Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kalimat yang Dapat Makin Menghancurkan Mental Orang Depresi
ilustrasi depresi (pexels.com/Alexandru Molnar)
  • Kurangnya pemahaman kesehatan mental dapat memicu bullying terhadap orang depresi, termasuk dari keluarga, padahal kondisi ini serius dan perlu dicegah agar tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
  • Orang depresi sangat sensitif terhadap ucapan; menyalahkan, menyebut lemah, tidak berguna, atau bercanda soal “gila” berisiko memperburuk kepercayaan diri, harapan, dan kondisi emosionalnya.
  • Depresi merupakan masalah kompleks, bukan semata kurang ibadah. Keluarga perlu menghindari penghakiman, tidak menganggapnya aib, serta memberi dukungan dan ajakan positif untuk bangkit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengetahuan masyarakat yang masih kurang terkait kesehatan mental kerap kali menimbulkan perilaku bullying. Alih-alih mereka berempati dan berusaha membantu orang yang sedang depresi, malah makin menghancurkan mentalnya. Tidak terkecuali pada anggota keluarga sendiri.

Masalah mental merupakan persoalan yang sangat serius. Kondisi kejiwaan yang tak stabil dapat berujung pada tindakan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Kemungkinan terjadinya peristiwa seperti di atas harus dicegah.

Kamu perlu mengerti bahwa orang yang sedang depresi menjadi jauh lebih sensitif terhadap segala bentuk rangsangan dari luar. Ucapan-ucapan yang menurutmu wajar serta tidak dimaksudkan buruk padanya bisa ditangkap secara berbeda. Lima kalimat di bawah ini terlarang untuk dilontarkan di hadapannya.

1. Itu salah kamu sendiri

ilustrasi depresi (pexels.com/David Garrison)

Ucapan yang menyalahkan orang depresi hanya akan memperburuk kondisi mentalnya. Sekalipun dia memang melakukan sesuatu yang kurang tepat, sekarang bukan waktumu untuk menghakiminya. Misalnya, saudaramu depresi karena terus mengejar-ngejar gebetan yang jelas gak ada perasaan apa-apa ke dia.

Sampai akhirnya gebetannya menikah dengan orang lain. Barangkali sejak dulu pun dirimu sudah menasihatinya buat berhenti mengharapkan gebetan. Ia lebih baik fokus ke hal-hal penting dalam hidupnya.

Dia juga bisa mencari gebetan lain yang lebih prospektif untuk menerima cintanya. Kamu harus menahan diri untuk tidak menyalahkan sifat keras kepalanya selama ini. Dirimu hanya perlu fokus untuk membantunya bangkit dan menatap masa depan.

2. Kamu memang payah/lemah

ilustrasi depresi (pexels.com/Kari Alfonso)

Ucapan seperti di atas sama sekali tidak memotivasi bagi orang yang tengah terpuruk secara mental. Orang yang depresi kehilangan kepercayaan pada segala hal yang baik. Itu artinya, dia juga meragukan kemampuan dirinya.

Ia berada di titik kritis dalam memaknai hidupnya. Begitu kamu menyebutnya payah atau lemah, penilaian itu akan terus membayanginya. Bayangannya bahkan jauh lebih buruk daripada maksud dari kata payah atau lemah yang dilontarkan olehmu.

Jika kondisinya sudah seperti ini, siapa pun akan sulit sekali membantunya untuk kembali bersemangat dalam menjalani hidup. Dia merasa kondisinya yang payah atau lemah seperti ucapanmu tidak bisa diubah. Ia makin kehilangan harapan.

3. Hidupmu tidak berguna, gak sekalian bundir saja?

ilustrasi depresi (pexels.com/Andrew Patrick Photo)

Orang yang depresi memang mengalami penurunan produktivitas harian secara signifikan. Ia kehilangan semangat untuk melakukan apa pun. Ini juga seiring dengan keinginannya buat menarik diri dari setiap situasi sosial.

Ia mungkin cuma ingin mengurung diri di kamar walaupun tinggal bersama keluarga. Dia juga tidak lagi rutin mandi, makan, dan aktivitas-aktivitas lain yang umum dalam kehidupan manusia. Itu yang membuatmu menilai hidupnya tidak berguna.

Satu sisi, pandanganmu ada benarnya. Seharusnya dia dapat melakukan lebih banyak hal yang bermanfaat. Namun, hindari untuk mengatakan kalimat seperti dalam subjudul. Kalimat tersebut malah dapat memberinya ide untuk bunuh diri. Padahal, sebelumnya ia gak pernah berpikir sampai ke situ.

4. Awas, nanti gila

ilustrasi depresi (pexels.com/RDNE Stock project)

Kalimat seperti di atas biasanya dilontarkan dengan nada bercanda. Kamu barangkali bermaksud untuk mencairkan suasana dan mengurangi ketegangannya menghadapi berbagai realitas pahit dalam hidup. Namun, kata gila bukan afirmasi positif untuknya yang sedang rapuh secara mental.

Ucapanmu justru cuma bikin dia merasa yakin dirinya memang tidak normal. Kata tersebut juga dapat memancing emosinya. Ia yang sedang mudah sekali tersinggung bukannya merasa diingatkan justru seperti diolok-olok.

Maksudmu tentu gak sejahat itu. Kamu sedang berusaha mencegahnya sampai mengalami kegilaan. Akan tetapi, niat itu mesti diutarakan dengan cara yang lebih positif. Dirimu dapat membimbingnya untuk melihat berbagai kenyataan hidup dengan cara yang lebih baik.

5. Ibadahmu kurang sehingga gampang stres

ilustrasi depresi (pexels.com/Mike Greer)

Banyak orang juga masih mengaitkan masalah kesehatan mental dengan kurangnya ibadah. Seakan-akan orang yang depresi tidak menjalankan ajaran agamanya dengan baik. Mereka menjadi gak punya kekuatan besar untuk bersandar.

Padahal, masalah kejiwaan sangat kompleks. Depresi tidak timbul hanya karena satu masalah yang terjadi hari ini dan diketahui olehmu. Seperti putus cinta, gagal dalam mengejar impian, dan sebagainya.

Apabila perjalanan hidup orang yang depresi ditelusuri sampai jauh ke masa lalu bisa saja telah ada sejumlah kerentanan. Ini dapat disebabkan oleh pola asuh yang kurang tepat, jalan hidup penuh liku sejak anak-anak, sampai masalah terkait jasmaninya. Penghakimanmu seputar ibadah akan membuatnya tambah merasa buruk.

Sama-sama tujuanmu ialah mengajaknya mendekatkan diri pada Tuhan, to the point saja. Dirimu dapat menuntunnya untuk beribadah dan berdoa bersama. Soal seberapa rajin ibadahnya selama ini tidak usah diangkat ke pembicaraan.

Anggota keluarga yang depresi bukanlah aib. Masalah mental tidak jauh berbeda dengan sakit fisik yang dapat terjadi pada siapa pun. Tindakan menyudutkan orang yang depresi hanya akan membuatnya makin terpuruk sehingga mesti dihindari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article