Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Budaya Jepang Jouhatsu, Menguap dan Menghilang!

ilustrasi orang Jepang berjalan kaki di tengah kota
ilustrasi orang Jepang berjalan kaki di tengah kota (unsplash.com/Cory Schadt)
Intinya sih...
  • Budaya jouhatsu adalah budaya menghilangkan identitas diri dan memulai kehidupan yang baru.
  • Alasan seseorang memilih melakukan jouhatsu cukup beragam, seperti penyakit, tekanan finansial, masalah pekerjaan, stigma sosial, dan lain sebagainya.
  • Budaya Jepang jouhatsu telah hadir sejak tahun 1960-an dengan diperkirakan 100.000 orang melakukan budaya ini setiap tahunnya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang memiliki budaya kerja keras dan disiplin yang cukup tinggi. Selain itu, terdapat banyak budaya lain yang umum di Jepang, salah satunya adalah jouhatsu. 

Budaya Jouhatsu bukanlah topik umum dalam percakapan seperti topik mengakhiri hidup. Simak penjelasan mengenai budaya jepang jouhatsu berikut ini!

1. Pengertian jouhatsu

ilustrasi turis Jepang
ilustrasi turis Jepang (unsplash.com/James Pere)

Secara harfiah, jouhatsu memliki arti menguap atau menghilang. Budaya ini merupakan budaya menghilangkan identitas diri dan memulai kehidupan yang baru. Dalam TIME, dikisahkan jurnalis Prancis bernama Léna Mauger, telah menyelidiki fenomena jouhatsu atau "orang yang menguap". Dalam bukunya, hampir seratus ribu orang Jepang menghilang tanpa jejak setiap tahun.

Seseorang yang melakukan jouhatsu biasanya akan dengan sengaja menghilang secara perlahan dan menyembunyikan keberadaannya selama bertahun-tahun. Mereka akan menghilang dari kehidupan mereka, meninggalkan rumah, pekerjaan, dan keluarga tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. 

2. Ketika memilih menghilang

Nara, Jepang
Nara, Jepang (unsplash.com/Jo Sorgenfri)

Alasan seseorang memilih melakukan jouhatsu cukup beragam. Beberapa di antaranya adalah penyakit, tekanan finansial, masalah pekerjaan, stigma sosial, penyintas KDRT, dan lain sebagainya. 

Dengan adanya fenomena sekentei atau malu saat mengalami kegagalan maupun karoshi atau mati karena kerja berlebihan, jouhatsu menjadi pilihan untuk menurunkan angka kematian. Fenomena ini juga jadi peluang menenangkan diri bagi masyarakat Jepang. 

3. Telah hadir selama puluhan tahun

ilustrasi pasangan cerai
ilustrasi pasangan cerai (pexels.com/cottonbro studio)

Budaya Jepang jouhatsu ini telah hadir sejak tahun 1960-an. Pada masa tersebut, tingkat perceraian dan bunuh diri di Jepang cukup rendah karena banyak orang memilih untuk menghilang. 

Setiap tahunnya, diperkirakan 100.000 orang melakukan budaya jouhatsu. Angka ini tidak pernah dilaporkan secara pasti. Namun, menurut survei Badan Kepolisian Nasional Jepang dalam laman Nippon.com, pada masa COVID-19, tepatnya pada tahun 2022, sebanyak 84.910 orang dilaporkan hilang.

4. Pemerintahan Jepang terhadap Jouhatsu

transaksi ATM
transaksi ATM (freepik.com/senivpetro)

Pemerintah Jepang dan kepolisian tidak akan campur tangan terhadap orang yang melakukan jouhatsu, kecuali ada alasan lain seperti kejahatan atau kecelakaan. Mereka yang melakukan jouhatsu, mendapatkan perlindungan privasi dan dapat dengan bebas menarik uang dari ATM dan tinggal di apartemen atau hotel tanpa memberikan tanda pengenal. 

Untuk mereka yang ingin melakukan jouhatsu, terdapat perusahaan yang membantu untuk memermudah proses ini. Dilansir BBC, operasi ini disebut 'pindahan malam' yang bersifat rahasia. 

Bagi keluarga, terdapat organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk mendukung keluarga jouhatsu dan memperkirakan jumlah orang hilang setiap tahunnya. Organisasi tersebut dikenal dengan nama 'Asosiasi Dukungan Pencarian Orang Hilang Jepang'. 

Budaya Jepang Jouhatsu hanyalah salah satu dari banyaknya budaya dan fenomena di Jepang. Namun, hal ini tetap tabu jika kamu membicarakannya secara umum kepada orang Jepang atau saat berada di Jepang. Semoga informasi ini dapat membantu, ya!

Penulis: Dara Mardotilah

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Latest in Life

See More

Kenapa Penting Meminta Maaf kepada Anak?

07 Jan 2026, 23:54 WIBLife