Keyakinan tersebut membuat banyak orang memilih bertahan di dalam sistem yang sebenarnya sudah mereka anggap rusak, dengan harapan suatu hari nanti mereka memiliki cukup pengaruh untuk memperbaikinya. Kenyataannya, mengubah sistem tidak sesederhana mempertahankan idealisme dan menyampaikan gagasan yang lebih baik. Berikut lima alasan mengapa mengubah sistem yang sudah buruk dari dalam sering kali hanya menjadi omong kosong.
5 Alasan Mengubah Sistem yang Buruk dari Dalam Itu Omong Kosong

- Upaya mengubah sistem buruk dari dalam sering tersendat karena individu lebih banyak menghabiskan energi untuk beradaptasi dengan birokrasi, hierarki, dan kebiasaan lama.
- Idealisme dapat terkikis oleh kompromi demi mempertahankan posisi, sementara kritik kerap ditolak karena kepentingan politik, senioritas, hubungan personal, atau kekhawatiran kehilangan kekuasaan.
- Janji perubahan yang terus ditunda berisiko membuat seseorang melanggengkan masalah, terutama saat pekerjaan, penghasilan, reputasi, dan karier bergantung pada sistem tersebut.
Gagasan untuk mengubah sistem dari dalam sering dianggap sebagai langkah paling masuk akal bagi orang yang ingin membawa perubahan. Dengan kemampuan, kredibilitas, dan idealisme yang dimiliki, seseorang mungkin merasa bisa memperbaiki aturan yang tidak adil, membenahi budaya kerja yang bermasalah, atau mengubah cara sebuah organisasi mengambil keputusan.
1. Lebih sibuk beradaptasi daripada membawa perubahan

ilustrasi adaptasi (pexels.com/fauxels) Salah satu ironi terbesar dari upaya mengubah sistem dari dalam adalah banyaknya waktu yang justru dihabiskan untuk memahami cara kerja sistem tersebut. Pada awalnya, kamu mungkin masuk dengan sejumlah gagasan untuk memperbaiki keadaan, tetapi berbagai prosedur, hierarki, dan kebiasaan lama harus dipelajari sebelum gagasan tersebut bisa dipertimbangkan. Energi yang semula ingin digunakan untuk menyelesaikan masalah akhirnya dialihkan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sudah terbentuk.
Situasi ini bisa ditemukan di lingkungan kerja yang memiliki budaya tidak sehat, organisasi dengan birokrasi berbelit-belit, hingga institusi yang menolak cara kerja baru. Seseorang yang ingin memperbaiki proses kerja mungkin harus melewati serangkaian persetujuan, meyakinkan banyak pihak, dan menunggu keputusan dari orang-orang yang tidak merasakan langsung dampak masalah tersebut. Perubahan yang seharusnya bisa dilakukan dalam waktu singkat akhirnya tertunda selama berbulan-bulan, sedangkan kebiasaan lama terus dipertahankan.
2. Idealisme bisa terkikis demi mempertahankan posisi

ilustrasi idealisme (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Idealisme sering menjadi alasan seseorang memutuskan untuk masuk ke dalam sistem yang dianggap bermasalah. Harapannya, kehadiran orang yang memiliki prinsip dan keberanian untuk bersuara bisa membawa sudut pandang baru. Namun, ketika perubahan membutuhkan dukungan dari pihak-pihak yang justru diuntungkan oleh keadaan lama, idealisme tersebut akan berhadapan dengan pilihan yang tidak mudah antara mempertahankan prinsip atau menjaga posisi agar tetap memiliki pengaruh.
Kompromi kecil sering menjadi awal dari perubahan sikap yang lebih besar. Kamu mungkin bersedia mengabaikan satu keputusan yang bertentangan dengan prinsip karena menganggap masih ada persoalan lain yang lebih penting untuk diperjuangkan. Pada kesempatan berikutnya, kamu kembali menerima keputusan serupa dengan alasan belum memiliki cukup kewenangan untuk menolaknya. Pola tersebut bisa berulang sampai sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak dapat ditoleransi mulai terlihat wajar.
3. Sistem yang buruk tak selalu memberi ruang bagi kritik

