Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Cara Menikmati Membaca Tanpa Tertekan Target Buku
ilustrasi menikmati waktu membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)
  • Target membaca sebaiknya menjadi panduan fleksibel, bukan kewajiban; jumlah buku yang selesai tidak menentukan nilai seseorang sebagai pembaca.
  • Pilih bacaan sesuai minat, jangan membandingkan kecepatan dengan orang lain, dan izinkan diri berhenti dari buku yang tidak cocok.
  • Alihkan fokus dari angka ke pengalaman: baca tanpa memantau progres, eksplorasi genre atau penulis, serta nilai manfaat dari kesan yang ditinggalkan buku.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membaca buku seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan. Namun, terkadang kita justru terlalu fokus pada berapa banyak buku yang sudah selesai dibaca. Ada target bulanan, target tahunan, sampai keinginan untuk mengejar jumlah bacaan seperti orang lain.

Padahal, tidak ada aturan bahwa semakin banyak buku yang dibaca berarti semakin baik. Kamu tetap bisa menikmati membaca tanpa harus terburu-buru menyelesaikan satu buku demi satu buku. Beberapa cara berikut bisa membantu agar aktivitas membaca tetap terasa santai dan menyenangkan.

1. Jadikan target sebagai panduan, bukan kewajiban

ilustrasi seorang wanita membaca buku dengan santai (pixabay.com/kaboompics)

Memiliki target seperti membaca 12 atau 24 buku dalam setahun boleh saja. Anggap angka tersebut sebagai gambaran kecil untuk memotivasi diri, bukan sebuah kewajiban yang harus dicapai dengan segala cara. Kalau bulan ini hanya berhasil menyelesaikan satu buku, itu tetap sebuah pencapaian.

Kehidupan sehari-hari juga tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masa ketika pekerjaan sedang padat, tubuh membutuhkan lebih banyak istirahat, atau perhatian sedang tersita oleh hal lain. Jadi, tidak perlu merasa gagal hanya karena jumlah buku yang dibaca belum sesuai target. Reading goals seharusnya membantu kamu membaca lebih banyak, bukan membuat membaca terasa seperti pekerjaan tambahan.

2. Pilih buku berdasarkan minat, bukan jumlah halaman

ilustrasi seorang wanita mencari buku bacaan di rak (pexels.com/Ivan Vi)

Saat terlalu fokus mengejar target, kamu mungkin tergoda memilih buku yang lebih tipis agar bisa cepat menambah angka. Buku tebal atau cerita yang membutuhkan waktu lebih lama akhirnya terasa seperti hambatan. Padahal, buku yang bagus tidak seharusnya dinilai dari seberapa cepat kamu bisa menyelesaikannya.

Cobalah memilih bacaan berdasarkan apa yang sedang ingin kamu nikmati. Kalau sedang ingin membaca novel ringan, pilih saja novel ringan. Kalau sedang tertarik dengan buku yang cukup tebal, tidak masalah menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikannya. Pengalaman membaca yang berkesan jauh lebih penting daripada sekadar menambah satu angka di reading tracker.

3. Berhenti membandingkan kecepatan membaca

ilustrasi seorang wanita membaca buku (pexels.com/Vlada Karpovich)

Melihat orang lain menyelesaikan puluhan bahkan ratusan buku dalam setahun memang bisa membuatmu ikut termotivasi. Namun, kebiasaan tersebut juga bisa membuatmu merasa tertinggal ketika kecepatan membacamu tidak sama. Apalagi media sosial membuat pencapaian membaca orang lain terlihat jauh lebih sering daripada proses panjang di baliknya.

Ingat bahwa setiap orang memiliki waktu luang, rutinitas, dan kondisi yang berbeda. Ada yang bisa membaca beberapa jam sehari, sementara ada yang hanya sempat membuka buku selama 15 menit sebelum tidur. Keduanya tetap merupakan aktivitas membaca. Daripada membandingkan jumlah buku, lebih baik perhatikan apakah kamu menikmati waktu yang kamu habiskan bersama buku.

