Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Asal Usul Lipstik, Dulu Dipakai oleh Laki-Laki dan Perempuan

Asal Usul Lipstik, Dulu Dipakai oleh Laki-Laki dan Perempuan
ilustrasi lipstik (pexels.com/Cristian Pădureț)
  • Lipstik telah digunakan sejak sekitar 3500 SM di peradaban seperti Sumeria, Mesopotamia, dan Mesir, dengan bahan alami mulai dari buah, henna, serangga, hingga permata giling.
  • Pada masa kuno, lipstik dipakai laki-laki dan perempuan sebagai simbol status, kekayaan, kekuasaan, serta perlindungan bibir; namun kemudian sempat distigma terkait prostitusi, sihir, dan rendahnya moral.
  • Awal abad ke-20, lipstik menjadi lambang emansipasi perempuan dan berkembang melalui industri kosmetik serta standar keamanan; kini hadir dalam beragam formula sebagai medium ekspresi diri dan identitas personal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, lipstik menjadi salah satu produk makeup yang hampir gak lekang oleh waktu. Hadir dalam beragam warna dan formula, produk ini kini gak hanya digunakan untuk mempercantik penampilan, tetapi juga menjadi cara untuk mengekspresikan diri.

Namun, perjalanan lipstik ternyata memiliki sejarah yang panjang dan kompleks. Dari simbol status sosial, sempat dikaitkan dengan stigma negatif, hingga menjadi lambang emansipasi perempuan, berikut sejarah singkat lipstik dari masa ke masa.

  1. 1. Pertama dibuat sekitar tahun 3500 SM

    ilustrasi lipstik
    ilustrasi lipstik (pexels.com/Ankush Dawar)

    Lipstik ternyata telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum dikenal dalam bentuk tabung seperti sekarang. Pakar hukum, Sarah E. Schaffer, dilansir JStore Daily, menjelaskan bila lipstik pertama kali dibuat sekitar tahun 3500 SM (sebelum Masehi) dan salah satu catatan paling awal mengaitkannya dengan Ratu Schub-ad dari Ur. Seiring waktu, penggunaan pewarna bibir ini juga ditemukan dalam berbagai peradaban kuno, termasuk Mesopotamia dan Mesir.

    Bahan yang digunakan untuk membuat lipstik pada masa itu pun masih berasal dari alam. Orang-orang dari peradaban Sumeria memperoleh warna lipstik dari buah-buahan, henna, karat tanah liat, dan serangga. Sementara itu, orang Mesopotamia sedikit lebih mewah karena menggunakan permata berharga yang digiling untuk menambahkan warna dan kilau pada bibir mereka.

    Selanjutnya, warna lipstik mencolok seperti ungu dan hitam umum digunakan di Mesir kuno. Mereka mendapatkan warna dari beberapa sumber yang cukup menarik, seperti pewarna karmin yang berasal dari serangga cochineal yang digiling. Beberapa buku menyebutkan bahwa putri Mesir Cleopatra juga pernah menggunakan lipstik yang berasal dari kumbang dan semut karmin.

  2. 2. Sempat jadi simbol status sosial dan kelas

    ilustrasi menggunakan lipstik
    ilustrasi menggunakan lipstik (pexels.com/https://kaboompics.com/)

    Dalam peradaban kuno, penggunaan riasan bukan hanya sebagai estetika saja. Lebih jauh dari itu, ini berkaitan dengan simbol status sosial, kekayaan, kekuasaan, serta memiliki daya tarik pengobatan. Itulah kenapa, pada masa itu lipstik gak hanya digunakan oleh perempuan saja, melainkan juga laki-laki.

    Pakar kecantikan, Simone de Vlaming, dilasir Stylecraze menyebut, "Konon, Cleopatra, ratu Mesir yang dikenal karena kecantikannya yang memukau, salah satu ciri khas penampilannya adalah mengenakan lipstik merah menyala. Namun, lipstik yang dikenakannya bukan hanya untuk tujuan kosmetik. Dipercaya bahwa ia juga memakainya sebagai cara untuk melindungi bibirnya dari iklim gurun yang keras".

  3. 3. Sempat dianggap gak bermoral dan dilarang

    ilustrasi perempuan menggunakan lip cream
    ilustrasi perempuan menggunakan lip cream (pexels.com/Karolina Grabowska)

    Dalam sejarahnya, lipstik gak selalu berkaitan dengan status sosial tinggi. Pada periode tertentu, lipstik justru dianggap sebagai sesuatu yang gak pantas dan tidak bermoral. Di Yunani Kuno, misalnya, penggunaan lipstik dikaitkan dengan prostitusi, bahkan perempuan yang bekerja sebagai prostitusi diwajibkan menggunakan warna bibir gelap.

