Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Tanda Bed Rotting yang Kamu Lakukan Sudah Berlebihan

5 Tanda Bed Rotting yang Kamu Lakukan Sudah Berlebihan
Ilustrasi bed rotting (magnific.com/freepik)
Intinya Sih
  • Istilah bed rotting populer di kalangan Gen Z sebagai cara beristirahat dengan berlama-lama di tempat tidur sambil bermain ponsel atau menonton hiburan.
  • Meski bisa jadi bentuk self-care, kebiasaan ini dapat berdampak negatif jika dilakukan berlebihan, seperti menurunkan produktivitas dan motivasi untuk beraktivitas.
  • Tanda bed rotting berlebihan meliputi sulit memulai aktivitas, rutinitas tertunda, suasana hati memburuk, serta berkurangnya interaksi sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Belakangan ini, istilah bed rotting semakin populer di media sosial, terutama di kalangan Gen Z. Istilah ini merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur sambil bermain ponsel, menonton serial, scrolling media sosial, atau sekadar tidak melakukan apa pun sebagai cara untuk beristirahat dari kesibukan dan tekanan sehari-hari. Bagi sebagian orang, bed rotting dianggap sebagai bentuk self-care yang membantu memulihkan energi setelah menjalani aktivitas yang melelahkan.

Pada dasarnya, meluangkan waktu untuk beristirahat memang merupakan hal yang penting. Tubuh dan pikiran membutuhkan jeda agar dapat kembali berfungsi secara optimal setelah menghadapi berbagai tuntutan pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan pribadi. Karena itu, sesekali menghabiskan waktu untuk bersantai di tempat tidur bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Namun, jika dilakukan terlalu sering atau berlangsung dalam durasi yang berlebihan, bed rotting justru dapat memberikan dampak yang kurang baik. Kebiasaan ini berisiko membuat produktivitas menurun, rutinitas sehari-hari terganggu, dan seseorang menjadi semakin sulit memulai aktivitas. Bahkan, alih-alih merasa segar setelah beristirahat, tidak sedikit orang yang justru merasa lebih lesu atau kehilangan motivasi. Berikut beberapa tanda bahwa kamu mungkin terlalu sering melakukan bed rotting.

1. Sulit memulai aktivitas meski sudah merasa cukup istirahat

Seorang perempuan mengenakan piyama putih sedang meregangkan tangan dan menguap di tempat tidur pada pagi hari di kamar minimalis.
Ilustrasi bangun tidur (pexels.com/ Miriam Alonso)

Beristirahat seharusnya membantu tubuh dan pikiran mendapatkan kembali energi yang dibutuhkan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Setelah beristirahat, seseorang umumnya akan merasa lebih segar, fokus, dan siap kembali melakukan berbagai tugas yang perlu diselesaikan.

Namun, jika kamu tetap merasa enggan memulai aktivitas meski sudah menghabiskan banyak waktu di tempat tidur, bisa jadi bed rotting sudah tidak lagi berfungsi sebagai sarana pemulihan yang efektif. Alih-alih membuat tubuh lebih bertenaga, kebiasaan ini justru dapat membuatmu semakin nyaman untuk terus menunda aktivitas.

Jika kondisi tersebut terjadi secara berulang, bed rotting berisiko berubah menjadi kebiasaan yang membuat seseorang semakin pasif dan sulit keluar dari zona nyaman. Karena itu, penting untuk memperhatikan apakah waktu istirahat yang dilakukan benar-benar membantu memulihkan energi atau justru membuat motivasi untuk beraktivitas semakin menurun.

2. Waktu di tempat tidur sering jauh lebih lama dari yang direncanakan

Seorang perempuan berbaring di tempat tidur sambil melihat ponsel di tangan, dengan lampu meja menyala di sampingnya.
Ilustrasi scroll ponsel (pexels.com/Ron Lach)

Awalnya mungkin kamu hanya ingin berbaring selama beberapa menit untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Niat tersebut sebenarnya tidak masalah dan bahkan bisa menjadi cara untuk memulihkan energi sejenak.

