Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Pekerjaan Rumah Tangga Dianggap Tanggung Jawab Perempuan?

4 min read
Mengapa Pekerjaan Rumah Tangga Dianggap Tanggung Jawab Perempuan?
ilustrasi peran domestik perempuan (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Pembagian tugas rumah tangga berdasarkan gender kerap dikenalkan sejak masa kanak-kanak melalui pola asuh dan kebiasaan keluarga.

  • Norma tradisional menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah dan perempuan sebagai pengurus rumah serta perawat keluarga.

  • Pekerjaan domestik membutuhkan waktu dan tenaga, tetapi kontribusinya sering kurang terlihat karena tidak menghasilkan upah secara langsung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pagi hari, seorang ibu menyiapkan sarapan dan bekal anak sebelum berangkat bekerja. Sepulangnya, ia masih harus membereskan rumah, mencuci pakaian, atau memastikan kebutuhan keluarga sudah terpenuhi. Sementara itu, anggota keluarga lain mungkin baru membantu ketika diminta. Situasi seperti ini bukan hal asing dalam banyak keluarga. Pekerjaan rumah tangga seolah menjadi tanggung jawab yang secara otomatis dilekatkan kepada perempuan, bahkan ketika mereka juga memiliki pekerjaan di luar rumah.

Padahal, memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan merawat anggota keluarga merupakan kebutuhan bersama. Namun, pembagian tugas tersebut masih sering dipengaruhi oleh pandangan tradisional tentang peran laki-laki dan perempuan. Norma yang terbentuk selama bertahun-tahun membuat pekerjaan domestik lebih identik dengan perempuan daripada laki-laki. Lantas, mengapa anggapan tersebut masih bertahan hingga sekarang?

  1. 1. Pembagian peran domestik sudah dikenalkan sejak masa kanak-kanak

    ilustrasi perempuan membersihkan dapur
    ilustrasi perempuan membersihkan dapur (magnific.com/magnific)

    Salah satu alasan pekerjaan rumah tangga lebih sering dilekatkan kepada perempuan adalah pembagian peran berdasarkan gender yang sudah dipelajari sejak kecil. Dalam lingkungan keluarga, anak perempuan mungkin lebih sering diminta membantu memasak, mencuci piring, atau membersihkan rumah. Sementara itu, anak laki-laki bisa lebih sering mendapat tugas seperti membuang sampah atau membantu pekerjaan di luar rumah. Kebiasaan ini secara tidak langsung membentuk pemahaman bahwa ada pekerjaan domestik yang dianggap lebih cocok dilakukan perempuan dan ada pula yang identik dengan laki-laki.

    Laporan OECD dalam Gender Equality in a Changing World menjelaskan bahwa kesenjangan tanggung jawab pekerjaan rumah tangga dapat terbentuk sejak masa kanak-kanak melalui proses sosialisasi gender. Anak-anak mempelajari pembagian peran tersebut dengan mengamati tugas yang diberikan kepada orangtua maupun saudara mereka. Ekspektasi orangtua mengenai tanggung jawab anak perempuan dan laki-laki juga ikut memengaruhi proses ini. Akibatnya, anak perempuan cenderung lebih banyak terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dibandingkan anak laki-laki.

    Hal tersebut juga dirasakan oleh ZR (26) yang menceritakan kepada IDN Times pada Minggu (8/11/12). Ia menilai anggapan bahwa pekerjaan domestik merupakan tanggung jawab perempuan berakar dari pola asuh yang diwariskan antargenerasi. Menurutnya, pekerjaan rumah tangga sudah lama dianggap sebagai urusan perempuan sehingga terus dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Ia bahkan mengalami pembagian tugas tersebut di keluarganya sendiri.

    "Aku perempuan dan punya satu adik laki-laki. Pekerjaan domestik hampir selalu diminta ke aku, sementara adikku biasanya kebagian tugas non-domestik seperti membuang sampah. Bahkan, dia cenderung dilarang kalau mau ikut mengerjakan pekerjaan domestik," ungkapnya.

