Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi seorang penumpang menatap keluar jendela pesawat. (pexels.com/Hasan Gulec)
  • Aerophobia adalah ketakutan berlebihan terhadap penerbangan yang dapat memicu panik, membuat penderita menghindari perjalanan udara, serta mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, dan mobilitas.
  • Pemicu aerophobia tidak selalu trauma kecelakaan; berita buruk, lepas landas, pendaratan, turbulensi, serta fobia ketinggian atau ruang sempit dapat memperparah kecemasan.
  • Kondisi ini paling sering dialami usia 17–34 tahun dan dapat ditangani melalui psikoterapi, terapi perilaku kognitif, terapi paparan, teknik relaksasi, serta obat anticemas dengan pengawasan dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rasa takut luar biasa yang muncul saat membayangkan atau akan naik pesawat dinamakan aerophobia. Kondisi ini merupakan ketakutan berlebihan terhadap penerbangan yang membuat seseorang sering menghindari perjalanan udara. Kecemasan tersebut bukan sekadar rasa cemas biasa karena dapat memicu serangan panik dan mengganggu aktivitas.

Banyak orang mengira takut naik pesawat hanya terjadi akibat pengalaman kecelakaan di masa lalu. Padahal, rasa takut itu bisa muncul karena sering melihat berita buruk atau cemas di tempat sempit. Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui berbagai fakta menarik dan cara mengatasi rasa takut naik pesawat!

1. Bukan sekadar rasa cemas biasa

Ilustrasi seorang pria yang sedang merenung. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dilansir Siloam Hospitals, aerophobia (atau sering juga disebut aviophobia) adalah jenis fobia saat seseorang merasa takut berlebihan saat naik pesawat terbang. Kondisi ini membuat mereka sangat cemas terhadap hal seperti lepas landas, mendarat, atau turbulensi. Banyak orang merasa gugup saat hendak naik pesawat, tetapi bagi penderita aerophobia, ketakutan ini jauh lebih parah.

Bagi yang sering bepergian, aerophobia dapat menjadi gangguan serius yang memengaruhi pekerjaan. Kondisi tersebut juga berdampak pada hubungan sosial dan pilihan mobilitas sehari-hari. Rasa cemas ini membuat penderitanya sering menghindari perjalanan udara sama sekali.

2. Pemicunya tidak selalu pengalaman traumatis

Ilustrasi pemandangan dari jendela pesawat. (pexels.com/Kai-Chieh Chan)

Sebagian pengidap aerophobia merasa takut karena pernah mengalami insiden penerbangan yang menakutkan sebelumnya. Namun, banyak juga orang yang mengalami fobia ini meskipun tidak pernah sama sekali terlibat dalam kecelakaan pesawat. Dilansir Cleveland Clinic, beberapa pemicu utamanya meliputi menonton berita kecelakaan pesawat, proses lepas landas dan mendarat, hingga rasa khawatir tentang guncangan atau turbulensi.

Kondisi ini juga bisa diperparah oleh berbagai jenis fobia lain yang dialami seseorang. Contoh fobia tersebut meliputi ketakutan berlebihan terhadap ketinggian, ruang sempit yang penuh sesak, atau rasa takut akan kuman. Berbagai pemicu dan fobia pendukung inilah yang membuat rasa cemas saat naik pesawat menjadi semakin sulit dikendalikan.

3. Paling sering dialami oleh orang berusia 17 hingga 34 tahun

Ilustrasi siluet seorang wanita yang beristirahat di dekat jendela pesawat. (pexels.com/George Zografidis)

Dilansir Cleveland Clinic, aerophobia paling sering dialami oleh orang berusia 17 hingga 34 tahun. Usia tersebut merupakan masa terjadinya banyak perubahan besar dalam hidup seperti kelulusan, pernikahan, atau kelahiran anak. Akibatnya, timbul rasa takut bahwa penerbangan dapat mengancam keselamatan hidup mereka di momen penting tersebut.

Menurut Anxiety UK, orang yang takut terbang pada umumnya terbagi menjadi dua kelompok utama. Kelompok pertama takut kehilangan kendali atas emosinya hingga merasa malu di depan penumpang lain. Sementara itu, kelompok kedua lebih cemas terhadap faktor luar seperti turbulensi, cuaca buruk, atau kerusakan pesawat.

4. Gejalanya melibatkan fisik dan mental

Ilustrasi serorang wanita yang merasa cemas. (pexels.com/MART PRODUCTION)

Dilansir Alodokter, penderita aerophobia cenderung berusaha keras menghindari segala hal yang berhubungan dengan perjalanan udara. Mereka sering menolak agenda yang mengharuskan naik pesawat atau memaksa menggunakan moda transportasi lain. Selain itu, penderita juga bisa sangat terobsesi mempelajari prosedur keamanan atau justru menghindari berita seputar pesawat.

Jika harus berada di dalam pesawat, penderita aerophobia dapat mengalami serangan panik yang cukup parah. Kondisi ini memicu timbulnya gejala fisik seperti jantung berdebar cepat, sesak napas, gemetar, dan keringat dingin. Tubuh juga bisa terasa mual serta pikiran menjadi kacau hingga tidak bisa berpikir jernih.

5. Dapat disembuhkan

Ilustrasi seorang pria sedang membaca buku di dekat jendela pesawat. (pexels.com/Berkalp Turper)

Aerophobia bukanlah kondisi permanen dan bisa diatasi melalui beberapa metode penanganan medis maupun psikologis. Dilansir Siloam Hospitals, salah satu pendekatan utamanya adalah psikoterapi untuk membantu pasien membentuk perilaku positif saat menghadapi masalah. Terapi perilaku kognitif juga sangat berguna untuk mengubah pola pikir sekaligus mengajarkan teknik relaksasi saat naik pesawat.

Selain itu, terdapat terapi paparan yang bertujuan membiasakan pasien menghadapi suasana penerbangan melalui gambar, video, atau teknologi virtual reality. Dokter terkadang juga memberikan obat anticemas guna meredakan rasa takut, tentunya harus dengan izin dan pengawasan ketat. Pencegahannya bisa dilakukan dengan menghindari minuman berkafein, mengelola stres, serta berbagi cerita dengan orang terdekat.

Penderita juga dapat mengurangi rasa takut di pesawat dengan cara mengedukasi diri tentang sistem keamanan dan turbulensi. Mengubah pikiran negatif menjadi positif serta mengenali pemicu kecemasan juga sangat membantu menenangkan diri. Terakhir, penderita bisa mempraktikkan teknik pernapasan dalam dan mengalihkan perhatian dengan mendengarkan musik atau membaca buku.

Aerophobia memang bisa menjadi tantangan besar, tetapi kondisi ini sangat mungkin untuk diatasi dengan penanganan dan persiapan yang tepat. Jadi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional agar kamu bisa melangkah lebih percaya diri menuju penerbangan berikutnya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article