4. Izinkan diri untuk meninggalkan buku

ilustrasi seorang wanita membawa setumpukan buku (pexels.com/Olha Ruskykh)

Tidak semua buku yang kamu mulai harus selesai sampai halaman terakhir. Kadang-kadang ceritanya tidak sesuai ekspektasi, bahasanya terasa sulit dinikmati, atau memang sedang tidak cocok dengan mood-mu. Memaksakan diri menyelesaikan buku hanya demi mencentang satu judul justru bisa membuat membaca terasa melelahkan.

Berikan dirimu izin untuk berhenti ketika sebuah buku memang tidak lagi menarik. Kamu bisa menyimpannya untuk dibaca lagi di lain waktu atau memilih buku lain yang lebih sesuai. Dengan begitu, waktu membaca tetap terasa seperti pilihan pribadi, bukan tugas yang harus diselesaikan.

5. Ganti target jumlah buku dengan pengalaman

ilustrasi seorang wanita membaca banyak buku (pexels.com/George Milton)

Kalau target berupa angka justru membuatmu tertekan, coba ubah bentuk reading goals. Misalnya, daripada menargetkan membaca 30 buku, kamu bisa membuat target untuk mencoba tiga genre baru, membaca buku dari penulis yang belum pernah dikenal, atau menyelesaikan satu buku yang sudah lama berada di rak.

Target seperti ini membuat pengalaman membaca terasa lebih beragam. Kamu juga tidak hanya mengejar berapa banyak buku yang selesai, tetapi memperhatikan apa yang kamu dapatkan dari setiap bacaan. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan bahwa manfaat membaca tidak selalu mudah diukur hanya melalui jumlah buku atau halaman.

6. Sisihkan waktu membaca tanpa melihat progres

ilustrasi membaca buku dekat jendela (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Sesekali, cobalah membaca tanpa membuka reading tracker. Tidak perlu menghitung sudah berapa halaman yang dibaca atau berapa persen buku yang tersisa. Cukup ambil buku, cari posisi yang nyaman, lalu biarkan dirimu menikmati cerita tanpa memikirkan progres.

Cara sederhana ini bisa mengembalikan sensasi membaca seperti ketika pertama kali jatuh cinta pada buku. Kamu bisa membaca sambil menikmati kopi, duduk di reading corner, atau sekadar bersantai di tempat tidur. Bukannya mengejar halaman berikutnya, kamu justru memberi kesempatan pada diri sendiri untuk benar-benar hadir di dalam cerita.

7. Ukur keberhasilan dari apa yang kamu rasakan

ilustrasi seorang wanita menikmati waktu membaca buku (pexels.com/freestocks.org)

Satu buku bisa saja selesai dalam sehari, tetapi belum tentu meninggalkan kesan yang mendalam. Sebaliknya, buku yang membutuhkan waktu berminggu-minggu mungkin justru membuatmu berpikir tentang banyak hal setelah selesai membacanya. Karena itu, jangan hanya menggunakan angka sebagai ukuran keberhasilan membaca.

Coba tanyakan pada diri sendiri setelah menyelesaikan sebuah buku: apakah ceritanya membuatku bahagia, terhibur, belajar sesuatu, atau melihat sebuah hal dari sudut pandang berbeda? Kalau jawabannya iya, berarti waktu yang kamu habiskan untuk membaca tidak sia-sia. Pada akhirnya, pengalaman dan hubungan personal dengan buku bisa jauh lebih berarti daripada seberapa cepat kamu menyelesaikannya.

Reading goals memang bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk menjaga kebiasaan membaca. Namun, target tersebut sebaiknya tetap fleksibel dan mengikuti kehidupanmu, bukan sebaliknya. Ketika angka mulai membuatmu merasa bersalah, cemas, atau kehilangan kesenangan membaca, tidak ada salahnya untuk mengambil jeda dari target tersebut.

Kamu tidak harus membaca sebanyak orang lain untuk disebut sebagai pembaca. Satu buku yang benar-benar kamu nikmati tetap lebih berarti daripada puluhan buku yang hanya kamu selesaikan demi mengejar angka. Jadi, buka buku yang memang ingin kamu baca, nikmati ceritanya, dan biarkan proses membaca berjalan dengan ritmemu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article