“Di ekosistem L’Oréal Indonesia, peran ini hadir antara lain melalui pendidik vokasi di SMK rekanan program Hairducation serta trainer Beauty for a Better Life yang mendampingi komunitas dari kelompok rentan. Kontribusi mereka sangat layak mendapatkan pengakuan dan dirayakan. Melalui momentum World Teachers’ Day, kami ingin mengangkat peran beauty educators yang terus mengembangkan potensi talenta kecantikan sekaligus turut membentuk masa depan industri kecantikan Indonesia,” kata Melanie Masriel.
Lewat World Teacher's Day, L'Oréal Apresiasi Peran Beauty Educators

L’Oréal Indonesia menyoroti peran beauty educators dalam menyiapkan talenta kecantikan menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Ibu Aca dan Ibu Made membagikan pengalaman mendampingi peserta dengan latar belakang serta minat yang beragam.
Program Hairducation dan BFBL memperkuat pelatihan guru, instruktur, serta peserta di bidang kecantikan.
Jakarta, IDN Times - Di balik kesuksesan seseorang, ada peran guru yang mendidik dan ikut membentuk karakter murid-muridnya. Begitu pun, di balik setiap talenta kecantikan yang terampil, ada peran para guru yang senantiasa mempersiapkannya menghadapi dinamika dunia kerja. Para beauty educators inilah yang menanamkan ilmu merias dan menata rambut serta membekali murid-murid dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh pasar.
5 Oktober lalu dirayakan sebagai World Teacher’s Day. Momentum ini dipandang berharga bagi L’Oreal Indonesia yang bergerak di industri kecantikan. Melalui berbagai inisiatif, L’Oreal Indonesia menyoroti kontribusi para pendidik yang selama ini bekerja di balik layar dalam mencetak generasi profesional kecantikan, sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan vokasi agar semakin selaras dengan kebutuhan industri.
Berlokasi di L’Oreal Indonesia HQ, Jakarta Selatan, ada dua guru yang menceritakan pengalaman mereka sebagai beauty educators. Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia, Melanie Masriel, mengatakan bahwa peran mereka dalam membina generasi muda juga membuka peluang penghasilan dan kehidupan yang lebih mandiri.
1. Cerita Ibu Aca, trainer Beauty for a Better Life (BFBL) Training Center Cianjur

Media Gathering “Beauty That Moves: World Teacher’s Day 2026 di L'Oreal Indonesia HQ pada Selasa (27/10/2026). (dok. L'Oreal Indonesia) Dalam kesempatan yang sama di acara Media Gathering “Beauty That Moves: World Teacher’s Day 2026, hadir seorang trainer Beauty for a Better Life (BFBL) Training Center Cianjur bernama Achadiningtyas atau kerap disapa Ibu Aca.
Dedikasinya di dunia kecantikan sudah terhitung kurang lebih 45 tahun. Awalnya, Ibu Aca memulai kariernya bekerja di salon pada usia 20 tahun. Kariernya kemudian melebar sebagai pengajar di berbagai lembaga kursus dan pelatihan. Ibu Aca juga merupakan asesor sertifikasi kompetensi nasional di bawah Badan Nasional Sertifikasi Profesi serta Ketua Tiara Kusuma Kabupaten Cianjur. Ia kemudian bergabung sebagai trainer BFBL sejak tahun 2015 hingga kini. Ia berhasil meluluskan sekitar 4.800 peserta.
Ada banyak tantangan yang ditemui oleh Ibu Aca semasa mengajar. Peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang membuatnya mencoba berbagai pendekatan yang berbeda-beda.
“Pendidikan ibu-ibu (peserta) di sana kan minim kalau di BFBL. Jadi, kita juga harus menyemangati, memberikan dorongan supaya mereka lebih bergairah lagi untuk mengikuti pendidikan,” jelasnya pada Selasa (27/10/2026) di L’Oreal Indonesia HQ, Jakarta Selatan.