    Dapat dikatakan, 'pembagian tugas' ini memiliki akar yang cukup panjang dan terus diwariskan. Sehingga, anggapan atau stigma ini cukup langgeng sampai saat ini.

  2. 2. Perempuan masih dilekatkan dengan peran pengurus rumah tangga

    Perempuan membersihkan kamar
    Ilustrasi perempuan membersihkan kamar (pexels.com/cottonbro studio)

    Pandangan tradisional mengenai peran keluarga juga ikut mempertahankan pembagian tugas domestik berdasarkan gender. Laki-laki kerap ditempatkan sebagai pencari nafkah utama atau breadwinner, sedangkan perempuan dianggap bertanggung jawab mengurus rumah dan merawat anggota keluarga. Pembagian ini membuat pekerjaan domestik seolah menjadi bagian alami dari peran perempuan, bukan tanggung jawab yang perlu dibicarakan dan dibagi bersama.

    OECD melalui laporan SIGI 2023 Global Report menjelaskan bahwa norma sosial tradisional di berbagai negara masih mengaitkan laki-laki dengan peran pencari nafkah dan perempuan dengan tanggung jawab pengasuhan serta pekerjaan rumah tangga. Norma tersebut turut membatasi perempuan pada peran perawatan dan reproduksi. Dalam konteks Indonesia, laporan riset United Nations Research Institute for Social Development (UNRISD) pada 2016 juga mencatat bahwa pekerjaan perawatan tidak berbayar, termasuk membesarkan anak, menjaga rumah, dan merawat orangtua, masih dipandang sebagai pekerjaan perempuan.

    ZR juga mengaku sempat menganggap pembagian tugas tersebut sebagai sesuatu yang biasa karena sudah terbiasa melihatnya sejak kecil.

    "Dulu aku sempat ikut berpikir begitu karena sejak kecil terbiasa melihatnya seperti itu," tuturnya.

    Pengalaman ini memperlihatkan bahwa norma gender gak hanya diwariskan melalui aturan atau larangan dalam keluarga, tetapi juga dapat membentuk cara pandang seseorang terhadap pembagian tanggung jawab di rumah.

  3. 3. Pekerjaan domestik dianggap bukan pekerjaan karena tidak menghasilkan upah

    ilustrasi perempuan selesai membersihkan rumah
    ilustrasi perempuan selesai membersihkan rumah (freepik.com/freepik)

    Memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan merawat anak membutuhkan waktu serta tenaga. Namun, pekerjaan tersebut sering kali tidak dianggap sebagai pekerjaan dalam pengertian ekonomi karena tidak menghasilkan pendapatan secara langsung. Akibatnya, kontribusi perempuan dalam mengurus rumah tangga bisa kurang terlihat dan kurang dihargai, meskipun aktivitas tersebut membantu anggota keluarga lain menjalani pekerjaan berbayar maupun kegiatan sehari-hari.

    Laporan OECD Gender Equality in a Changing World menjelaskan bahwa perempuan di negara-negara OECD menghabiskan hampir dua kali lebih banyak waktu untuk pekerjaan tidak berbayar dibandingkan laki-laki. Ketika pekerjaan berbayar dan tidak berbayar digabungkan, perempuan rata-rata bekerja 24 menit lebih lama setiap hari. Fenomena ini sering disebut sebagai second shift, yakni kondisi ketika perempuan masih harus menjalankan pekerjaan domestik setelah menyelesaikan pekerjaan berbayar. Dengan kata lain, memiliki pekerjaan di luar rumah tidak serta-merta membuat tanggung jawab domestik perempuan berkurang.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan rumah tangga bukan sekadar urusan pribadi atau kewajiban salah satu anggota keluarga. Pekerjaan domestik merupakan bentuk kontribusi yang membutuhkan waktu dan tenaga, sehingga pembagiannya perlu dilihat sebagai tanggung jawab bersama. Selama pekerjaan tersebut terus dianggap sebagai tugas alami perempuan, kontribusi mereka berisiko tetap tidak terlihat dan beban domestik sulit terbagi secara setara.

Related Articles

See More