cover buku Tender Is the Flesh (amazon.com)
Novel distopia karya penulis Argentina Agustina Bazterrica ini menghadirkan dunia yang berubah setelah virus membuat daging hewan tidak lagi aman dikonsumsi manusia. Pemerintah kemudian menjalankan apa yang disebut sebagai Transition, perubahan sistem yang membuat konsumsi daging manusia dilegalkan. Tokoh utamanya, Marcos Tejo, bekerja di industri pengolahan manusia untuk konsumsi. Ia berusaha menjalani pekerjaannya dengan memusatkan perhatian pada angka, pesanan, dan prosedur, seolah-olah yang diprosesnya bukan manusia. Namun, situasi mulai berubah ketika ia menerima seorang perempuan sebagai hadiah dan mulai memandangnya sebagai individu, bukan sekadar komoditas.
Kengerian novel ini terletak pada normalisasi kekerasan. Pemerintah mengesahkan sistem tersebut, industri menjalankannya, dan masyarakat perlahan menerima praktik yang sebelumnya dianggap tidak dapat dibenarkan. Bahasa pun berperan penting; istilah administratif digunakan untuk menyamarkan kenyataan bahwa manusia sedang diperlakukan sebagai barang. Bazterrica mengajak pembaca mempertanyakan bagaimana hukum dan kepentingan ekonomi dapat membentuk batas moral masyarakat. Kritik novel ini tidak hanya tertuju pada pemerintah, tetapi juga pada sistem industri dan masyarakat yang ikut mempertahankan eksploitasi. Dengan pendekatan horor distopia yang brutal, buku ini menunjukkan bahwa sesuatu yang dilegalkan belum tentu dapat dibenarkan secara etis.
Keenam buku tersebut memperlihatkan bahwa rasa takut dapat menjadi cara untuk memahami hubungan antara manusia dan kekuasaan. Margaret Atwood menghadirkan negara yang mengendalikan tubuh perempuan, Silvia Moreno-Garcia membongkar rahasia keluarga elite dalam latar kolonial, sedangkan Ricardo Romero menggunakan sebuah ruangan untuk menggambarkan kepatuhan terhadap pemimpin. Victor LaValle dan Stephen Graham Jones mengangkat persoalan rasisme serta pengalaman masyarakat adat melalui horor supernatural. Sementara itu, Agustina Bazterrica membayangkan sistem yang mengubah eksploitasi manusia menjadi sesuatu yang legal.
Meski genre dan pendekatannya berbeda, buku-buku ini memiliki satu pertanyaan yang sama: apa yang terjadi ketika kekuasaan tidak lagi melindungi manusia, tetapi justru menjadi sumber ketakutannya? Horor dapat membuat pertanyaan tersebut terasa lebih tajam, karena membawa pembaca berhadapan dengan situasi ekstrem yang menguji moralitas, kebebasan, dan kemanusiaan. Pada akhirnya, monster dalam sebuah cerita mungkin hanya rekaan, tetapi ketidakadilan yang mengilhami kemunculannya bisa memiliki akar yang nyata.