Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Amankan Data dan Kartu Kredit dai Scam saat Belanja Online
ilustrasi belanja online (unsplash.com/vhtm)
  • Pastikan berbelanja melalui situs atau aplikasi resmi; periksa alamat domain dan hindari mengeklik tautan belanja dari pesan, email, atau media sosial yang mencurigakan.
  • Data kartu kredit dan OTP hanya boleh dimasukkan di halaman pembayaran tepercaya. Gunakan password kuat berbeda, password manager, serta aktifkan autentikasi dua faktor.
  • Hindari transaksi sensitif lewat Wi-Fi publik, gunakan jaringan seluler dan perangkat terbaru. Waspadai phishing yang memakai pesan mendesak soal pembayaran, paket, akun, atau hadiah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belanja online adalah kegiatan yang bikin hidup jauh lebih praktis. Kamu bisa mencari apa pun kebutuhanmu dengan harga terbaik, lalu melakukan pembayaran tanpa harus keluar rumah. Sistem pembayaran juga ada banyak jenisnya, kamu bisa pilih yang sesuai denganmu. Tinggal beberapa kali klik, pesanan pun sudah diproses tanpa ribet.

Di balik kemudahan ini ada satu hal yang penting, yakni keamanan data pribadi dan informasi kartu kredit. Risiko keamanan saat belanja online bukan berarti kamu harus berhenti menggunakan layanan digital. Justru, yang penting adalah memahami kebiasaan apa saja yang bisa membuat data lebih rentan. Berikut lima cara mengamankan data pribadi dan kartu kredit saat belanja online.

1. Pastikan kamu belanja di situs atau aplikasi yang resmi

ilustrasi belanja online (pexels.com/ Shoper.pl)

Sebelum memasukkan data pribadi atau kartu kredit, pastikan kamu berada di platform belanja yang benar. Jangan langsung percaya hanya karena sebuah situs terlihat profesional atau menawarkan harga yang jauh lebih murah. Periksa kembali alamat situs sebelum login atau melakukan pembayaran.

Waspadai alamat yang memiliki ejaan aneh, tambahan karakter yang tak biasa, atau domain yang berbeda dari platform resminya. Kalau mendapatkan tautan belanja melalui pesan pribadi, email, atau media sosial, lebih aman membuka aplikasi atau mengetik alamat situs secara manual daripada langsung mengeklik tautan tersebut.

2. Jangan sembarangan memberikan data kartu kredit

ilustrasi memegang kartu kredit (pexels.com/Anete Lusina)

Saat melakukan transaksi online, kamu mungkin diminta memasukkan nomor kartu, tanggal kedaluwarsa, dan kode keamanan kartu. Informasi tersebut sebaiknya hanya diberikan melalui halaman pembayaran resmi dan terpercaya. Jangan pernah mengirim foto kartu kredit melalui chat kepada penjual, kurir, atau pihak yang mengaku sebagai customer service.

Bahkan jika mereka mengatakan membutuhkan data tersebut untuk verifikasi, kamu tetap perlu berhati-hati. Hal yang sama berlaku untuk kode OTP atau kode autentikasi yang dikirimkan ke ponselmu. Kode tersebut bersifat rahasia dan hanya digunakan oleh kamu untuk menyelesaikan proses yang sedang dilakukan. CS yang resmi tidak membutuhkan kode OTP milikmu.

3. Gunakan password yang kuat dan aktifkan verifikasi tambahan

ilustrasi memasukkan password (pexels.com/Indra projects)

Password sering dianggap sepele, padahal menjadi salah satu lapisan keamanan utama akun belanja online. Jangan menggunakan password seperti tanggal lahir, nama lengkap, nomor telepon, atau kombinasi yang mudah ditebak. Sebaiknya gunakan password yang panjang dan berbeda untuk setiap akun penting.

Kalau sulit mengingat banyak password, kamu bisa menggunakan password manager yang terpercaya. Selain itu, beberapa layanan juga dapat membantu membuat kombinasi password yang lebih kuat. Jangan lupa juga mengaktifkan autentikasi dua faktor atau verifikasi tambahan jika ada. Dengan fitur ini, tak hanya password untuk bisa masuk ke akunmu karena masih ada lapisan verifikasi lainnya.

4. Jangan transaksi menggunakan wi-fi publik

ilustrasi menggunakan wifi gratis (unsplash.com/bernardhermant)

Wi-Fi gratis di kafe, bandara, hotel, atau tempat umum memang praktis. Namun, kamu sebaiknya lebih berhati-hati ketika menggunakan jaringan tersebut untuk aktivitas yang melibatkan data sensitif. Jangan sembarangan melakukan transaksi kartu kredit atau login ke akun finansial melalui jaringan Wi-Fi publik.

Risiko keamanan jaringan bisa lebih sulit kamu kendalikan. Kalau memang harus melakukan transaksi saat sedang berada di luar rumah, pakai jaringan seluler pribadi. Pastikan juga perangkatmu sudah menggunakan sistem operasi dan aplikasi versi terbaru agar pembaruan keamanan tidak tertinggal.

5. Kenali phishing dan jangan mudah panik dengan pesan mendesak

ilustrasi melihat ponsel (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Salah satu jebakan yang sering digunakan untuk mencuri data adalah phishing. Modusnya bisa datang melalui email, SMS, pesan instan, atau media sosial. Pelaku biasanya menyamar sebagai toko online, bank, jasa pengiriman, atau customer service. Pesannya dibuat seolah-olah ada masalah dengan pesananmu.

Misalnya, pembayaran gagal, paket tertahan, akun akan diblokir, atau kamu mendapatkan hadiah. Kemudian, kamu diminta mengeklik tautan dan memasukkan informasi tertentu. Yang membuat modus ini berbahaya adalah pelaku sering menggunakan rasa panik dan urgensi agar korban tidak sempat berpikir panjang. Karena itu, ketika mendapatkan pesan mendesak, jangan langsung mengikuti instruksinya.

Menjaga keamanan data pribadi saat belanja online sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan kecil. Biasakan untuk gak terburu-buru ketika menerima pesan mencurigakan dan jangan mudah memberikan informasi sensitif kepada siapa pun, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article