Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Realita Gaya Hidup Konsumtif Ramadan yang Jadi Tradisi, Relate?
ilustrasi boros (pexels.com/Max Fischer)

Bulan Ramadan identik dengan ibadah, refleksi diri, dan pengendalian hawa nafsu. Namun ironisnya, di tengah suasana yang seharusnya menahan diri, justru muncul pola konsumsi yang meningkat drastis. Fenomena ini bahkan seperti menjadi tradisi tahunan yang terus berulang.

Tanpa sadar, banyak orang terjebak dalam gaya hidup konsumtif. Tentunya terasa wajar karena dilakukan bersama-sama. Nah, berikut ini lima realita gaya hidup konsumtif di bulan Ramadan yang mungkin terasa relate dengan keseharian.

1. Berburu takjil berlebihan, ujungnya mubazir

ilustrasi street food (pexels.com/Oleksandr P)

Setiap sore menjelang magrib, suasana pasar Ramadan atau pedagang takjil mendadak ramai. Aneka gorengan, es buah, kolak, puding, hingga minuman kekinian seolah memanggil untuk dibeli semua. Lapar mata sering kali lebih dominan daripada kebutuhan nyata.

Akibatnya? Meja penuh makanan, tapi perut tetap punya batas. Banyak menu yang akhirnya tidak tersentuh dan terbuang. Padahal, esensi puasa adalah belajar cukup dan bersyukur. Namun tradisi lapar kalap ini terus berulang tiap tahun.

2. Bukber menjadi ajang adu gengsi

ilustrasi suasana buka bersama (pexels.com/PNW Production)

Buka bersama (bukber) awalnya bertujuan mempererat silaturahmi. Tapi di era sekarang, bukber sering berubah menjadi ajang gengsi. Pemilihan tempat tak lagi soal kebersamaan, melainkan soal seberapa estetik dan seberapa mahal.

Belum lagi kalau undangan bukber datang bertubi-tubi. Seperti teman sekolah, kuliah, kerja, komunitas, hingga keluarga besar. Tanpa perencanaan, pengeluaran bisa membengkak drastis. Tradisi silaturahmi pun perlahan bergeser menjadi beban finansial terselubung.

3. Diskon Ramadan dan THR yang cepat menguap

ilustrasi diskon (pexels.com/max fischer)

Menjelang pertengahan hingga akhir Ramadan, berbagai pusat perbelanjaan dan platform e-commerce gencar memberikan promo. Momen ini sering dikaitkan dengan kebutuhan lebaran. Mulai dari baju baru, sepatu, hingga perlengkapan rumah.

Padahal, tidak semua barang diskon benar-benar dibutuhkan. Banyak orang yang akhirnya menyesal setelah menyadari saldo rekening menipis bahkan sebelum lebaran tiba. Tradisi belanja besar-besaran ini sering dianggap wajar, padahal bisa berdampak panjang pada kondisi finansial.

4. Tren hampers dan parcel yang semakin kompetitif

ilustrasi berbagi hampers (pexels.com/RDNE Stock Project)

Memberi hampers atau parcel memang bagian dari berbagi kebahagiaan. Namun kini, tradisi tersebut kerap berubah menjadi kompetisi tak tertulis. Isi hampers seolah harus mewah, eksklusif, dan Instagramable.

Mulai dari kue premium, perlengkapan ibadah bermerek, hingga produk edisi spesial Ramadan, semua dikemas cantik demi kesan elegan. Tidak jarang orang memaksakan budget demi menjaga citra atau rasa sungkan. Padahal, makna berbagi tidak diukur dari harga. Sederhana namun tulus jauh lebih bermakna dibanding mahal tapi memberatkan.

5. Lonjakan pengeluaran rumah tangga

ilustrasi belanja (pexels.com/Jack Sparrow)

Menariknya, meski frekuensi makan berkurang menjadi dua kali sehari, pengeluaran rumah tangga justru sering meningkat. Menu sahur dan berbuka cenderung lebih variatif, bahkan lebih mewah dibanding hari biasa. Belanja bahan makanan menjadi lebih banyak, ditambah stok camilan, minuman manis, dan kebutuhan tambahan untuk tamu.

Belum lagi persiapan menjelang lebaran seperti dekorasi rumah, kue kering, dan baju baru. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan sering diperlakukan sebagai bulan konsumsi, bukan sekadar bulan pengendalian diri. Tradisi harus spesial membuat banyak orang merasa perlu meningkatkan standar pengeluaran.

Gaya hidup konsumtif di bulan Ramadan memang terasa seperti tradisi kolektif. Karena dilakukan banyak orang, perilaku ini tampak normal dan sulit dihindari. Padahal, esensi Ramadan justru mengajarkan kesederhanaan, empati, dan pengendalian diri. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati momen. Namun yang perlu dijaga adalah kesadaran dan kendali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team