ilustrasi bekal spaghetti (pexels.com/Greta Hoffman)
Membawa bekal memang berpotensi menghemat, tetapi bukan berarti semua biaya otomatis menjadi lebih rendah. Kamu tetap perlu memperhitungkan harga bahan makanan, bumbu, minyak, gas atau listrik untuk memasak, serta kemungkinan bahan makanan terbuang.
Jika kamu membeli banyak bahan yang akhirnya rusak di kulkas, penghematan yang diharapkan justru bisa hilang. Karena itu, ukuran keberhasilan membawa bekal bukan sekadar berapa rupiah yang dikeluarkan untuk satu kotak makan.
Coba bandingkan total biaya makan siang selama sebulan sebelum dan sesudah membawa bekal. Misalnya, jika membeli makan siang rata-rata Rp25 ribu selama 22 hari kerja, totalnya Rp550 ribu. Jika bekal rata-rata Rp12 ribu per porsi, total bahan sekitar Rp264 ribu.
Selisih Rp286 ribu per bulan berarti sekitar Rp3,4 juta dalam setahun, dengan asumsi jumlah hari kerja dan biaya per porsi tetap sama. Jadi, semakin terencana belanja dan masaknya, semakin besar kemungkinan bekal benar-benar menjadi strategi hemat.
Membawa bekal ke kantor bukan sekadar tren hidup hemat, tetapi bisa menjadi kebiasaan sederhana untuk mengontrol pengeluaran harian. Penghematannya paling terasa ketika kamu merencanakan menu, menggunakan bahan secara maksimal, dan memasak dalam jumlah beberapa porsi.