Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Buku Horor Politik yang Bikin Kamu Takut pada Kekuasaan

7 min read
6 Buku Horor Politik yang Bikin Kamu Takut pada Kekuasaan
ilustrasi seseorang membaca buku (unsplash.com/Andriyko Podilnyk)
  • Enam buku horor, distopia, dan alegori menempatkan kekuasaan sebagai sumber teror, dari kontrol negara hingga warisan kolonialisme dan diskriminasi sosial.
  • The Handmaid’s Tale dan Tender Is the Flesh menggambarkan rezim serta sistem legal yang mengendalikan tubuh manusia, menormalisasi eksploitasi, dan mengikis kebebasan individu.
  • Mexican Gothic, The President’s Room, The Ballad of Black Tom, dan The Only Good Indians menyoroti patriarki, kepatuhan, rasisme, serta dampak kolonialisme melalui teror supernatural dan psikologis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Horor tidak selalu tentang hantu yang muncul tengah malam atau monster yang bersembunyi di balik pintu. Ada juga cerita yang menghadirkan kengerian melalui sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan manusia, yaitu kekuasaan. Bayangkan hidup di negara yang mengatur tubuh warganya, menghapus identitas masyarakat tertentu, atau membuat penduduk begitu takut kepada pemimpin sampai-sampai mereka tidak berani mempertanyakan aturan yang berlaku. Situasi semacam ini bisa terasa lebih mengerikan daripada kisah rumah berhantu.

Sejumlah penulis dunia menggunakan horor, distopia, dan alegori untuk membicarakan persoalan politik serta ketidakadilan sosial. Mereka menghadirkan monster sebagai simbol ketakutan kolektif, rumah berhantu sebagai gambaran warisan kolonialisme, hingga kebijakan pemerintah yang mengubah manusia menjadi komoditas. Meski tidak semuanya termasuk horor supernatural, keenam buku berikut menawarkan cara menarik untuk melihat hubungan antara rasa takut dan kekuasaan. Berikut daftarnya!

  1. 1. The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood

    cover buku The Handmaid's Tale
    cover buku The Handmaid's Tale (amazon.com)

    The Handmaid's Tale merupakan novel karya Margaret Atwood yang menggambarkan Republik Gilead, sebuah rezim totaliter yang mengambil alih wilayah yang sebelumnya merupakan bagian dari Amerika Serikat. Dalam negara tersebut, perempuan kehilangan berbagai hak dasar dan ditempatkan dalam peran yang ditentukan oleh penguasa. Offred, tokoh utama cerita, menjadi salah satu Handmaid atau perempuan yang dipaksa melahirkan anak bagi keluarga elite yang berkuasa. Bahkan, identitas pribadinya dirampas hingga namanya sendiri mencerminkan kepemilikan orang lain atas dirinya.

    Kengerian novel ini terletak pada cara rezim menggunakan agama, hukum, dan ketakutan untuk membenarkan penindasan. Pemerintah tidak sekadar mengatur perilaku masyarakat, tetapi juga menentukan bagaimana tubuh manusia boleh digunakan. Melalui kehidupan Offred, Atwood mengajak pembaca mempertanyakan apa yang terjadi ketika kekuasaan menganggap kebebasan individu sebagai ancaman. Novel ini cocok bagi pembaca yang tertarik pada horor distopia dengan kritik terhadap otoritarianisme, fundamentalisme, dan kontrol negara atas kehidupan pribadi. Meski tidak berpusat pada hantu, atmosfer represifnya menghadirkan kengerian yang terasa dekat dengan realitas.

  2. 2. Mexican Gothic karya Silvia Moreno-Garcia

    cover buku Mexican Gothic
    cover buku Mexican Gothic (amazon.com)

    Berlatar Meksiko pada 1950-an, Mexican Gothic mengikuti Noemí Taboada, perempuan muda yang mengunjungi sepupunya di sebuah rumah terpencil bernama High Place. Sepupunya mengirim surat yang mengisyaratkan bahwa dirinya sedang berada dalam bahaya. Ketika tiba di sana, Noemí menemukan keluarga Inggris yang menyimpan berbagai rahasia mengerikan. Rumah yang semula tampak seperti kediaman keluarga elite perlahan memperlihatkan sisi gelapnya melalui mimpi buruk, sejarah kekerasan, dan hubungan antartokoh yang tidak sehat.

