Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi membaca buku (pexels.com/Anna Pou)
  • Hobi seperti membaca dan minum kopi dapat berkaitan dengan kesejahteraan psikologis, tetapi biaya untuk menikmatinya bisa bertambah karena pajak.

  • Buku hiburan dikenakan PPN, sementara transaksi restoran dan kafe umumnya memiliki pajak dengan tarif paling tinggi 10 persen.

  • Gen Z tidak harus berhenti menjalankan hobi, karena ada pilihan seperti meminjam buku, bertukar buku, atau membuat kopi sendiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2018

International Publishers Association dan Federation of European Publishers menerbitkan laporan tentang pajak pertambahan nilai atas buku di berbagai negara.

di awal tahun

Presiden Prabowo Subianto sempat menyebut Indonesia menjadi negara paling bahagia. Pernyataan tersebut disebut tidak sepenuhnya benar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Hobi membaca buku dan minum kopi dapat terasa lebih mahal karena adanya pajak pada buku tertentu serta transaksi restoran dan kafe.
  • Who?
    Gen Z, pembaca buku, dan orang yang menikmati kopi atau menggunakan kafe sebagai tempat bekerja.
  • Where?
    Indonesia, termasuk toko buku, restoran, dan kafe.
  • When?
    Di awal tahun, Presiden Prabowo Subianto sempat menyebut Indonesia menjadi negara paling bahagia.
  • Why?
    Buku hiburan dikenakan PPN, sementara transaksi restoran dan kafe umumnya menjadi objek pajak.
  • How?
    Hobi tetap dapat dinikmati dengan meminjam atau bertukar buku, membuat kopi sendiri, serta memilih kegiatan yang lebih terjangkau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Buku dan kopi bisa jadi hal yang membuat orang senang dan lebih tenang. Tetapi, harganya bisa menjadi lebih mahal karena pajak. Gen Z tidak harus berhenti membaca atau minum kopi. Mereka bisa meminjam buku, bertukar buku, atau membuat kopi sendiri di rumah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kenaikan biaya tidak otomatis menghilangkan kesempatan untuk menikmati hobi. Membaca masih bisa dilakukan melalui perpustakaan atau pertukaran buku, sedangkan minum kopi dapat dipindahkan ke rumah. Pilihan ini menunjukkan bahwa kesenangan dan waktu untuk diri sendiri tetap dapat dipertahankan dengan cara yang lebih terjangkau, tanpa harus meninggalkan hobi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayangkan tiap masuk ke toko buku, kamu membawa harapan akan membawa pulang buku-buku yang selama ini sudah masuk wishlist-mu. Tapi begitu membalik buku, tanpa sadar kamu mengeryitkan alis dan mengeluh, “Kok bisa buku semahal ini?”

Begitu pula dengan mereka yang butuh booster kafein setiap hari atau butuh tempat kerja yang tenang di suatu kafe. Terkadang, harga yang kita lihat di papan etalase toko atau buku menu akan berbeda dengan harga yang kita bayarkan. Sering kali mungkin kita tidak sadar, ada kita selalu membayar pajak untuk segala hal, termasuk apa yang jadi kebutuhan dan apa yang kita sukai.

Padahal, hobi seperti membaca buku atau kebiasaan minum kopi merupakan salah satu stress release. Tapi, bagaimana kalau pelarian dari lelahnya hidup itu mulai terasa mahal? Secangkir kopi dan novel yang bisa dijadikan sarana “me time” pun gak luput dari perpajakan. Kalau buat menikmati hobi saja semakin mahal, haruskah gen Z berhenti menikmatinya?

1. Hobi merupakan bagian dari kebutuhan psikologis

hobi berkebun (magnific.com/jcomp)

Tahukah kamu bahwa hobi berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis? Sudah banyak riset yang menyatakan keterhubungan antara hobi dengan kondisi psikologis seseorang. Bahkan, hobi sebenarnya bisa menjadi ‘penyelamat’ di tengah arus hidup yang terus menekan dari segala sisi.

“Hobi dapat membantu mengurangi dampak pekerjaan yang penuh tekanan dan memitigasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kelelahan kerja (burnout),” kata Elizabeth Scott, PhD, seorang penulis dan edukator, dalam Verywell Mind.

Salah satu riset dilakukan oleh peneliti dari University College London (UCL) di 16 negara selama 4-8 tahun. Mereka menemukan bahwa memiliki hobi seperti berkebun, membaca, kriya, bisa menurunkan level depresi orang-orang yang usianya 65 tahun ke atas.

Dalam riset yang diterbitkan dalam Nature Medicine tersebut menyebut bahwa ada negara-negara dengan angka harapan hidup dan tingkat kebahagiaan nasional yang lebih baik, lebih banyak orang melaporkan memiliki hobi, dan hubungan antara kesejahteraan dan memiliki hobi juga lebih kuat di negara-negara tersebut.