Namun, tanpa disadari, beberapa menit tersebut sering berubah menjadi berjam-jam karena terus menonton video, membuka media sosial, atau melakukan scrolling tanpa tujuan yang jelas. Aktivitas yang awalnya dimaksudkan sebagai jeda singkat akhirnya menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang direncanakan.

Jika hal ini sering terjadi, bisa jadi waktu istirahat sudah mulai sulit dikendalikan. Alih-alih membantu tubuh kembali segar, kebiasaan tersebut justru membuat banyak waktu terlewat tanpa melakukan hal yang benar-benar ingin atau perlu dikerjakan.

3. Rutinitas harian mulai sering tertunda

Seorang wanita duduk di sofa sambil menguap di depan laptop, tampak lelah saat bekerja di ruang tamu yang terang.
Ilustrasi lelah (freepik.com/ yanalya)

Ketika terlalu banyak waktu dihabiskan di tempat tidur, berbagai tugas dan tanggung jawab sehari-hari bisa mulai terabaikan tanpa disadari. Waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan, belajar, atau melakukan aktivitas produktif perlahan berkurang karena lebih banyak dihabiskan untuk berbaring dan menunda aktivitas.

Akibatnya, pekerjaan, belajar, olahraga, maupun aktivitas penting lainnya menjadi lebih sering tertunda. Semakin lama seseorang berada di zona nyaman tersebut, semakin sulit pula untuk memulai aktivitas yang membutuhkan usaha dan energi lebih besar.

Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, tugas yang tertunda dapat menumpuk dan menimbulkan tekanan tambahan di kemudian hari. Karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara waktu beristirahat dan menjalankan aktivitas sehari-hari agar kebutuhan pemulihan tetap terpenuhi tanpa mengganggu rutinitas yang perlu dilakukan.

4. Suasana hati justru terasa lebih buruk setelahnya

Seorang wanita beristirahat di sofa dengan kepala bersandar pada bantal kuning, dikelilingi buku, laptop, dan headphone di ruang tamu.
Ilustrasi bosan (freepik.com/ tonodiaz)

Bed rotting biasanya dilakukan dengan tujuan untuk beristirahat, melepas penat, dan mengurangi stres setelah menjalani hari yang melelahkan. Dalam batas yang wajar, kebiasaan ini memang dapat memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat sejenak dari berbagai tuntutan sehari-hari.

Namun, jika setelah melakukannya kamu justru merasa bersalah, tidak produktif, atau semakin kehilangan semangat untuk beraktivitas, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa waktu yang dihabiskan di tempat tidur sudah tidak lagi memberikan efek pemulihan yang diharapkan. Alih-alih merasa lebih segar, kamu justru merasa semakin sulit untuk kembali menjalani rutinitas.

Ketika kondisi ini mulai terjadi secara berulang, penting untuk mengevaluasi apakah bed rotting benar-benar membantu proses istirahat atau justru menjadi cara untuk menghindari aktivitas yang perlu dilakukan. Istirahat yang sehat seharusnya membuat tubuh dan pikiran merasa lebih siap menghadapi hari berikutnya, bukan meninggalkan rasa lelah atau tidak nyaman setelahnya.

5. Aktivitas sosial mulai berkurang

Seorang perempuan berbaring di tempat tidur dengan ekspresi tenang, diterangi cahaya lampu lembut di kamar yang redup.
Ilustrasi menenangkan diri (pexels.com/Polina )

Terlalu nyaman menghabiskan waktu sendirian di tempat tidur dapat membuat seseorang lebih sering menolak ajakan berkumpul atau aktivitas di luar rumah. Jika hal ini mulai terjadi secara berulang, bisa jadi bed rotting sudah memengaruhi keseimbangan antara waktu istirahat dan kehidupan sosial.

Pada akhirnya, bed rotting dapat menjadi cara untuk beristirahat dan memulihkan energi ketika dilakukan sesekali. Namun, penting untuk tetap memperhatikan batasnya agar kebiasaan ini tidak mengganggu produktivitas, kesehatan mental, maupun rutinitas sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya

Related Articles

See More