    Di balik kisah rumah berhantu tersebut, Silvia Moreno-Garcia menghadirkan kritik terhadap kolonialisme, supremasi kulit putih, dan patriarki. Keluarga yang menguasai High Place menjadi gambaran kekuasaan lama yang berusaha mempertahankan kedudukannya, sementara orang lain menanggung akibat dari ambisi mereka. Rumah itu bukan sekadar tempat terjadinya peristiwa supernatural, melainkan simbol warisan kekuasaan yang membusuk tetapi belum kehilangan pengaruhnya. Novel ini menarik bagi pembaca yang menyukai horor gotik, sekaligus ingin melihat bagaimana sejarah kolonial dan ketimpangan sosial dapat diolah menjadi sumber teror.

  3. 3. The President's Room karya Ricardo Romero

    cover buku The President's Room
    cover buku The President's Room (amazon.co.uk)

    Dalam The President's Room, penulis Argentina Ricardo Romero membangun sebuah dunia ganjil di pinggiran kota yang tidak disebutkan namanya. Setiap rumah memiliki ruangan khusus yang disiapkan untuk presiden. Tidak seorang pun benar-benar mengetahui kapan tradisi tersebut dimulai atau mengapa ruangan itu harus selalu tersedia. Kebiasaan tersebut diterima begitu saja oleh masyarakat, meskipun keberadaannya memengaruhi kehidupan sehari-hari. Cerita disampaikan melalui sudut pandang seorang anak laki-laki yang mulai mempertanyakan aturan yang selama ini dianggap wajar.

    Karya ini lebih tepat disebut fiksi alegoris yang ganjil dan meresahkan daripada novel horor konvensional. Namun, justru di situlah daya tariknya. Ruangan yang dikhususkan untuk presiden dapat dibaca sebagai simbol bagaimana kekuasaan memasuki ruang privat masyarakat, bahkan ketika pemimpinnya tidak hadir secara fisik. Ketakutan tumbuh dari tradisi yang tidak boleh dipertanyakan dan aturan yang tetap ditaati tanpa penjelasan. Romero memperlihatkan bagaimana kekuasaan bisa bertahan melalui kebiasaan, ketidakpastian, dan kepatuhan. Buku ini cocok bagi pembaca yang menyukai cerita bernuansa Kafkaesque, yakni kisah yang menghadirkan situasi absurd, birokratis, dan menimbulkan kecemasan eksistensial.

  4. 4. The Ballad of Black Tom karya Victor LaValle

    cover buku The Ballad of Black Tom
    cover buku The Ballad of Black Tom (amazon.com)

    The Ballad of Black Tom merupakan novela horor karya Victor LaValle yang berlatar New York pada 1920-an. Ceritanya mengikuti Charles Thomas Tester, seorang laki-laki kulit hitam yang berusaha menghidupi dirinya dan ayahnya di tengah masyarakat yang penuh diskriminasi. Ketika Tester mengantarkan sebuah buku okultisme kepada seorang tokoh misterius, ia terseret ke dalam rangkaian peristiwa yang melibatkan sihir dan kekuatan kosmik yang mengancam dunia. LaValle memadukan horor supernatural dengan kehidupan masyarakat yang dibentuk oleh prasangka rasial.

    Salah satu kekuatan novel ini adalah kritiknya terhadap rasisme struktural dan kekerasan yang dilakukan oleh aparat. Tester harus menghadapi dunia yang memandang dirinya sebagai ancaman karena warna kulitnya, bahkan sebelum kekuatan supernatural masuk ke dalam kehidupannya. Dengan menempatkan pengalaman seorang laki-laki kulit hitam sebagai pusat cerita horor kosmik, LaValle membalik cara pembaca memahami siapa yang sebenarnya menakutkan. Monster bukan lagi satu-satunya sumber teror, karena masyarakat yang diskriminatif juga mampu menghasilkan kekejaman. Meski tidak berfokus pada pemerintahan tertentu, novela ini menunjukkan bagaimana ketidakadilan yang dipertahankan oleh struktur sosial dapat menjadi horor tersendiri.

  5. 5. The Only Good Indians karya Stephen Graham Jones

    cover buku The Only Good Indians
    cover buku The Only Good Indians (amazon.com)

    Novel horor karya Stephen Graham Jones ini mengikuti empat laki-laki dari komunitas Blackfeet yang dihantui oleh sebuah peristiwa pada masa muda mereka. Setelah melakukan perburuan di wilayah yang diperuntukkan bagi para tetua, mereka menghadapi konsekuensi mengerikan ketika sebuah entitas menyerupai elk mulai memburu mereka. Peristiwa tersebut berkembang menjadi kisah penuh kekerasan, ketegangan psikologis, dan konflik identitas. Di balik teror supernaturalnya, novel ini mengeksplorasi hubungan para tokoh dengan tradisi, komunitas, dan masa lalu yang berusaha mereka tinggalkan.

