalah untuk tidak menunjuk, membentak, atau melotot kepada anak. Sebaliknya, gunakan ekspresi wajah tenang, suara lembut, dan posisi tubuh sejajar dengan anak.
Bahasa tubuh yang positif akan membuat anak merasa aman meskipun sedang ditegur. Hal ini juga membantu anak memahami bahwa teguran berasal dari rasa sayang, bukan kemarahan. Perlahan, anak akan belajar meniru bahasa tubuh positif tersebut dalam interaksi sehari-harinya.
4. Fokus pada solusi, bukan pada kesalahan anak

Gentle parenting mengajarkan orangtua untuk mengarahkan, bukan menghukum. Saat anak melakukan kesalahan, alihkan fokus pada solusi yang bisa diambil bersama. Dengan begitu, anak akan merasa dilibatkan dan tidak hanya diposisikan sebagai pihak yang bersalah.
Misalnya, jika anak menumpahkan minuman, ajak ia membersihkan bersama. Katakan dengan tenang bahwa semua orang bisa melakukan kesalahan, yang penting tahu cara memperbaikinya. Cara ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab tanpa membuat anak merasa tertekan.
5. Ingat tujuan utama gentle parenting

Ketika emosi sedang memuncak, coba ingat kembali tujuanmu menerapkan gentle parenting. Tujuan utamanya adalah membangun hubungan yang hangat, saling menghargai, dan penuh kasih sayang. Menyadari hal ini akan membuatmu lebih termotivasi untuk mengendalikan diri.
Bayangkan dampak jangka panjang yang akan anak rasakan dari pola asuh yang penuh kelembutan. Anak yang tumbuh dengan gentle parenting biasanya lebih percaya diri, empatik, dan mampu mengelola emosinya sendiri. Memegang teguh tujuan ini akan membantumu tetap konsisten meski keadaan sedang sulit.
Menjadi orangtua memang penuh tantangan, tapi setiap usaha kecil yang kamu lakukan akan berdampak besar bagi perkembangan anak. Jadi, tetaplah berlatih sabar dan izinkan dirimu untuk belajar bersama anak dalam proses ini.