Menurut Editor-in-chief dari Its Nice That, Rob Alderson, “Pada dasarnya, cerita bisa disampaikan dengan lebih baik melalui media cetak. Pembaca bisa larut dalam artikel panjang sekitar 2.000 hingga 3.000 kata, dengan pengalaman yang benar-benar berbeda dibandingkan saat membaca secara daring. Selain itu, ada dua hal lain yang gak kalah penting, yaitu sensasi menyentuh kertas dan kemampuan media cetak untuk memberikan kejutan kepada pembacanya,” dilansir Communication Arts.
Di Era Digital, Kenapa Baca Majalah Cetak Terasa Menarik Lagi?

Setelah hari yang panjang, kamu berniat membuka ponsel sebentar sebelum tidur. Awalnya kamu cuma ingin membalas pesan, lalu beralih melihat unggahan teman, menonton video pendek, sampai membaca berita yang entah bagaimana membawamu ke topik yang lain lagi. Ketika layar ponsel dimatikan, waktu sudah berlalu cukup lama, tetapi gak banyak yang benar-benar kamu ingat.
Keesokan harinya, rutinitas itu terulang lagi. Di tengah hari-hari yang dipenuhi layar, membayangkan duduk sambil membaca majalah cetak mungkin terasa seperti kebiasaan dari masa lalu. Padahal, ada sesuatu yang berbeda ketika menyentuh kertas, membalik halaman, dan membiarkan sebuah cerita menemanimu tanpa gangguan notifikasi. Kamu kemudian meraih sebuah majalah fesyen di meja samping tempat tidurmu. Ada hal menarik yang kamu rasakan ketika halaman demi halaman terlewati. Ada rutinitas baru yang terasa menarik lagi di era yang serba digital.
1. Menikmati waktu tanpa harus terus-menerus menatap layar

ilustrasi membaca majalah (pexels.com/Gabrielle Durant) Sore itu, kamu baru selesai mengerjakan tugas atau pekerjaan. Kamu bersandar di sofa, sementara ponsel masih berada dalam genggamanmu. Kamu ingin beristirahat, tetapi membuka media sosial malah membuatmu terus melihat hal baru. Satu video selesai, video berikutnya muncul. Begitu seterusnya.
Sampai akhirnya, kamu meletakkan ponsel dan mengambil majalah yang sudah lama tergeletak di meja. Halaman pertamanya menampilkan foto yang menarik perhatian. Kamu mulai membaca satu artikel, lalu beralih ke halaman berikutnya. Gak ada suara notifikasi yang menyela atau layar yang mengajakmu berpindah ke hal lain.
Dalam Psychology Today, Patricia Prijatel, profesor jurnalisme majalah sekaligus penulis membahas daya tarik dari media cetak. Ia menjelaskan bahwa memegang majalah atau buku cetak memberikan kenikmatan melalui pengalaman indrawi yang gak bisa sepenuhnya ditandingi konten digital.
Tentu, membaca majalah gak otomatis membuat pikiran bebas dari stres. Namun, aktivitas ini memberi kamu kesempatan untuk berhenti sejenak dari kebiasaan berpindah layar. Untuk beberapa waktu, kamu gak perlu mengejar apa pun. Hanya duduk, membaca, dan menikmati halaman yang terbuka di hadapanmu.
2. Ada kesenangan ketika sebuah cerita bisa dinikmati dengan mata dan tangan

ilustrasi membaca majalah (pexels.com/Raven Turner) Kamu membuka majalah fashion dan menemukan foto busana yang memenuhi hampir satu halaman. Ada detail kain yang terlihat jelas, permainan warna yang menarik, serta tulisan kecil yang menjelaskan cerita di balik koleksi tersebut. Sebelum menyadarinya, kamu sudah menghabiskan beberapa menit hanya untuk mengamati satu halaman.
Hal seperti ini terasa berbeda dibandingkan ketika kamu melihat foto di layar ponsel. Dalam majalah, gambar, tulisan, ruang kosong, dan tata letak menjadi satu kesatuan. Kamu bisa memperhatikan detailnya tanpa harus memperbesar gambar atau terganggu oleh unggahan lain yang tiba-tiba muncul.
Ketika kamu membeli majalah, kamu sebenarnya gak sepenuhnya terpaku pada informasi yang ada pada majalah tersebut. Kamu ingat membelinya karena sampulnya yang menarik, atau karena kamu memang ingin mengoleksi edisi tertentu. Majalah bisa menjadi sumber inspirasi ketika kamu sedang mencari referensi gaya berpakaian, fotografi, desain, maupun tentang perjalanan.
3. Menemukan cerita yang gak harus dibaca terburu-buru

ilustrasi perempuan bersantai sambil membaca majalah (pexels.com/ArtHouse Studio) Biasanya, kamu membaca berita di internet hanya karena judulnya muncul di beranda. Kamu membuka artikelnya, membaca beberapa paragraf, lalu beralih ke berita lain. Kamu merasa selalu ada informasi baru yang menunggu untuk dilihat. Di sisi lain, kamu merasa majalah menawarkan pengalaman membaca dengan ritme yang berbeda. Kamu menemukan salah satu artikel tentang sebuah kota yang belum pernah dikunjungi. Tulisan itu kemudian membawamu menyusuri jalan-jalannya, mengenal kebiasaan penduduk setempat, sampai memahami hal-hal kecil yang membuat tempat tersebut istimewa.
Kamu bisa berhenti pada satu foto, membaca ulang sebuah paragraf, atau menandai halaman untuk dibuka kembali nanti. Gak ada keharusan untuk menyelesaikannya saat itu juga. Bahkan, artikel yang sama bisa terasa berbeda ketika kamu membacanya beberapa bulan kemudian.
Lindsey Tramuta, jurnalis di Paris, menggambarkan majalah sebagai, “Objek yang menarik untuk dikoleksi, memiliki sudut pandang tersendiri, sekaligus mencerminkan status pemiliknya,” dikutip dari The Guardian.
Di sinilah kamu menemukan daya tariknya. Sebuah majalah gak harus selalu mengikuti kecepatan informasi di internet. Kamu bisa membacanya sesuai dengan suasana hati, menyimpannya, lalu kembali menemukan sesuatu yang sebelumnya mungkin sempat terlewat.
Malam itu, ponselmu kembali tergeletak di samping tempat tidur. Bedanya, kali ini tanganmu justru meraih majalah yang sampulnya sudah sedikit terlipat. Kamu membuka satu halaman, berhenti pada sebuah foto, lalu membaca cerita di baliknya sampai selesai. Tanpa sadar, waktu berlalu dan kamu masih berada di halaman yang sama. Kali ini, gak ada keinginan untuk buru-buru beralih ke hal lain. Kamu cuma ingin tahu bagaimana cerita di artikel majalah itu berakhir.