Corporate Affairs and Impact Director L’Oréal Indonesia Magdalena Rospita mengatakan bahwa program Beauty for a Better Life ini diikuti oleh peserta dengan beragam latar belakang. Ada yang putus sekolah, pernah mengalami kekerasan, menikah muda lalu cerai, dan sebagainya. Untuk itu, beauty educator-lah yang berperan penting memberikan pendampingan hingga menciptakan ruang kelas yang aman, nyaman, dan suportif.
“Peranan trainer itu adalah melatih dengan empati gitu, menyesuaikan ritme pembelajaran. Setelah dilatih dengan ritme pembelajaran yang disesuaikan oleh para trainer, mereka bisa dan gak nyangka gitu ya bahwa mereka sekarang bisa ikut fashion show, makeup, dan lain-lain. Jadi, itu mungkin tiga peranan yang sangat penting dari beauty educator,” kata Magdalena.
Menurut Ibu Aca, mengajarkan tata rambut bukan soal teknik saja. Kebutuhan industri yang berubah juga mengharuskannya mengikuti perkembangan tren dan harus mau terus belajar.
“Ada yang cepat menguasai materi, ada pula yang perlu lebih banyak waktu dan dorongan untuk percaya pada dirinya sendiri. Bagi saya, hal yang paling berarti adalah ketika mereka mulai berani menggunakan keterampilannya untuk bekerja atau memulai usaha,” jelasnya.
2. Cerita Ibu Made Sumiati, guru tata kecantikan SMKN 3 Bogor

Media Gathering “Beauty That Moves: World Teacher’s Day 2026 di L'Oreal Indonesia HQ pada Selasa (27/10/2026). (dok. L'Oreal Indonesia) Gak berhenti di Ibu Aca saja, masih ada banyak guru-guru lainnya yang sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya. Salah satunya adalah Ibu Made Sumiati yang berprofesi sebagai guru tata kecantikan di SMKN 3 Bogor. Berawal dari program beasiswa pemerintah, ia menjadi guru tata kecantikan yang sudah mendedikasikan dirinya selama puluhan tahun.
Berkesempatan belajar bersama L’Oreal membuat Ibu Made semakin memahami ilmu tata rambut dari anatomi sampai proses pewarnaan. Bahkan, ia sengaja membuat bahan ajar untuk bisa dipahami secara praktis pada masa pandemik. Ibu Made merupakan penulis dari buku Pemangkasan dan Pewarnaan Rambut untuk Kelas XI yang telah memiliki ISBN dan digunakan oleh sejumlah guru di Indonesia. Ia pun membawa murid belajar langsung di L’Oréal Professionnel Academy dan menghadirkan guru tamu melalui kelas Hairducation agar pembelajaran di sekolah semakin dekat dengan praktik industri.
“Pengetahuan itu mengubah cara saya mengajar. Sekarang saya dapat menjelaskan bukan hanya apa yang harus dilakukan, tetapi juga alasan di balik setiap tahap sehingga murid tidak sekadar menghafal prosedur, tetapi mampu menganalisis kondisi rambut dan menentukan penanganan yang tepat,” katanya.
Sebagai guru SMK, Ibu Made melihat adanya pergeseran tren. Dulunya, jurusan yang berhubungan dengan kecantikan tidak begitu populer. Namun, sekarang sudah menjadi tren yang sangat diminati. Lulusannya pun bisa berkarier dalam berbagai bidang.
Ia pun menghadapi tantangan yang serupa dengan apa yang dirasakan Ibu Aca. Ada siswa yang memang menaruh perhatiannya pada jurusan kecantikan. Tapi, ada pula siswa-siswa yang memang tidak berminat dan terpaksa masuk jurusan kecantikan.
“Kalau mereka masuk tanpa minat dengan masuk karena mereka memilih dengan minat, itu beda banget. Kita kasih tahu ini dan itu, mereka langsung semangat. Tapi kalau mereka tanpa minat, kayak pilihan satunya misalnya dia mau ke boga, ternyata sudah penuh di boga, keterima di kecantikan. Kita membangkitkan motivasi mereka itu agak lumayan gitu ya, effort. Jadi kita harus datangkan orang-orang, ‘Nih lho alumni-alumni kamu, kakak kelas datang, mereka sudah kerja di mana, coba sok ceritakan’, tuturnya.