    Kritik sosial novel ini berkaitan dengan pengalaman masyarakat adat Amerika, terutama persoalan identitas budaya dan tekanan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat yang lebih dominan. Judulnya sendiri menggemakan ungkapan rasis yang merendahkan masyarakat Indian Amerika. Teror yang dialami para tokoh dapat dibaca sebagai pengingat bahwa sejarah kekerasan dan penghapusan budaya tidak selalu berakhir ketika suatu peristiwa berlalu. Novel ini tidak secara langsung berpusat pada kritik kebijakan pemerintah, tetapi menawarkan perspektif tentang warisan kolonialisme dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat adat. Bagi pencinta horor, buku ini memperlihatkan bagaimana konflik budaya dan sejarah dapat menjadi sumber ketegangan yang sama kuatnya dengan kehadiran makhluk supernatural.

  6. 6. Tender Is the Flesh karya Agustina Bazterrica

    cover buku Tender Is the Flesh
    cover buku Tender Is the Flesh (amazon.com)

    Novel distopia karya penulis Argentina Agustina Bazterrica ini menghadirkan dunia yang berubah setelah virus membuat daging hewan tidak lagi aman dikonsumsi manusia. Pemerintah kemudian menjalankan apa yang disebut sebagai Transition, perubahan sistem yang membuat konsumsi daging manusia dilegalkan. Tokoh utamanya, Marcos Tejo, bekerja di industri pengolahan manusia untuk konsumsi. Ia berusaha menjalani pekerjaannya dengan memusatkan perhatian pada angka, pesanan, dan prosedur, seolah-olah yang diprosesnya bukan manusia. Namun, situasi mulai berubah ketika ia menerima seorang perempuan sebagai hadiah dan mulai memandangnya sebagai individu, bukan sekadar komoditas.

    Kengerian novel ini terletak pada normalisasi kekerasan. Pemerintah mengesahkan sistem tersebut, industri menjalankannya, dan masyarakat perlahan menerima praktik yang sebelumnya dianggap tidak dapat dibenarkan. Bahasa pun berperan penting; istilah administratif digunakan untuk menyamarkan kenyataan bahwa manusia sedang diperlakukan sebagai barang. Bazterrica mengajak pembaca mempertanyakan bagaimana hukum dan kepentingan ekonomi dapat membentuk batas moral masyarakat. Kritik novel ini tidak hanya tertuju pada pemerintah, tetapi juga pada sistem industri dan masyarakat yang ikut mempertahankan eksploitasi. Dengan pendekatan horor distopia yang brutal, buku ini menunjukkan bahwa sesuatu yang dilegalkan belum tentu dapat dibenarkan secara etis.

    Keenam buku tersebut memperlihatkan bahwa rasa takut dapat menjadi cara untuk memahami hubungan antara manusia dan kekuasaan. Margaret Atwood menghadirkan negara yang mengendalikan tubuh perempuan, Silvia Moreno-Garcia membongkar rahasia keluarga elite dalam latar kolonial, sedangkan Ricardo Romero menggunakan sebuah ruangan untuk menggambarkan kepatuhan terhadap pemimpin. Victor LaValle dan Stephen Graham Jones mengangkat persoalan rasisme serta pengalaman masyarakat adat melalui horor supernatural. Sementara itu, Agustina Bazterrica membayangkan sistem yang mengubah eksploitasi manusia menjadi sesuatu yang legal.

    Meski genre dan pendekatannya berbeda, buku-buku ini memiliki satu pertanyaan yang sama: apa yang terjadi ketika kekuasaan tidak lagi melindungi manusia, tetapi justru menjadi sumber ketakutannya? Horor dapat membuat pertanyaan tersebut terasa lebih tajam, karena membawa pembaca berhadapan dengan situasi ekstrem yang menguji moralitas, kebebasan, dan kemanusiaan. Pada akhirnya, monster dalam sebuah cerita mungkin hanya rekaan, tetapi ketidakadilan yang mengilhami kemunculannya bisa memiliki akar yang nyata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More