"Kami (MMAC - Maison MAC) menaungi beberapa brand lokal, salah satunya Mel Ahyar Archipelago di bawah brand Mel Ahyar. Store baru, memberanikan diri dengan premium butik di Senayan City. Mel Ahyar Archipelago khusus untuk wastra, terpisah dari Mel Ahyar. Selain batik, tenun, kita juga memasukkan semua yang menggunakan kerajinan, merayakan tangan terampil Nusantara," katanya, dalam momen perkenalan store terbaru Mel Ahyar Archipelago di Senayan City sekaligus Re:See Koleksi Tanö Niha, Jumat (25/9/2026).
Menjahit Cerita Pulau Nias dalam Eksplorasi Artefak dan Jiwa Tanö Niha

Mel Ahyar Archipelago membuka butik di Senayan City dan meluncurkan koleksi “Tanö Niha”, mempertegas fokus brand pada wastra serta kerajinan tangan Nusantara.
Riset Mel Ahyar di Nias menempatkan ukiran Omo Salawa sebagai sumber inspirasi, sekaligus menyoroti jejak tenun lokal yang regenerasinya telah terputus.
Koleksi 20 look menerjemahkan relief dan zirah tradisional Nias melalui siluet sculptural, biji hanjeli, serta material eksperimental, sambil mengangkat apresiasi budaya dan pariwisata Nias.
Jakarta, IDN Times - Dunia fashion tanah air kembali disuguhkan oleh mahakarya yang menembus batas-batas eksplorasi tradisi. Mel Ahyar, melalui brand Mel Ahyar Archipelago mempersembahkan koleksi terbaru bertajuk "Tanö Niha", sebuah ide indah bagi kekayaan budaya dan misteri Pulau Nias, Sumatera Utara. Melalui pendekatan desain kontemporer yang berani namun tetap berakar kuat pada identitas Nusantara, koleksi ini menceritakan perjalanan spiritual dan kreatif dalam merayakan tangan-tangan terampil pengrajin daerah.
Di balik kemegahan panggung busana dan kehadiran butik terbarunya, ada narasi mendalam tentang sejarah, perjuangan tradisi, serta eksplorasi material yang tak biasa. Berikut rangkuman kisah eksotika dan proses kreatif di balik koleksi "Tanö Niha".
1. Rumah baru di Senayan City dan komitmen merayakan kerajinan Nusantara

Mel Ahyar Boutique di Senayan City. 25 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto) Kehadiran Mel Ahyar Boutique di Senayan City, Jakarta, menandai langkah berani dalam memperkenalkan eksplorasi budaya Nusantara secara lebih dekat kepada publik. Butik seluas 66 m² tersebut hadir dengan estetika modern yang memadukan palet warna netral, struktur gelap, kayu bernuansa hangat, serta sentuhan warna Bara Jingga sebagai identitas khas Mel Ahyar Archipelago.
Mel Ahyar Archipelago sendiri hadir secara khusus untuk mendedikasikan karya-karyanya pada kekayaan wastra dan seni kriya tradisional Indonesia. Langkah ini mempertegas fokus brand dalam menaungi dan mempopulerkan hasil kerajinan tangan dari berbagai pelosok daerah, sebagaimana disampaikan oleh Arie Panca, Co-Founder & CEO Maison MAC.
2. Omo Salawa sebagai "Perpustakaan Hidup" dan penelusuran jejak tenun yang hilang

Koleksi Mel Ahyar Archipelago bertajuk "Tanö Niha" di pembukaan Fashion Nation Senayan City 2026. 18 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto) Masyarakat Nias tradisional secara historis tidak mengenal sistem aksara sebelum masuknya abjad Latin melalui misionaris Eropa pada abad ke-19. Oleh karena itu, peninggalan peradaban, hukum adat, hingga sejarah terekam abadi melalui seni pahat pada kayu dan batu di dinding Omo Salawa (rumah panggung raja). Bagi Mel Ahyar, relief dan ukiran ini menjadi ground zero serta "perpustakaan hidup" dalam merancang koleksinya.
"Belum puas menggali Sumba dan NTT, gak lama ada teman saya mengirimkan kain lembaran boru Oholu, dari Nias. Excitement hal tersebut membuat saya ingin ke Nias, terlebih ada tawaran untuk pembukaan Fashion Nation, mengingat Mel Ahyar Archipelago akhirnya membuka store di Senayan City," jelasnya.
Perjalanan riset ke Nias juga membawa perjumpaan dengan kenyataan pahit, putusnya regenerasi tenun lokal. Akan tetapi, hal tersebut justru menyulut antusiasme dirinya untuk menggali lebih dalam warisan tersembunyi pulau tersebut.
"Di Nias Selatan, mereka punya baju adat merah dan hitam, tapi dahulu gak dijahit, ditempel. Itu belum bisa disebut wastra, karena di sana juga gak ada wastra, cuma aku menemukan jejak kalau mereka pernah menenun dari daun pandan, hasilnya kasar, tapi ada harapan kalau zaman dahulu ada tenun," lanjut Mel.
3. Relief ukiran sebagai bahasa komunikasi, dilengkapi detail biji hanjeli yang unik

