Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kebiasaan yang Mencerminkan Gaya Hidup Quiet Luxury
Ilustrasi berpikir sebelum membeli (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Belakangan ini, istilah quiet luxury semakin sering dibahas di media sosial. Meski kerap dikaitkan dengan dunia fashion, konsep ini sebenarnya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar cara berpakaian. Quiet luxury menggambarkan gaya hidup yang mengutamakan kualitas, kesederhanaan, dan keputusan yang diambil secara sadar daripada sekadar mengikuti tren atau menunjukkan status kepada orang lain.

Dalam praktiknya, quiet luxury gak selalu identik dengan barang-barang mahal atau merek ternama. Inti dari konsep ini adalah memilih sesuatu karena nilai, fungsi, dan daya tahannya, bukan karena keinginan untuk terlihat lebih mewah. Cara pandang seperti ini juga dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari mengelola keuangan, mengatur waktu, hingga menentukan prioritas dalam keseharian.

Kalau kamu tertarik menerapkan prinsip quiet luxury, gak perlu langsung mengubah gaya hidup secara drastis. Kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten sudah bisa mencerminkan pola pikir tersebut. Berikut beberapa kebiasaan yang identik dengan konsep quiet luxury.

1. Memilih kualitas daripada kuantitas

Ilustrasi membeli sesuai kebutuhan (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Alih-alih membeli banyak barang, orang yang menerapkan konsep quiet luxury cenderung lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Mereka memilih produk yang dibuat dengan material yang baik, memiliki fungsi yang jelas, dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Dengan begitu, setiap pembelian dilakukan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar keinginan sesaat.

Pendekatan ini juga membuat seseorang lebih berhati-hati sebelum membeli sesuatu. Mereka biasanya meluangkan waktu untuk mempertimbangkan kualitas, daya tahan, dan manfaat barang tersebut dalam keseharian. Cara ini membantu menghindari pembelian impulsif yang sering berakhir jarang digunakan.

Kebiasaan memilih barang yang berkualitas gak hanya membantu mengurangi pembelian yang gak perlu, tetapi juga membuat penggunaan barang menjadi lebih maksimal. Dalam jangka panjang, pola konsumsi seperti ini dapat menghemat pengeluaran sekaligus mendukung gaya hidup yang lebih bijak dan berkelanjutan.

2. Tidak mudah mengikuti tren

Ilustrasi membeli barang bekas (magnific.com/freepik)

Tren terus berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, orang yang menerapkan konsep quiet luxury biasanya gak mudah tergoda untuk membeli sesuatu hanya karena sedang viral atau banyak dibicarakan. Mereka lebih mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan dan akan tetap bermanfaat dalam jangka panjang.

Daripada mengikuti tren yang cepat berganti, mereka cenderung memilih barang dengan desain yang sederhana, berkualitas baik, dan sesuai dengan gaya pribadi. Pendekatan ini membuat barang yang dimiliki lebih mudah dipadukan, tetap nyaman digunakan, dan gak cepat terasa ketinggalan zaman.

Kebiasaan membeli secara lebih selektif juga membantu mengurangi pengeluaran yang kurang perlu sekaligus mendorong pola konsumsi yang lebih bijak. Dengan begitu, setiap pembelian dilakukan karena memang memberikan nilai dan fungsi, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang populer.

3. Merawat barang yang dimiliki

Ilustrasi merawat barang (pexels.com/SHVETS production)

Salah satu kebiasaan yang mencerminkan quiet luxury adalah merawat barang yang sudah dimiliki agar tetap dalam kondisi baik. Alih-alih terus membeli barang baru, seseorang lebih memilih menjaga kualitas pakaian, tas, sepatu, maupun peralatan rumah tangga sehingga dapat digunakan dalam waktu yang lebih lama.

Kebiasaan ini dapat dilakukan dengan langkah sederhana, seperti mencuci pakaian sesuai petunjuk perawatan, menyimpan barang di tempat yang tepat, membersihkan sepatu secara rutin, atau melakukan perawatan ringan pada peralatan yang digunakan setiap hari. Perhatian terhadap hal-hal kecil seperti ini membantu menjaga fungsi dan tampilan barang tetap optimal.

Selain membuat barang lebih awet, kebiasaan merawat barang juga mendorong pola konsumsi yang lebih bijak dan berkelanjutan. Dengan menghargai apa yang sudah dimiliki, kamu gak perlu terus-menerus membeli pengganti hanya karena mengikuti tren atau keinginan sesaat. Pendekatan inilah yang sejalan dengan prinsip quiet luxury, yaitu mengutamakan kualitas, ketahanan, dan penggunaan yang lebih sadar.

4. Mengutamakan pengalaman daripada gengsi

Ilustrasi ikut ke event merajut dan menjahit (magnific.com/garetsvisual)

Konsep quiet luxury tidak selalu berfokus pada kepemilikan barang. Bagi banyak orang, kemewahan justru diartikan sebagai kesempatan untuk menikmati pengalaman yang memberikan nilai dan kepuasan dalam jangka panjang. Karena itu, mereka lebih selektif dalam menentukan apa yang layak menjadi prioritas.

Misalnya, mengalokasikan waktu dan biaya untuk belajar keterampilan baru, menikmati waktu berkualitas bersama keluarga, berlibur sesuai kemampuan, atau mengikuti aktivitas yang mendukung kesehatan fisik dan mental. Pengalaman seperti ini sering kali memberikan manfaat yang bertahan lebih lama dibandingkan kepuasan sesaat dari membeli sesuatu.

Dengan memprioritaskan pengalaman yang bermakna, kamu dapat membangun kehidupan yang terasa lebih seimbang dan memuaskan. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip quiet luxury, yaitu menghargai kualitas hidup melalui pilihan yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai yang benar-benar penting bagimu.

5. Hidup lebih sederhana dan terencana

Ilustrasi menghitung aggaran (magnific.com/ shurkin_son)

Gaya hidup ini juga tercermin dari kebiasaan mengambil keputusan dengan lebih sadar. Alih-alih mengikuti tren atau membeli sesuatu karena dorongan sesaat, seseorang lebih mempertimbangkan apakah pilihan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan, tujuan, dan kondisi keuangannya. Pendekatan seperti ini membuat setiap keputusan terasa lebih bermakna karena didasarkan pada nilai yang diyakini, bukan sekadar keinginan sesaat.

Kebiasaan tersebut dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari mengatur pengeluaran dengan lebih bijak, menghindari belanja impulsif, memilih barang yang kualitasnya baik dan tahan lama, hingga mengalokasikan waktu untuk aktivitas yang benar-benar memberikan manfaat. Prinsip yang sama juga bisa diterapkan saat memilih pekerjaan, membangun hubungan, atau menentukan prioritas dalam keseharian. Dengan lebih selektif, kamu dapat mengurangi keputusan yang diambil secara terburu-buru dan lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.

Pada akhirnya, quiet luxury bukan tentang terlihat mewah di mata orang lain atau memiliki barang-barang dengan harga yang tinggi. Konsep ini lebih menekankan pada kualitas, kenyamanan, serta kemampuan menjalani hidup sesuai dengan kebutuhan dan nilai yang kamu miliki. Gaya hidup ini juga mengajakmu untuk menghargai apa yang sudah dimiliki, mengurangi keinginan untuk selalu mengikuti tren, dan membangun keseharian yang terasa lebih tenang serta seimbang. Dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan tersebut secara konsisten, kamu dapat menciptakan gaya hidup yang lebih bijak, berkelanjutan, dan memberikan kepuasan yang bertahan dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article