Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Gen Z Suka Suarakan Protes lewat Media Sosial? Bukan Apatis!

Kenapa Gen Z Suka Suarakan Protes lewat Media Sosial? Bukan Apatis!
Situasi terkini di depan Gedung DPR RI jelang aksi demonstrasi 27 Agustus 2026. (IDN Times/Sandy Firdaus)
Share Article

Rasa tidak puas generasi muda terhadap berbagai isu yang terjadi di masyarakat kini semakin banyak disuarakan melalui ruang digital. Dengan memanfaatkan teknologi, protes yang dilakukan secara online dinilai bukan lagi sekadar side act, melainkan telah menjadi main stage. Anak muda yang tidak turun ke jalan untuk mengikuti aksi demonstrasi bukan berarti bersikap apatis.

Fenomena ini menunjukkan bahwa cara generasi muda menyampaikan protes ikut berubah seiring perkembangan teknologi. Media sosial menawarkan ruang yang lebih mudah diakses untuk membangun diskusi, kesadaran hingga mendorong lebih banyak orang untuk melakukan aksi kolektif.

  1. 1. Protes digital jadi bentuk aksi baru bagi Gen Z dan Milenial

    Situasi terkini di depan Gedung DPR RI jelang aksi demonstrasi 27 Agustus 2026.
    Situasi terkini di depan Gedung DPR RI jelang aksi demonstrasi 27 Agustus 2026. (IDN Times/Sandy Firdaus)

    Berdasarkan hasil survei IDN Research Institute 2026, generasi muda Indonesia reshaping aksi protes dan membentuk pola baru dalam partisipasi politik. Survei ini dilakukan pada 7-13 April 2025 dengan jumlah peserta survei meliputi 946 milenial dan 903 generasi Z. Hasilnya, 1 dari 5 orang muda Indonesia mengaku bahwa protes digital merupakan bentuk langsung dari ketidakpuasan mereka terhadap tata kelola pemerintahan dan kegagalan kebijakan publik.

    Di era ini, protes tak hanya direalisasikan melalui demonstrasi di jalan, melainkan suara keresahan melalui media sosial. Bentuknya pun tidak selalu berupa tuntutan yang kaku, terkadang dikemas melalui meme, explainer, hingga konten dengan format yang lebih jenaka tanpa menghilangkan pesan utama dari isu yang diangkat.

    Generasi muda semakin kreatif dalam menyampaikan berbagai topik dan keresahan dan menciptakan atensi publik melalui konteks yang disebarkan. Bagi generasi muda, aksi kolektif tidak hanya perlu dilakukan di ruang publik secara langsung, tetapi juga dapat diwujudkan dengan membangun kesadaran melalui percakapan di grup, linimasa media sosial, hingga berbagai momentum yang berlangsung secara daring.

  2. 2. Anak muda tidak apatis, justru lebih kritis

    Sejumlah anggota BEM Semarang Raya tertahan di Jalan Pemuda, Kota Semarang, pada 26 Agustus 2026.
    BEM Semarang Raya tertahan di Jalan Pemuda. (IDN Times/Fariz Fardianto)

    Survei yang dihimpun dalam IMGR 2026 menemukan bahwa generasi Milenial dan Gen Z, bukanlah kelompok yang apatis atau tidak peduli terhadap berbagai persoalan di sekitarnya, melainkan semakin selektif dalam memberikan kepercayaan. Bagi kedua generasi, sebuah kepercayaan harus terlihat (visible), konsisten (consitent), dan ada timbali balik (reciprocal). Sebab, kedua generasi tak hanya mencari kebenaran namun juga kredibilitas untuk menghindari misinformasi.

    Generasi muda Indonesia saat ini tidak hanya menuntut akuntabilitas, tetapi juga menyuarakan prioritas yang jelas dan konkret bagi masa depan bangsa. Data ini menegaskan bahwa generasi muda pada dasarnya memiliki tingkat kepedulian yang tinggi dan mau terlibat dalam menyuarakan suatu isu. Mereka memiliki perhatian besar terhadap prioritas nasional yang dinilai dapat memengaruhi kehidupan mereka. Aspirasi yang disuarakan oleh generasi muda bukan semakin surut, melainkan platform yang digunakan bergeser, dimana media digital menjadi wadah kreatif untuk mereka.

  3. 3. Generasi muda dorong suara kolektif yang lebih besar lewat media sosial

    Massa BEM Semarang Raya menggelar demonstrasi di kawasan Tugu Muda, Semarang, dalam suasana aksi di ruang publik.
    Demo BEM Semarang Raya di Tugu Muda Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

    Generasi Z dan milenial menilai bahwa protes digital menjadi bentuk aksi baru untuk menyuarakan berbagai isu seperti stabilitas ekonomi, kesehatan, pendidikan, MSME support, hingga ketahanan pangan. Pasalnya, suara generas muda tidak hanya penting dalam protes namun juga dalam kemitraan.

    Langkah tersebut menjadi bentuk baru dari engagement yang diciptakan oleh Gen Z dan Milenial. Bagi mereka, perhatian adalah kekuatan, sehingga protes pun berupaya dibentuk ulang agar lebih cepat, tajam, dan sesuai dengan karakter masing-masing platform digital.

    Dengan demikian, generasi muda tidak serta-merta dapat dianggap apatis terhadap isu sosial, politik, dan berbagai persoalan lainnya. Sebaliknya, mereka tengah membentuk ulang ruang digital sebagai arena tempat keputusan dan narasi dapat dipertontonkan, diperdebatkan, serta diperkuat untuk mendorong suara kolektif yang lebih besar.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More