Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Hal yang Gak Disadari Menimbulkan Toxic Terbesar dalam Hidup Kita
pexels.com/Craig Adderley

Bukan hanya toxic relationship, tapi toxic kehidupan menjadi salah satu perbincangan yang juga menarik untuk dibahas. Apalagi saat ini, toxic itu semakin mudah ditemui bahkan hal-hal kecil pun sudah banyak yang diselimuti dengan toxic. Dalam pertemanan, misalnya, sebuah gosip bisa dikatakan toxic karena dapat mengubah pandangan kita terhadap seseorang yang tidak dikenal.

Kira-kira, apa sih yang bikin toxic dalam hidup kita? Kenali dalam lima poin berikut, yuk!

1. Lingkungan pergaulan

pexels.com/JESSICA TICOZZELLI

Toxic terbesar berasal dari pergaulan. Dengan siapa kita bergaul, tentu akan mempengaruhi pola pikir, pandangan kita terhadap seseorang. Awalnya, kita merasa kalau si A adalah orang yang baik. Tetapi karena teman-teman kita mengatakan si A jahat, kita pun akan mereview kembali penilaian awal kita terhadapnya. Padahal, kita gak tahu atas dasar apa penilaian jahat itu diberikan. 

Penting bagi kita untuk mempunyai pandangan sendiri terhadap orang lain. Kalau menurut kita si A baik, ya pertahankan penilaian ini. Kalau memang lingkungan pergaulan bikin kita menilai seseorang secara negatif, lebih baik keluar agar hidup kita kembali ke jalan yang benar.

2. Kebanyakan mencari kesalahan orang lain

pexels.com/Elijah O'Donnell

Sebaik apa pun seseorang, pasti pernah melakukan kesalahan. Dan kita gak boleh ngejudge seseorang jahat hanya karena satu kesalahan ini saja. Kita harus bandingkan juga dengan kebaikan yang pernah dia lakukan. Kalau memang porsi baiknya lebih banyak, itu artinya dia masih layak dipertimbangkan sebagai teman.

Jangan jadikan kesalahan sebagai tolak ukur mutlak dalam berteman karena ini menyebabkan toxic. Kalau kita terus-terusan menilai seseorang dari kesalahan, kita gak akan pernah punya teman sampai kapan pun. Sebab, berteman dengan mereka saja sudah bikin kita ngeri sendiri.

3. Kebanyakan nonton film

pexels.com/cottonbro

Percaya atau gak, film-film yang sering kita tonton bisa bikin toxic dalam hidup makin parah. Tahu kenapa? Karena kita mengibaratkan hidup itu seperti plot cerita di film. Sekali bahagia, ya bahagia banget. Sekali sedih, sedihnya minta ampun. Padahal, hidup itu gak seindah dan gak sedrama di film. 

Kalau mau menonton, ya tontonlah film-film yang berbobot. Bisa memberi nilai-nilai kehidupan yang bikin kita semakin menghargai hidup. Jadi, porsi toxic dalam hidup bisa berkurang.

4. Terlalu percaya pada penilaian sendiri

pexels.com/Thegiansepillo

Selain terhadap orang lain, kita juga gak boleh terlalu percaya sama penilaian kita sendiri. Apalagi sama seseorang yang baru kita kenal. Kita gak bolah asal bilang kalau dia tipikal orang yang jahat, egois, keras kepala, dan gak friendly hanya karena kita melihat sisi luarnya saja. Kebiasaan ini tentu dapat bikin toxic hidup kita semakin parah.

Sebaiknya kenali orang tersebut secara intens yang sejatinya butuh waktu yang cukup lama. Amati sifat, gerak-gerik, dan cara orang tersebut memperlakukan sesama yang akan memudahkan kita untuk menilai jati dirinya yang sebenarnya.

5. Kebanyakan mendengar perkataan orang-orang terdekat

pexels.com/CDC

Orang-orang terdekat seperti keluarga dan pacar saja bisa bikin hidup kita toxic, lho! Hal ini terjadi kalau kita terlalu sering mendengar perkataan mereka tanpa membuktikan seperti apa kebenarannya. Memang, kita sayang sama mereka. Tapi, bukan berarti masalah atau dendam mereka menjadi milik kita juga. Apalagi kalau gak ada satu orang pun yang dirugikan.

Cukup jaga jarak dari orang-orang yang keluarga maupun pacar gak sukai. Jadi, relasi kita dengan semua orang tetap baik. 

Bagi kamu yang merasa hidupnya sudah toxic, sebaiknya hindari lima hal di atas agar porsi toxic dalam hidup berkurang. Dengan begini, hidup kamu akan jauh lebih tenang dan tenteram.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article