    Vlaming mengungkapkan, pandangan negatif ini semakin kuat pada Abad Pertengahan ketika pengaruh agama Kristen membuat penggunaan makeup dikecam. Bibir merah bahkan dikaitkan dengan pemujaan setan, sihir, dan penyihir.

    Stigma terhadap makeup juga masih bertahan hingga abad ke-19, ketika lipstik dianggap sebagai tanda rendahnya moral perempuan. Meski begitu, sebagian perempuan tetap mencari cara untuk memberi warna pada bibir secara diam-diam, misalnya menggunakan campuran pewarna dari serangga dan lilin atau minyak. Lipstik kemudian perlahan kembali diterima, terutama setelah memasuki abad ke-20

  4. 4. Perubahan lipstik menjadi simbol pemberdayaan perempuan

    ilustrasi mengunakan lip balm
    ilustrasi mengunakan lip balm (pexels.com/Burst)

    Memasuki awal abad ke-20, pandangan terhadap lipstik mulai berubah. Schaffer menjelaskan, para pejuang hak pilih perempuan di Amerika menggunakan lipstik sebagai lambang emansipasi perempuan.

    Popularitas lipstik kemudian semakin meluas seiring berkembangnya industri kecantikan, produksi massal, iklan, dan budaya populer. Dari sesuatu yang pernah dianggap tidak bermoral, lipstik perlahan menjadi bagian dari keseharian perempuan sekaligus sarana untuk menunjukkan kepercayaan diri, individualitas, dan kebebasan berekspresi

  5. 5. Tranformasi formula pembuatan lipstik: Dari yang berisiko hingga lebih aman

    ilustrasi menggunakan lipstik
    ilustrasi menggunakan lipstik (pexels.com/ MART PRODUCTION)

    Perkembangan lipstik tidak hanya berkaitan dengan warna dan bentuknya, tetapi juga keamanan bahan yang digunakan. Pada masa lalu, pewarna bibir dibuat dari berbagai bahan seperti serangga, lilin lebah, minyak, hingga mineral tertentu. Beberapa bahan bahkan berpotensi membahayakan kesehatan, sehingga penggunaan lipstik pada zaman dahulu gak selalu aman.

    "Resep umum Amerika yang terdiri dari serangga yang dihancurkan, lilin lebah, dan minyak zaitun menghasilkan lipstik dengan kecenderungan yang kurang menguntungkan untuk menjadi tengik beberapa jam setelah diaplikasikan,” kata Schaffer.

    Seiring berkembangnya industri kosmetik, keamanan lipstik mulai mendapat perhatian lebih besar. Di Amerika Serikat, pengesahan Food, Drug, and Cosmetics Act pada 1938 turut memperketat standar keamanan produk kosmetik. Sejak saat itu, formula lipstik terus berkembang dengan bahan yang lebih teruji dan aman, hingga akhirnya menjadi produk kecantikan yang digunakan secara luas saat ini.

  6. 6. Lipstik di era modern

    ilustrasi menggunakan lip liner
    ilustrasi menggunakan lip liner (pexels.com/Chidi Young)

    Memasuki era modern, Vlaming mengatakan lipstik gak lagi hanya digunakan untuk memberikan warna pada bibir. Pada tahun 2000-an, kilauan dan lip gloss menjadi aksesori favorit. Pilihan warna, tekstur, hingga formulanya pun semakin beragam, mulai dari warna nude dan merah klasik hingga warna-warna yang lebih berani dan eksperimental. Perkembangan ini membuat lipstik semakin mudah disesuaikan dengan karakter dan gaya setiap orang.

    Kini, lipstik juga menjadi bagian dari ekspresi diri dan identitas personal. Seseorang dapat memilih warna dan tampilan bibir sesuai dengan suasana hati, gaya, atau pesan yang ingin disampaikan. Perjalanan panjangnya membuktikan bahwa lipstik telah berkembang dari sekadar kosmetik menjadi salah satu cara untuk menunjukkan kepercayaan diri dan individualitas.

    Sejarah lipstik membuktikan bahwa produk ini bukan sekadar makeup, tetapi juga bagian dari perubahan budaya dan sosial. Kini, lipstik menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan gaya, karakter, dan kepercayaan diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More