Koleksi Mel Ahyar Archipelago bertajuk "Tanö Niha". (dok. Mel Ahyar Archipelago) Koleksi "Tanö Niha" menghadirkan 20 look bernuansa sculptural yang didominasi warna-warna gelap berkarakter batu. Inspirasi ukiran tradisional Nias diterjemahkan ke dalam ornamen tiga dimensi, siluet angular, serta teknik konstruksi yang kuat. Hal ini terinspirasi dari setiap ornamen rumah adat Nias yang memiliki relief unik sebagai sarana komunikasi visual antar-masyarakat.
Keunikan craftsmanship dalam koleksi ini juga terpancar dari pemilihan material alami yang sangat detail dan autentik. Detail beading pada beberapa item busana tidak menggunakan manik-manik pabrikan biasa, melainkan menggunakan biji Taigue atau Hanjeli (biji dari bunga liar lokal Nias).
"Di setiap rumah itu ornamennya berbeda. Relief tersebut jadi cara berkomunikasi. Kita pun pakai beading bukan dengan manik-manik biasa, tetapi berasal dari biji hanjali," ucapnya.
4. Transformasi zirah baru Oholu dalam eksperimen proses kreatif

Re:See Koleksi Mel Ahyar Archipelago bertajuk "Tanö Niha" di Mel Ahyar Boutique, Senayan City Mall. 25 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto) Elemen historis Nias diangkat secara dramatis lewat siluet yang mengambil referensi dari baru oholu, zirah tradisional berbahan kayu pohon oholu yang dahulunya digunakan prajurit sebagai strategi intimidasi (psywar) lawan. Selain itu, terdapat pula busana sarung printed organdi berbordir serta sunburst pleats see-through dress yang memperluas batas eksplorasi kontemporer.
Proses kreatif koleksi ini juga memamerkan keindahan eksperimen kain yang membiarkan struktur mentah dan proses pembuatannya menjadi bagian dari nilai estetika itu sendiri. Mel Ahyar membagikan cerita mengenai detail teknis dan keunikan barang berharga selama presentasi.
"Ini bukan menggunakan plastik ya, tetapi kita pakai material bernama kertas soluble, yang jika terkena air dia akan luntur, menghilang. Bisa dinamakan unfinished dress, dengan hasil akhir harus direndam air, tapi kami mau biarkan begitu saja guna menunjukkan bentuk proses kreatif itu tetap indah," tuturnya.
"Selain itu, ada juga nih tas antik yang berumur lebih dari 100 tahun, terbuat dari kayu yang diukir. Saya pinjam langsung sama Raja di sana, tapi saat presentasi dibedakin biar kaya bule," imbuh Mel.
5. Menjaga kebudayaan yang dibalut harapan konkret bagi Nias

Koleksi Mel Ahyar Archipelago bertajuk "Tanö Niha" di pembukaan Fashion Nation Senayan City 2026. 18 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto) Secara geografis, Pulau Nias berada relatif terisolasi di Samudra Hindia, sehingga budaya Megalitikumnya, seperti arsitektur Omo Sebua, patung batu, dan tradisi lompat batu (Fahombo), berkembang sangat unik dan "terawetkan" tanpa banyak terpengaruh pengaruh luar. Keunikan inilah yang melandasi pentingnya mengangkat Nias ke panggung mode internasional, seperti di panggung Fashion Nation 20th Edition.
Peluncuran koleksi "Tanö Niha" bukan sekadar ajang peragaan busana, melainkan sebuah misi untuk memberi dampak nyata bagi pariwisata dan apresiasi budaya Pulau Nias yang meliputi Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, hingga Kota Gunungsitoli. Terkait hal ini, Arie Panca berharap ada dampak konkret bagi Pulau Nias agar menjadi wishlist destinasi wisata serta kembalinya wastra di tempat tersebut.
"Kalau setelah show ini Pulau Nias jadi trending dan dikenal lebih banyak orang, itu saja, menurut kami tujuan penciptaan sudah tercapai. Apalagi kalau benar-benar ada dampak yang lebih konkret lagi seperti misalnya Pulau Nias kembali menjadi wishlist wisata orang dan mereka benar-benar ke sana. Wah, alangkah luar biasa sekali," ujar Arie penuh harap.
Melalui koleksi "Tanö Niha", Mel Ahyar Archipelago berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai kebudayaan tidak akan pernah padam selama ada keberanian dan ketulusan untuk terus memperjuangkannya. Dengan memadukan narasi sejarah, keberanian eksperimen material, serta penghormatan atas kerajinan lokal, fashion mampu berperan sebagai jembatan yang menghubungkan memori peradaban masa lalu dengan gaya hidup modern. Kehadiran koleksi ini pun membuka ruang bagi publik luas untuk menikmati, memahami, dan mencintai kisah keindahan dari Pulau Nias.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)








![[QUIZ] Dari Love Language, Seberapa Akrab Hubunganmu dengan Diri Sendiri?](https://image.idntimes.com/post/20250208/love-yourself-beab7a05d394bc9725846ba0664ebe43-8974ac5049088dd23b4fdc945c214ddc.jpg)

![[QUIZ] Pilih Keadaan, Ini Batas Empati Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260709/pexels-mart-production-7699371_570f49dd-45de-4257-8939-7f7fc87f2f84.jpg)


![[QUIZ] Kamu Tipe Tahan Banting atau Perlu Waktu?](https://image.idntimes.com/post/20250531/screenshot-2025-05-31-185403-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-786476ab1d8f15d8942038d9afd86312.png)




![[QUIZ] Dari Warna Favorit, Kamu Tipe Jujur atau Diplomatis?](https://image.idntimes.com/post/20250920/girl_b255f961-225f-4484-9769-6ca360919028.jpg)



![[QUIZ] Dari Tokoh Doraemon, Apa Mimpimu yang Terwujud di Masa Depan?](https://image.idntimes.com/post/20260324/01ker2a6artv77xb64kczmja4c-picsay_5bae9f6a-5d08-4610-a782-1ee38b695169.jpg)