Performative Reading vs. Genuine Reading, Apa Bedanya?

- Performative reading berorientasi pada citra, tren, atau pengakuan sosial, sedangkan genuine reading didorong ketertarikan pribadi untuk menikmati, memahami, dan memperoleh pengetahuan dari bacaan.
- Pada performative reading, unggahan buku, kutipan, atau estetika dapat menjadi bagian utama tampilan publik; genuine reading lebih menekankan pemahaman, refleksi, diskusi, dan berbagi hal yang menarik.
- Motivasi sosial dapat menjadi pintu awal membaca, tetapi genuine reading cenderung tetap dilakukan tanpa perhatian luar serta memberi ruang untuk wawasan, berpikir kritis, hiburan, dan pengalaman bermakna.
Pernah melihat seseorang sering membagikan foto buku yang sedang dibaca, tetapi kamu tidak tahu apakah isi bukunya benar-benar dipahami? Di tengah tren membaca dan membagikan aktivitas literasi di media sosial, muncul istilah performative reading yang menarik untuk dibahas. Istilah ini sering dibandingkan dengan genuine reading, yaitu aktivitas membaca yang dilakukan dengan ketertarikan dan tujuan untuk memahami isi bacaan.
Sekilas, kedua istilah tersebut mungkin terlihat sama karena sama-sama melibatkan buku dan aktivitas membaca. Namun, ada perbedaan dalam motivasi, tujuan, hingga cara seseorang memaknai bacaan yang sedang dinikmati. Supaya tidak salah memahami kedua istilah ini, yuk, kenali lima perbedaan performative reading dan genuine reading berikut.
1. Motivasi di balik aktivitas membaca

ilustrasi perempuan membaca buku (pexels.com/Streetwindy) Performative reading merujuk pada aktivitas membaca yang lebih menonjolkan kesan atau citra diri di hadapan orang lain. Seseorang mungkin memilih buku tertentu karena ingin terlihat intelektual, mengikuti tren, atau mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosialnya. Dalam konteks ini, kegiatan membaca dapat menjadi bagian dari cara seseorang membangun citra di dunia nyata maupun media sosial.
Sementara itu, genuine reading lebih menekankan ketertarikan pribadi terhadap buku dan isi bacaan. Seseorang membaca karena ingin memperoleh pengetahuan, menikmati cerita, atau memahami sudut pandang yang berbeda. Aktivitas tersebut tetap terasa bermakna meskipun tidak diketahui atau mendapat perhatian dari orang lain.
2. Fokus pada citra diri vs. pemahaman isi buku

ilustrasi membaca di perpustakaan (pexels.com/Maggie Zhan) Dalam performative reading, perhatian bisa lebih banyak diarahkan pada bagaimana aktivitas membaca terlihat di mata orang lain. Misalnya, seseorang memilih buku dengan sampul menarik untuk difoto atau membagikan kutipan tertentu agar terlihat memiliki wawasan luas. Hal ini tidak otomatis berarti bacaannya tidak dipahami, tapi citra yang dibangun bisa menjadi salah satu tujuan utamanya.
Sebaliknya, genuine reading menempatkan pemahaman isi buku sebagai salah satu hal yang penting. Pembaca berusaha mengikuti gagasan penulis, memahami karakter dalam cerita, atau menghubungkan informasi dengan pengalaman sehari-hari. Karena itu, hasil membaca tidak selalu ditunjukkan melalui unggahan media sosial, melainkan bisa terlihat dari pemahaman dan refleksi pribadi.
3. Cara membagikan aktivitas membaca

ilustrasi perempuan membaca buku (pexels.com/Rahul Shah) Orang yang melakukan performative reading mungkin lebih memperhatikan bagaimana kegiatan membaca ditampilkan kepada publik. Foto buku di kafe, unggahan rak buku yang tertata, atau kutipan dari bacaan bisa menjadi bagian dari citra yang ingin diperlihatkan. Namun, perlu diingat bahwa membagikan aktivitas membaca di media sosial saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang sedang melakukan performative reading.
Pada genuine reading, membagikan pengalaman membaca biasanya dilakukan untuk menyampaikan hal yang benar-benar menarik perhatian pembaca. Seseorang mungkin mengulas buku karena ingin berbagi pengetahuan, mendiskusikan karakter favorit, atau merekomendasikan bacaan kepada orang lain. Meski begitu, pembaca yang menikmati buku secara tulus juga boleh membuat konten estetik atau mengunggah koleksi bukunya.
4. Konsistensi membaca saat tidak mendapat perhatian

ilustrasi wanita sedang membaca (pexels.com/Andrea Piacquadio) Aktivitas membaca yang didorong oleh penampilan sosial bisa kehilangan daya tarik ketika tidak ada orang lain yang memperhatikan. Dalam situasi tertentu, seseorang mungkin lebih bersemangat menunjukkan buku yang sedang dibaca daripada meluangkan waktu untuk menyelesaikannya. Meski demikian, perilaku tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran karena kebiasaan membaca setiap orang dapat berubah sesuai keadaan.
Sebaliknya, orang yang menikmati genuine reading cenderung tetap memiliki alasan pribadi untuk membaca meskipun tidak ada pengakuan dari luar. Mereka bisa membaca beberapa halaman sebelum tidur, melanjutkan novel saat akhir pekan, atau menyisihkan waktu untuk mempelajari topik yang disukai. Bagi mereka, kepuasan membaca tidak harus bergantung pada jumlah suka, komentar, maupun pujian yang diterima.
5. Dampak membaca terhadap diri sendiri

ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Yaroslav Shuraev) Dalam performative reading, manfaat membaca terkadang ditempatkan di belakang keinginan untuk membangun citra tertentu. Jika perhatian terlalu terpusat pada penampilan, seseorang bisa melewatkan kesempatan untuk mengeksplorasi gagasan baru atau memahami isi buku secara lebih mendalam. Namun, motivasi sosial juga bisa menjadi pintu awal yang mendorong seseorang untuk mulai membaca dan mengenal buku yang sebelumnya tidak diminati.
Sementara itu, genuine reading memberi ruang bagi pembaca untuk menikmati proses memahami informasi, cerita, dan pemikiran baru. Pengalaman tersebut dapat membantu memperluas wawasan, melatih kemampuan berpikir kritis, atau memberikan hiburan setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Dampaknya tidak harus langsung terlihat karena terkadang sebuah buku baru terasa relevan ketika pembacanya menghadapi pengalaman tertentu.
Pernahkah kamu membeli buku karena sampulnya menarik, lalu justru menemukan topik yang membuatmu ketagihan membaca? Tidak ada salahnya memulai kebiasaan membaca dari tren, rekomendasi teman, atau keinginan membangun koleksi buku yang estetik. Siapa tahu, buku yang awalnya dipilih untuk dipajang justru menjadi bacaan yang paling berkesan buatmu.






















