ilustrasi belanja (pexels.com/Jack Sparrow)
Menariknya, meski frekuensi makan berkurang menjadi dua kali sehari, pengeluaran rumah tangga justru sering meningkat. Menu sahur dan berbuka cenderung lebih variatif, bahkan lebih mewah dibanding hari biasa. Belanja bahan makanan menjadi lebih banyak, ditambah stok camilan, minuman manis, dan kebutuhan tambahan untuk tamu.
Belum lagi persiapan menjelang lebaran seperti dekorasi rumah, kue kering, dan baju baru. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan sering diperlakukan sebagai bulan konsumsi, bukan sekadar bulan pengendalian diri. Tradisi harus spesial membuat banyak orang merasa perlu meningkatkan standar pengeluaran.
Gaya hidup konsumtif di bulan Ramadan memang terasa seperti tradisi kolektif. Karena dilakukan banyak orang, perilaku ini tampak normal dan sulit dihindari. Padahal, esensi Ramadan justru mengajarkan kesederhanaan, empati, dan pengendalian diri. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati momen. Namun yang perlu dijaga adalah kesadaran dan kendali.