"Penelitian teoretis menunjukkan bahwa hubungan antara hobi dan kesejahteraan mungkin bersifat timbal balik – bahwa orang dengan kesehatan mental yang lebih baik mungkin lebih cenderung untuk menekuni hobi, dan tekun dalam suatu hobi dapat membantu kita mempertahankan kepuasan hidup yang lebih baik,” ujar Dr Karen Mak, peneliti dari The UCL Institute of Epidemiology and Health Care.

Bagaimana dengan Indonesia, apakah tingkat kepuasan hidupnya tinggi? Di awal tahun, Presiden Prabowo Subianto sempat menyebut bahwa Indonesia menjadi negara paling bahagia. Namun, hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

Ia mengutip Global Flourishing Study yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dalam Human Flourishing Program di Harvard, Baylor University’s Institute for Studies of Religion, dan Gallup. Yang sebenarnya, Indonesia menunjukkan skor tertinggi untuk nilai flourishing, yang merujuk pada kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, serta hubungan sosial yang dekat.

Bahkan indeks skor untuk aspek dimensi stabilitas finansial dan material, Indonesia berada di peringkat kedua terbawah. Sangat kontras melihat bagaimana Indonesia punya tingkat flourishing yang tinggi, tapi belum unggul dalam hal finansial. Sementara, hobi yang seharusnya bisa memberikan rasa senang dan kelegaan pun tetap punya ‘harga’nya.

2. Sayangnya, melakukan hobi pun tetap ‘dihantui’ oleh pajak

Ilustrasi membaca buku. (pexels.com/George Milton)

Kalau melihat fakta di lapangan, memang tidak semua buku terbebas dari PPN. Buku adalah objek pajak yang tak sepenuhnya terkena pajak. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 5/PMK.010/2020, ada pembebasan PPN tapi terbatas pada buku pelajaran umum, kitab suci, maupun buku pelajaran agama.

Sementara, umumnya buku berisi hiburan tetap dikenakan pajak. Lantas, apakah negara-negara lain juga mengalami hal serupa? Menurut laporan International Publishers Association (IPA) dan Federation of European Publishers (FEP) dalam The IPA-FEP Annual Global Report 2018, ada 53 negara yang tidak mengenakan PPN atas buku cetak, seperti Malaysia, India, Korea Selatan, dan Inggris. Dibanding dengan negara-negara lain, tarif PPN untuk buku di Indonesia tergolong tinggi, menyentuh 11 persen. Gak cuma buku cetak, produk digital dari luar negeri seperti e-book, e-magazine, atau e-comic juga termasuk objek PPN.

Gak cukup soal buku, umumnya transaksi yang kita lakukan di restoran maupun kafe juga tidak luput dari objek pajak dengan tarif paling tinggi 10 persen. Jika total transaksi sebesar Rp100 ribu, berarti ada Rp10 ribu yang kita bayarkan untuk pajak. Misalnya kopi seharga Rp30 ribu dengan PBJT (Pajak Barang dan Jasa Tertentu) 10 persen, berarti pajaknya Rp3 ribu per gelas atau sekitar Rp6 ribu untuk dua gelas. Sudah berapa kali kamu minum kopi dalam sebulan?

3. Bukan berhenti, hobi bisa dinikmati dengan cara lain yang lebih cerdas

ilustrasi meminum kopi sambil membaca koran (pexels.com/@tima-miroshnichenko)

Jadi kalau hampir semuanya terkena pajak, haruskah kita berhenti menikmati hobi? Tentu tidak, pajak memang bagian yang gak bisa ditawar. Namun, cara menikmati hidup tetap ada di tangan masing-masing. Kabar baiknya, gak semua hobi harus dibayar dengan harga setinggi langit.

Hobi membaca buku gak selalu tentang membeli buku. Kamu bisa mengubah gaya hidupmu dengan meminjam buku di perpustakaan atau saling bertukar buku dengan teman. Begitu juga dengan nongkrong di kafe, mungkin bisa kamu ganti dengan momen-momen quality time di rumah atau membuat kopi sendiri dengan harga yang lebih terjangkau.

Kamu gak perlu berhenti menikmati apa yang selama ini disukai. Coba saja cari cara lain untuk menikmatinya. Seperti kata Dr. Karen Mak dari UCL tentang risetnya, menurutnya hobi berkontribusi pada kepuasan hidup ketika seseorang tahu apa yang mereka akan lakukan, mereka yang punya kontrol untuk menemukan kebahagiaan lewat hobi masing-masing.

Gak hanya Indonesia, negara lain juga mengalami fenomena yang disebut funflation. Laporan Bank of America Institute dikutip Fox29, pengeluaran mereka cukup besar untuk hobi, tetapi mereka juga mengalami inflasi harga untuk barang-barang yang berkaitan dengan hobi. Hal itu menyebabkan gen Z diduga kemudian mengalihkan pengeluarannya ke hobi yang lebih murah seperti seni, kerajinan, atau board game.

Jadi, haruskah gen Z berhenti menikmati hobinya sekalipun harga naik dan terkena pajak? Tidak, hobi bukan untuk dihilangkan dari hidup karena yang bisa diubah bukan kesukaan atau keinginan untuk melakukan hobi, melainkan caranya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article