ilustrasi sebuah percakapan antara dua orang (pexels.com/arvi refo)
Jika diamati, tren perkembangan media sosial cepat sekali datang dan pergi, apalagi terkait hal viral hari ini, bisa jadi beberapa minggu kemudian sudah dilupakan massa. Uniknya sastra, itu punya daya tarik yang kuat dan bertahan lama.
Sebagai contoh, karya sastra kerap mengangkat tema-tema yang tetap relevan dari zaman ke zaman seperti romansa, perjuangan, kemanusiaan, hingga keadilan. Ketika mau menikmati karya sastra tersebut, anak muda di perkotaan bisa belajar tentang caranya agar terhubung dengan pola pikir dan pengalaman generasi sebelum mereka. Bisa memahami seperti apa nenek moyang memandang dunia, cara mereka menjalani keseharian, hingga nilai-nilai baik yang mereka miliki.
Bisa bernostalgia sekaligus menguatkan fondasi pelestarian budaya pada masa yang terus banyak perubahan. Sastra jadi ruang yang menghubungkan kehidupan sebelumnya, sekarang, dan yang akan datang. Semangat berliterasi sambil menjaga kearifan lokal.
Nah, bagaimana setelah menyimak beberapa penjelasan tadi bahwa anak muda urban ternyata juga perlu sastra? Ada banyak penawaran baiknya ketika mau meluangkan waktu untuk jeda sejenak sambil menikmati karya sastra yang sesuai minat. Rileks sejenak di tengah padatnya rutinitas media sosialmu. Dalam sehari ada 24 jam, luangkan waktu membaca minimal 15 sampai 30 menit saja secara rutin, maka pikiran lebih fresh, sekaligus membantumu kembali menemukan arti hidup sebagai manusia sejati.
Yuk, coba beri ruang jeda untukmu bersastra dan rasakan sendiri perbedaannya. Kalau sudah menemukan karya yang cocok, di antara lembaran buku atau bacaannya, kamu bisa benar-benar merasakan kebahagiaan yang bahkan sulit diungkapkan, namun begitu lancar hati mensyukuri.