Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Buku Terbaik Korea yang Selalu Terasa Relevan di Setiap Fase Hidup

5 Buku Terbaik Korea yang Selalu Terasa Relevan di Setiap Fase Hidup
Buku Welcome to Hyunam-dong Bookshop karya Hwang Bo-reum. (beautyjournal.id/Evelyn Ochi)
Intinya Sih
  • Lima buku Korea ini menawarkan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup, dari pencarian jati diri hingga penerimaan diri, dengan bahasa yang sederhana namun penuh kepekaan emosional.
  • Karya-karya seperti Baek Sehee dan Haemin Sunim menyoroti kesehatan mental, ketenangan batin, serta pentingnya menerima ketidaksempurnaan di tengah tekanan sosial modern.
  • Novel seperti Almond dan Welcome to the Hyunam-dong Bookshop menghadirkan kisah empati dan jeda hidup yang menenangkan, menjadikannya relevan di setiap fase kehidupan pembaca.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setiap fase hidup membawa pertanyaan yang berbeda. Ada masa ketika kita sibuk mencari jati diri, ada masa ketika kita merasa tertinggal, dan ada masa ketika hidup terasa berjalan tanpa arah yang jelas. Di momen-momen seperti itu, buku sering menjadi tempat aman untuk berhenti sejenak dan menata ulang perasaan.

Buku-buku dari penulis Korea dikenal memiliki kepekaan emosional yang tinggi. Dengan bahasa yang sederhana namun jujur, kisah-kisah ini mampu menyesuaikan diri dengan usia dan pengalaman pembacanya. Dibaca di waktu yang berbeda, maknanya pun sering terasa berubah dan justru itulah yang membuatnya relevan di setiap fase hidup. Berikut lima buku Korea yang selalu terasa relevan di setiap fase hidup.

1. I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki karya Baek Sehee

Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki karya Baek Sehee
Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki karya Baek Sehee (shofwhere.com)

Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki ini ditulis dalam bentuk percakapan terapi yang sangat personal. Baek Sehee mengungkap kecemasan, depresi, dan konflik batin yang sering dirasakan banyak orang, terutama di fase dewasa muda yang penuh tuntutan.

Menariknya, buku ini terasa berbeda setiap kali dibaca ulang. Saat muda, ia terasa seperti cermin kegelisahan. Di fase lebih dewasa, buku ini menjadi pengingat bahwa berjuang dengan kesehatan mental bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses memahami diri sendiri.

2. The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim

Buku The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim
Buku The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim (instagram.com/pop_icecube)

Buku The Things You Can See Only When You Slow Down ini mengajak pembaca memperlambat langkah di tengah dunia yang serba cepat. Haemin Sunim menuliskan refleksi singkat tentang hidup, hubungan, dan ketenangan batin dengan nada yang menenangkan.

Di fase hidup yang sibuk, buku ini mengingatkan pentingnya berhenti. Di fase lelah dan kehilangan arah, buku ini terasa seperti teman yang menenangkan. Pesannya sederhana, namun relevan di setiap usia: hidup tidak harus selalu berlari.

3. Love for Imperfect Things karya Haemin Sunim

Buku Love for Imperfect Things karya Haemin Sunim
Buku Love for Imperfect Things karya Haemin Sunim (buku.kompas.com/Okky Olivia)

Buku Love for Imperfect Things ini berbicara tentang menerima ketidaksempurnaan, baik dalam diri sendiri maupun orang lain. Haemin Sunim mengajak pembaca untuk lebih lembut kepada diri sendiri di tengah tekanan sosial dan ekspektasi yang tinggi.

Saat muda, buku ini membantu menghadapi rasa tidak cukup. Saat lebih dewasa, buku ini menjadi pengingat untuk memaafkan diri atas pilihan hidup yang tidak selalu ideal. Itulah yang membuatnya terus relevan, tak peduli di fase mana pembaca berada.

4. Almond karya Sohn Won-pyung

Buku Almond karya Sohn Won-pyung
Buku Almond karya Sohn Won-pyung (kompasiana.com/Oktiani Endarwati)

Novel ini mengisahkan seorang remaja yang kesulitan merasakan emosi dan berusaha memahami dunia di sekitarnya. Dengan gaya penulisan yang sederhana, Almond membahas empati, luka, dan hubungan antarmanusia.

Bagi pembaca muda, novel ini membuka pemahaman tentang perasaan dan empati. Bagi pembaca dewasa, Almond menjadi pengingat bahwa setiap orang membawa luka yang tidak terlihat, dan bahwa memahami orang lain sering dimulai dari memahami diri sendiri.

5. Welcome to the Hyunam-dong Bookshop karya Hwang Bo-reum

Buku Welcome to Hyunam-dong Bookshop karya Hwang Bo-reum
Buku Welcome to Hyunam-dong Bookshop karya Hwang Bo-reum (beautyjournal.id/Evelyn Ochi)

Novel Welcome to the Hyunam-dong Bookshop ini bercerita tentang seseorang yang memilih berhenti sejenak dari hidup yang melelahkan dan membuka toko buku kecil. Ceritanya tenang, hangat, dan penuh refleksi tentang makna hidup.

Buku ini terasa relevan di fase ketika hidup mulai terasa berat dan tidak lagi sejalan dengan harapan. Ia tidak menawarkan solusi instan, tetapi memberikan ruang untuk bernapas dan menerima bahwa tidak apa-apa jika hidup berjalan lebih pelan.

Buku-buku Korea ini terasa relevan bukan karena memberikan jawaban besar, melainkan karena berani duduk bersama pembacanya dalam kebingungan dan kelelahan. Di setiap fase hidup, kita membutuhkan cerita yang tidak menghakimi, yang hanya berkata, “kamu tidak sendirian”. Dan mungkin, itulah alasan mengapa buku-buku ini terus menemukan jalannya ke hati pembaca, kapan pun mereka membacanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us