Ruang publik idealnya dapat digunakan dan diakses oleh semua orang, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penyandang disabilitas. Namun, menciptakan lingkungan yang inklusif tidak hanya bergantung pada desain fasilitas atau kebijakan yang diterapkan. Kebiasaan masyarakat dalam menggunakan ruang bersama juga memiliki peran besar dalam menentukan apakah suatu tempat benar-benar ramah bagi semua orang.
Sayangnya, ada sejumlah perilaku yang sering dianggap sepele, tetapi dapat menghambat kenyamanan dan akses orang lain. Karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, banyak orang tidak menyadari bahwa tindakan tersebut bisa membuat ruang publik menjadi kurang inklusif. Berikut lima kebiasaan yang tanpa sadar dapat mengurangi aksesibilitas dan kenyamanan di ruang publik. Yuk, simak!