3. Hairducation dan Beauty For A Better LIfe

Media Gathering “Beauty That Moves: World Teacher’s Day 2026 di L'Oreal Indonesia HQ pada Selasa (27/10/2026). (IDN Times/Adyaning Raras) Baik Ibu Aca maupun Ibu Made sama-sama menyadari bagaimana perkembangan industri kecantikan yang sangat pesat. Teknik dan standar pengajarannya pun terus berkembang sehingga para beauty educators pun harus menyesuaikan diri agar tetap relevan.
Untuk memastikan para guru terus mendapatkan akses kebaruan ilmu, L’Oréal Indonesia secara berkelanjutan menggerakkan program Hairducation sejak 2017, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI (Kemendikdasmen). Program ini memberikan pelatihan bagi guru-guru SMK tata kecantikan terkait teknik mutakhir, inovasi produk, pemahaman standar keselamatan, hingga pelayanan konsumen. Hairducation telah melatih 88 guru dari 46 SMKN di berbagai daerah di Indonesia, yang pada gilirannya berhasil mempersiapkan lebih dari 4.200 lulusan yang siap untuk diserap industri tata rambut profesional.
Menurut Head of Education Performance Professional Products Division L’Oréal Indonesia, Indra Tanudarma, ia melihat peran beauty educator dalam dua sudut pandang yang berbeda. Sebagai pelaku industri yang bergerak di salon, mereka harus keep up dengan semua produk dan teknologi terbaru.
“Maka itu, point of view yang pertama adalah dari industri kepada salon ini penting bahwa edukator ini harus bisa memberikan pelatihan yang terbaik untuk para hairdresser supaya industri ini terus mengikuti perkembangan zaman gitu,” katanya.
Ia melanjutkan, “Peran industri ini masuk ke dalam SMK untuk melatih para guru supaya bisa melatih murid-muridnya sehingga mereka semua juga bisa mengikuti perkembangan zaman. Nah, fungsinya dari program yang kita punya, yaitu di Hairducation itu adalah, pertama, kita harus melatih gurunya. Meskipun kita dari industri ini, bukan cuma langsung ke terjun ke salon, tapi gurunya yang kita bekali dulu. Gurunya kita bekali dengan kurikulum yang baik dengan perkembangan zaman.”
Beauty for a Better Life (BFBL) yang sudah ada sejak 2014 ini, sudah memiliki 12 pusat pelatihan dengan 12 trainer. BFBL membekali para instruktur dengan kurikulum tata rambut dan rias berstandar internasional serta modul bimbingan sosial berbasis empati yang telah dijangkau oleh lebih dari 7.200 peserta. Program ini dirancang khusus untuk memulihkan harapan serta martabat perempuan dari kelompok rentan sosio-ekonomi agar dapat meraih kemandirian finansial dan berkontribusi bagi perekonomian keluarga.
Magdalena Rospita menegaskan, “Instruktur dalam program BFBL mengemban tanggung jawab mulia yang melampaui transfer keterampilan teknis. Mereka hadir sebagai mentor yang mendengar, memotivasi, dan menumbuhkan daya juang para peserta. Melalui modul pelatihan yang terstruktur, L’Oréal berkomitmen mendampingi para trainer agar dapat terus mentransformasi keterampilan vokasi menjadi mata pencaharian nyata dan kemandirian hidup yang berkelanjutan.”
Lewat World Teacher’s Day, L’Oreal mengajak untuk kembali melihat peran guru bahwa mereka adalah tonggak utama pendidikan bangsa. Guru memberikan pondasi penting agar seseorang dapat tumbuh dan berkembang di masa mendatang.
