ilustrasi kritik (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Keinginan untuk memperbaiki sistem sering berangkat dari asumsi bahwa gagasan yang masuk akal akan mendapatkan kesempatan untuk dipertimbangkan. Kenyataannya, kualitas sebuah gagasan tidak selalu menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan. Hubungan personal, kepentingan politik, senioritas, dan kekhawatiran kehilangan kekuasaan bisa memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada manfaat perubahan yang ditawarkan.
Dalam lingkungan yang tidak terbiasa menerima kritik, orang yang menyampaikan persoalan justru bisa dianggap sebagai sumber gangguan. Masalah yang seharusnya dibahas secara terbuka dapat dialihkan menjadi persoalan sikap, loyalitas, atau kemampuan bekerja sama. Kritik terhadap kebijakan kemudian diperlakukan seolah-olah merupakan serangan terhadap orang yang membuat kebijakan tersebut. Akibatnya, pembahasan mengenai akar masalah semakin sulit dilakukan karena perhatian sudah bergeser pada pihak yang berani mengungkapkannya.
4. Kamu bisa terjebak dalam janji perubahan yang tidak pernah selesai

ilustrasi perubahan (pexels.com/Nataliya Vaitkevich) Perubahan dari dalam sering dipertahankan melalui keyakinan bahwa keadaan akan membaik setelah seseorang memperoleh jabatan, pengalaman, atau kewenangan yang lebih besar. Ketika masih berada di posisi awal, kamu mungkin merasa belum cukup berpengaruh untuk mengambil keputusan. Setelah mendapatkan promosi, tantangan baru muncul dalam bentuk tanggung jawab yang lebih besar, kepentingan yang harus dijaga, dan tuntutan untuk mengikuti kebijakan yang sudah ditetapkan oleh pihak di atasmu.
Janji bahwa perubahan akan dilakukan pada kesempatan berikutnya bisa membuat seseorang terus menunda keputusan penting. Setiap hambatan dipandang sebagai alasan untuk menunggu waktu yang lebih tepat, sementara target perubahan perlahan bergeser semakin jauh. Kamu mungkin sudah menghabiskan bertahun-tahun untuk membangun kredibilitas dan memperluas pengaruh, tetapi persoalan yang pertama kali ingin diselesaikan masih berada di tempat yang sama.
5. Bertahan di dalam sistem bisa membuatmu ikut melanggengkan masalah

ilustrasi korupsi (unsplash.com/Nohe Pereira) Alasan terakhir yang sering diabaikan adalah kemungkinan bahwa seseorang justru ikut mempertahankan sistem yang ingin diubahnya. Pada awalnya, kehadiranmu mungkin didasari keinginan untuk memperbaiki keadaan. Namun, ketika pekerjaan, penghasilan, reputasi, dan masa depan karier mulai bergantung pada sistem tersebut, keputusan yang diambil tidak lagi hanya mempertimbangkan benar atau salah, tetapi juga risiko yang harus ditanggung apabila kamu menentang aturan yang berlaku.
Keterlibatan dalam sistem tidak selalu berarti seseorang secara sadar mendukung praktik yang buruk. Ada orang yang tetap bertahan karena membutuhkan penghasilan, memiliki tanggungan keluarga, atau belum mempunyai pilihan lain yang realistis. Meski demikian, tekanan untuk mengikuti aturan dapat membuat seseorang terlibat dalam rutinitas yang sebelumnya ingin dihentikan, misalnya dengan menjalankan kebijakan yang tidak adil, membiarkan pelanggaran kecil, atau memilih diam ketika keputusan yang merugikan orang lain dibuat.
Mengubah sistem yang buruk dari dalam bukan sesuatu yang mustahil, tetapi keberhasilannya tidak bisa hanya mengandalkan idealisme, kemampuan pribadi, atau keyakinan bahwa kerja keras pada akhirnya akan dihargai. Perubahan membutuhkan ruang untuk menyampaikan kritik, dukungan yang cukup kuat, akses terhadap pengambilan keputusan, dan kesediaan untuk mengubah aturan yang menjadi sumber masalah. Tanpa kondisi tersebut, usaha memperbaiki berisiko berubah menjadi proses panjang yang lebih banyak menuntut penyesuaian daripada menghasilkan perubahan.
Referensi:
"Unlearning the Hierarchy – Why Systems Change Is So Much Harder Than It Sounds." BD Collective. Diakses pada Oktober 2026
"Why a Bad System Will Always Beat a Good Person." Thinkers360. Diakses pada Oktober 2026

















![[QUIZ] Dari Situasi Upin & Ipin Ini, Kamu Seberapa Jago Menekan Gengsi?](https://image.idntimes.com/post/20261014/img_20261014_144802_e0b96ea8-3a57-4872-ad9e-86a5e467aa7b.jpg)




