hobi berkebun (magnific.com/jcomp)
Tahukah kamu bahwa hobi berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis? Sudah banyak riset yang menyatakan keterhubungan antara hobi dengan kondisi psikologis seseorang. Bahkan, hobi sebenarnya bisa menjadi ‘penyelamat’ di tengah arus hidup yang terus menekan dari segala sisi.
“Hobi dapat membantu mengurangi dampak pekerjaan yang penuh tekanan dan memitigasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kelelahan kerja (burnout),” kata Elizabeth Scott, PhD, seorang penulis dan edukator, dalam Verywell Mind.
Salah satu riset dilakukan oleh peneliti dari University College London (UCL) di 16 negara selama 4-8 tahun. Mereka menemukan bahwa memiliki hobi seperti berkebun, membaca, kriya, bisa menurunkan level depresi orang-orang yang usianya 65 tahun ke atas.
Dalam riset yang diterbitkan dalam Nature Medicine tersebut menyebut bahwa ada negara-negara dengan angka harapan hidup dan tingkat kebahagiaan nasional yang lebih baik, lebih banyak orang melaporkan memiliki hobi, dan hubungan antara kesejahteraan dan memiliki hobi juga lebih kuat di negara-negara tersebut.
"Penelitian teoretis menunjukkan bahwa hubungan antara hobi dan kesejahteraan mungkin bersifat timbal balik – bahwa orang dengan kesehatan mental yang lebih baik mungkin lebih cenderung untuk menekuni hobi, dan tekun dalam suatu hobi dapat membantu kita mempertahankan kepuasan hidup yang lebih baik,” ujar Dr Karen Mak, peneliti dari The UCL Institute of Epidemiology and Health Care.
Bagaimana dengan Indonesia, apakah tingkat kepuasan hidupnya tinggi? Di awal tahun, Presiden Prabowo Subianto sempat menyebut bahwa Indonesia menjadi negara paling bahagia. Namun, hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ia mengutip Global Flourishing Study yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dalam Human Flourishing Program di Harvard, Baylor University’s Institute for Studies of Religion, dan Gallup. Yang sebenarnya, Indonesia menunjukkan skor tertinggi untuk nilai flourishing, yang merujuk pada kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, serta hubungan sosial yang dekat.
Bahkan indeks skor untuk aspek dimensi stabilitas finansial dan material, Indonesia berada di peringkat kedua terbawah. Sangat kontras melihat bagaimana Indonesia punya tingkat flourishing yang tinggi, tapi belum unggul dalam hal finansial. Sementara, hobi yang seharusnya bisa memberikan rasa senang dan kelegaan pun tetap punya ‘harga’nya.