Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gen Z Sering Merasa Tertinggal, Ini Cara Berhenti Membandingkan Diri

Gen Z Sering Merasa Tertinggal, Ini Cara Berhenti Membandingkan Diri
ilustrasi membandingkan diri dengan orang lain (pexels.com/cottonbro studio)
Share Article

Membandingkan diri berarti menggadaikan kebahagiaan. Misalnya ketika melihat kesuksesan orang lain di media sosial, rasa iri muncul dan perasaan bahagia dalam diri mulai turun. Siklus ini lama kelamaan menumbuhkan perasaan bahwa diri kita kurang, tak cukup baik, dan kurang optimal dalam menjalani kehidupan, apakah kamu familiar dengan hal semacam ini?

Dokter Susan Biali M.D. dalam Psychology Today menyebut bahwa membandingkan diri dengan oranglain dapat mencuri kebahagiaan. Tindakan ini mendorong kita untuk menilai hasil atau pencapaian orang lain dengan usaha yang tengah kita lakukan, sehingga tak akan muncul perasaan puas. Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan jika menghadapi kondisi semacam ini?

  1. 1. Sadari dan hindari pemicu rasa iri

    Ilustrasi membandingkan diri(pexels.com/Liza Summer)
    Ilustrasi membandingkan diri(pexels.com/Liza Summer)

    Susan menyarankan untuk memperhatikan situasi yang dapat menyebabkan seseorang mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Misalnya, jika penyebab rasa iri adalah kegiatan teman di media sosial, maka cobalah untuk menghindarinya. Penting untuk memahami apakah ada seseorang yang terus-menerus memicu perasaan tidak senang hingga mengakibatkan muncul perasaan rendah diri.

    Menyadari siapa saja yang membuat kamu suka memandingkan diri dapat dilakukan dengan menuliskan nama orang-orang itu. Lalu, tuliskan pula tindakan apa saja yang sekiranya berdampak negatif pada pikiranmu. Setelah paham hal-hal yang dapat memantik rasa iri, mulailah untuk menghindarinya, terutama jika aktivitas itu tidak menambah makna atau nilai nyata dalam hidup.

  2. 2. Ingatlah bahwa membandingkan diri tidaklah adil

    Ilustrasi membandingkan diri(pexels.com/Tirachard Kumtanom)
    Ilustrasi membandingkan diri(pexels.com/Tirachard Kumtanom)

    Ingatkan diri bahwa apa yang telah dicapai atau sedang dijalani orang lain tidak dapat begitu saja dibandingkan dengan kehidupanmu. Sebab, kamu sebenarnya tidak sedang membandingkan dua hal yang setara, melainkan menilai kehidupan orang lain yang sudah dikurasi dengan seluruh proses, perjuangan, dan realitas yang kamu jalani sendiri. Terlebih di media sosial, orang cenderung memilih dan menampilkan bagian-bagian tertentu dari kehidupannya, terutama pencapaian, tanpa selalu memperlihatkan perjuangan yang mereka lalui untuk sampai di titik tersebut.

    Sementara itu, ketika melihat kehidupan sendiri, kamu mungkin justru lebih banyak menyadari perjuangan, progres, kegagalan, dan usaha keras yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Tentunya, kedua hal tersebut tidak bisa dibandingkan secara adil. Susan menegaskan, ketika melihat kebahagiaan atau keberhasilan orang lain, sebaiknya kita turut merasa bahagia atas kondisi tersebut. Namun, jika kehidupan orang lain justru membuatmu merasa bahwa hidupmu lebih buruk, ada baiknya kamu mengambil jarak dari hal tersebut. Sebab, kamu tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik kehidupan yang ditampilkan orang lain.

  3. 3. Merawat dan menumbuhkan rasa percaya diri

    ilustrasi membandingkan diri di media sosial (freepik.com/freepik)
    ilustrasi membandingkan diri di media sosial (freepik.com/freepik)

    Rasa percaya diri perlu kembali dirawat dengan membangun keyakinan bahwa kamu mampu menghadapi berbagai tantangan, termasuk hal-hal kecil dalam keseharian. Menurut Verywell Mind, percaya diri bukan berarti tidak pernah merasa takut atau ragu, melainkan tetap memiliki keyakinan untuk terus melangkah dan menghadapi tantangan. Karena itu, penting untuk belajar lebih percaya pada diri sendiri agar tidak mudah terjebak dalam perbandingan atau terpengaruh oleh hal-hal negatif dari lingkungan sekitar. Kamu juga dapat menggunakan afirmasi positif sekaligus menetapkan tujuan personal yang realistis untuk memperkuat keyakinan tersebut. Pada akhirnya, percaya pada diri sendiri berarti berusaha mencapai target dan tujuan pribadi tanpa harus menjadikan standar orang lain sebagai tolok ukur.

    "Kepercayaan diri tidak hanya memengaruhi Anda dan bagaimana perasaan Anda tentang diri Anda, tetapi juga mengkomunikasikan kepada orang lain bahwa Anda dapat dipercaya dan mampu. Hal ini dapat membantu, baik secara sosial maupun di tempat kerja," ujar Hannah Owens, seorang Licensed Master Social Worker dalam Very Well Mind.

    Merasa tertinggal dan tak cukup baik memang kerap menghantui pikiran generasi muda, terlebih saat melihat pencapaian orang lain di media sosial. Lakukan beberapa tips di atas untuk mengurangi hal semacam ini yang dapat menurunkan produktivitas.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More