5 Alasan Doomscrolling Tidak Berguna, Habiskan Waktu dan Energi

- Doomscrolling membuat pengguna terjebak di dunia maya dan melupakan kehidupan nyata, sehingga waktu dan energi terbuang tanpa tujuan jelas.
- Kebiasaan menggulir media sosial berlebihan menimbulkan stres, kecemasan, serta kelelahan mental akibat paparan konten yang tidak relevan dengan kehidupan pribadi.
- Doomscrolling menghambat produktivitas, membuang kuota internet, dan secara tidak sadar menguras uang serta fokus yang seharusnya digunakan untuk aktivitas bermanfaat.
Doomscrolling adalah aktivitas terus menggulirkan layar gadget untuk melihat berbagai unggahan random di media sosial. Tidak ada tujuan tertentu ketika kamu melakukannya. Beda dengan saat dirimu ingin mengetahui berita atau promosi film tertentu.
Kemudian dirimu mencari akun media massa atau rumah produksinya dan scroll sampai informasi dirasa cukup. Sementara saat kamu terjebak dalam kebiasaan doomscrolling, sudah seperti refleks. Sebentar-sebentar kamu mengambil smartphone lalu menggulir layar tak selesai-selesai.
Bila unggahan yang dilihat olehmu ditotal, barangkali mencapai ratusan kali kamu doomscrolling selama 1 jam atau lebih. Satu hal yang perlu disadari betul olehmu ialah doomscrolling tidak berguna. Sebaiknya kamu berlatih meninggalkannya karena lima alasan berikut.
1. Kamu gak hidup di dunia maya, melainkan dunia nyata

Seandainya pun pekerjaanmu berkaitan dengan media sosial, seperti admin medsos atau harus bikin konten sehingga perlu mencari ide, tetap hidupmu bukan di sana. Kehidupanmu yang sesungguhnya ialah di dunia nyata. Dunia maya sifatnya cuma buat memperoleh gagasan serta uang.
Jika kamu ingin menjalani hidup secara efektif dan efisien, fokuskan aktivitas membuka medsos hanya untuk tujuan tersebut. Jangan malah media sosial dipakai buat segala keperluan termasuk mencari hiburan serta mengisi waktu luang daripada dirimu bengong. Nanti lama-lama kamu merasa dunia maya adalah segalanya.
Padahal, realitasnya gak begitu. Kamu tak perlu masuk terlalu dalam ke dunia maya. Gunakan sesuai kebutuhan utama saja. Selebihnya, bangun aktivitas yang lebih bermakna di real life.
2. Terlalu banyak unggahan yang bukan urusanmu

Masalah utama terkait media sosial sekarang ialah makin sulit bagi pengguna untuk hanya melihat unggahan dari akun-akun yang diikutinya. Semua unggahan dari berbagai akun mewarnai berandamu. Ini yang membuat berandamu tak pernah sepi.
Namun, itu pula yang bikin kamu kebanjiran informasi. Persoalan atau isu yang diangkat dalam unggahan mereka tidak berkaitan denganmu. Seperti konten 10 ribu rupiah di tangan istri yang tepat, padahal kamu punya bujet serta cara belanjamu sendiri.
Ada pula konten orang pacaran yang cowoknya mesti mengambilkan sendok dan garpu untuk ceweknya atau dia bakal mengambek. Semua itu bukan urusanmu. Urusanmu hari ini adalah bekerja, kuliah, atau mengasuh anak sambil beres-beres rumah. Mengonsumsi banyak konten yang gak relate dengan hidupmu hanya akan membuatmu kelelahan secara psikis.
3. Tidak membantumu menyelesaikan pekerjaan, tugas kuliah, atau tugas sekolah

Di mejamu, dokumen menumpuk menunggu dibereskan. Begitu pula kalau kamu masih kuliah. Ada banyak tugas dari dosen yang harus segera dikumpulkan. Anak sekolah pun gak punya banyak waktu luang.
Ada PR, tugas, persiapan pentas, les, dan sebagainya. Pertanyaannya simpel, apakah menghabiskan banyak waktu dengan doomscrolling membantumu menyelesaikan semua tugas itu? Mungkin ada konten medsos yang membantumu dalam mengerjakan tugas, tapi sedikit sekali.
Maka dari itu, seharusnya dirimu juga cuma sebentar mengaksesnya per hari. Bukan malah terbalik. Kamu lebih banyak scrolling tak jelas ketimbang memusatkan perhatian pada tugas-tugasmu yang sesungguhnya. Kalau doomscrolling diteruskan, pekerjaanmu bakal terbengkalai.
4. Kamu menjadi gampang stres dan cemas

Masalah yang bikin kamu stres akhir-akhir boleh jadi gak ada di dunia nyata. Meski dirimu mencoba mencari-cari penyebabnya, bahkan menyalahkan ini itu, ternyata tak ada yang bisa diatasi. Sebab duduk perkaramu ada di dunia maya.
Kamu mengakses medsos secara berlebihan. Doomscrolling membuatmu sangat rentan secara psikis. Misal, ada konten yang menyindir orang bergaji UMR, tapi nekat menikah dan punya anak. Dirimu yang juga berpenghasilan setara UMR otomatis baper.
Kamu melihat konten cekcok pasangan juga ikut tegang. Belum lagi berbagai status yang menanggapi perkembangan situasi politik dan ekonomi yang disampaikan secara emosional. Semua itu menjadi sampah yang menumpuk di pikiranmu. Timbul rasa tertekan dan khawatir sampai dirimu sulit bahagia serta beraktivitas normal.
5. Membuang kuota sama dengan membakar uang

Rasanya mungkin kamu gak menghabiskan banyak kuota internet buat mengakses media sosial. Akan tetapi, seandainya kamu membandingkan total waktu untuk main mesdos dengan belajar atau bekerja memakai internet, akan terlihat perbedaannya. Kuota internetmu sebenarnya lebih banyak dihabiskan buat doomscrolling doang.
Bayangkan apabila perbandingan waktu kerja atau belajarmu yang aktif menggunakan internet cuma 4 jam per hari. Sementara tanpa terasa kamu bisa menghabiskan 6 jam sehari untuk menggulir layar yang terbagi dalam beberapa kesempatan. Bila harga paket internetmu 100 ribu rupiah per hari, 60 ribu rupiahnya dibuang percuma buat doomscrolling.
Malah uang yang dibakar dapat lebih besar dari itu. Sebab ketika dirimu bekerja atau belajar, cuma memakai surel buat mengunduh tugas serta mengunggah hasil pengerjaan. Sementara ketika kamu terus menggulir layar, video yang mendominasi dan makan banyak kuota internet.
Doomscrolling merupakan bentuk kecanduan internet, khususnya media sosial. Sudah sangat jelas kalau doomscrolling tidak berguna bagimu karena membuat produktivitas terganggu, bahkan sulit bahagia. Taruh perangkatmu dan gunakan waktu buat berbagai aktivitas lain. Seperti beres-beres rumah, berolahraga, membaca buku, atau berkebun.