Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan Orangtua yang Membuat Anak Ikut Suka Buku

4 min read
5 Kebiasaan Orangtua yang Membuat Anak Ikut Suka Buku
ilustrasi orangtua dan anak membaca buku (pexels.com/Kamaji Ogino)
  • Kebiasaan orangtua membaca dalam keseharian memberi contoh langsung bahwa buku adalah bagian wajar dari aktivitas rumah dan dapat memicu rasa penasaran anak.
  • Membacakan cerita, membiarkan anak memilih buku, serta mengobrol tentang isinya membuat pengalaman membaca terasa hangat, personal, dan lebih hidup.
  • Membaca sebaiknya tidak dijadikan hukuman atau kewajiban; buku perlu mudah dijangkau dan hadir dalam suasana santai agar anak menemukan kesenangannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Anak tiba-tiba suka membaca buku memang terdengar menyenangkan. Namun, kebiasaan itu biasanya gak muncul begitu saja. Ada banyak hal kecil di rumah yang secara gak sadar bisa membuat anak melihat buku sebagai sesuatu yang menarik atau justru membosankan.

Menariknya, orangtua gak selalu perlu membuat aturan khusus agar anak rajin membaca. Anak justru banyak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Kalau di rumah buku punya tempat dalam keseharian orangtua, anak bisa ikut penasaran dan perlahan menganggap membaca sebagai aktivitas yang wajar untuk dilakukan.

  1. 1. Orangtua punya waktu khusus untuk membaca

    ilustrasi ibu mengajari anak membaca melalui digital
    ilustrasi ibu mengajari anak membaca melalui digital (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Anak mungkin gak selalu mendengarkan ketika kamu mengatakan, 'Ayo membaca!' Namun, mereka memperhatikan ketika kamu sendiri mengambil buku dan membacanya. Ketika anak melihat orangtuanya menikmati buku di sela waktu santai, mereka mendapatkan contoh bahwa membaca memang bagian dari aktivitas sehari-hari.

    Kamu gak harus membaca berjam-jam agar anak melihat kebiasaan tersebut. Membaca beberapa halaman sambil minum kopi, sebelum tidur, atau saat suasana rumah sedang tenang sudah cukup menjadi contoh. Lama-lama anak bisa penasaran, 'Ibu baca apa?' Nah, dari pertanyaan sederhana itu, obrolan tentang buku bisa dimulai.

  2. 2. Orangtua sering membacakan cerita

    ilustrasi ayah dan anak membaca
    ilustrasi ayah dan anak membaca (pexels.com/PNW Production)

    Membacakan cerita sebelum tidur merupakan salah satu cara sederhana untuk memperkenalkan buku kepada anak. Suara orangtua, gambar di halaman buku, dan cerita yang didengar bersama bisa membuat pengalaman membaca terasa hangat. Anak pun mengenal buku lewat momen yang menyenangkan, bukan karena merasa sedang diberi tugas.

    Kamu juga gak perlu selalu menggunakan buku cerita yang panjang. Buku bergambar dengan beberapa kalimat sederhana pun bisa menjadi pilihan. Bahkan kalau anak meminta cerita yang sama berulang kali, ikuti saja selama kamu masih nyaman karena pengulangan bisa membuat mereka semakin akrab dengan tokoh dan alur cerita.

  3. 3. Orangtua mengajak anak memilih buku

    ilustrasi anak membaca
    ilustrasi anak membaca (pexels.com/cottonbro studio)

    Anak biasanya lebih tertarik pada sesuatu ketika mereka merasa punya pilihan. Saat membeli atau meminjam buku, coba beri kesempatan kepada anak untuk menentukan sendiri buku yang ingin dibaca. Pilihannya mungkin buku tentang dinosaurus, kendaraan, hewan, putri kerajaan, atau cerita yang menurutmu biasa saja.

    Gak masalah kalau pilihan mereka belum sesuai dengan selera orang dewasa. Minat membaca bisa tumbuh dari rasa penasaran yang sangat spesifik. Kalau hari ini anak tergila-gila pada buku tentang kereta, biarkan dulu mereka menikmati dunia kereta tersebut. Bisa jadi, dari satu topik yang disukai, mereka perlahan menemukan banyak bacaan lain.

  4. 4. Orangtua membicarakan isi buku

    ilustrasi ibu dan anak membaca
    ilustrasi ibu dan anak membaca (pexels.com/RDNE Stock project)

    Buku gak harus selesai dibaca lalu langsung kembali ke rak. Kamu bisa mengajak anak ngobrol tentang cerita yang baru saja dibaca, bahkan dengan pertanyaan sederhana seperti, 'Menurut kamu, tokoh ini kenapa melakukan itu?' atau 'Kalau kamu jadi dia, mau ngapain?'

    Obrolan seperti ini membuat membaca terasa lebih hidup. Anak belajar bahwa buku bisa menjadi bahan percakapan, tempat menemukan ide, dan sesuatu yang bisa dikaitkan dengan pengalaman mereka sendiri. Kalau anak punya pendapat yang berbeda dari isi cerita, justru bagus karena kamu punya kesempatan untuk mendengarkan cara mereka berpikir.

  5. 5. Orangtua gak menjadikan membaca sebagai hukuman

    ilustrasi seseorang anak membaca
    ilustrasi seseorang anak membaca (pexels.com/RDNE Stock project)

    'Kalau sudah selesai main, sana baca buku!' Kalau kalimat seperti ini terlalu sering digunakan, anak bisa saja menganggap membaca sebagai kewajiban yang harus dilakukan setelah aktivitas yang lebih menyenangkan. Buku akhirnya terasa seperti hukuman, bukan sesuatu yang ingin mereka datangi.

    Coba hadirkan buku dalam suasana yang lebih santai. Letakkan beberapa buku di tempat yang mudah dijangkau, ajak membaca ketika sedang senggang, dan biarkan anak memilih bacaan yang mereka sukai. Ketika membaca gak selalu dikaitkan dengan kewajiban atau nilai, anak punya kesempatan lebih besar untuk menemukan kesenangan dari aktivitas tersebut.

    Kalau ingin anak dekat dengan buku, coba lihat dulu suasana membaca di rumah. Apakah buku hanya muncul ketika anak mendapatkan tugas sekolah, atau memang ada dalam keseharian keluarga? Pertanyaan sederhana ini bisa membantu orangtua melihat bahwa membangun kebiasaan literasi gak harus dimulai dari target membaca yang tinggi.

    Anak mungkin gak langsung mengambil buku setelah melihat orangtuanya membaca. Namun, contoh yang diberikan berulang kali bisa menjadi bagian dari kebiasaan mereka ketika tumbuh. Jadi, kalau ingin anak punya hubungan yang menyenangkan dengan buku, mungkin langkah pertamanya cukup sederhana: ambil satu buku, duduk, dan nikmati ceritanya bersama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More