Ilustrasi OOTD demo (generated image by ChatGPT/Maya Lubis)
Fashion activism atau aktivisme mode adalah gerakan yang menjadikan pakaian bukan sekadar bagian dari tren, tetapi juga medium untuk menyampaikan pesan politik, sosial, budaya, dan lingkungan. Lewat busana, seseorang bisa menunjukkan dukungan, kritik, solidaritas, sampai keberpihakannya terhadap isu tertentu.
Bentuknya bisa sangat beragam, mulai dari kaus berslogan politik, warna yang menjadi simbol gerakan, kampanye eco-fashion, sampai dorongan terhadap representasi tubuh yang lebih inklusif. Pada awal abad ke-20, kelompok suffragette misalnya memakai kombinasi warna ungu, putih, dan hijau sebagai identitas perjuangan hak pilih perempuan. Desainer Katharine Hamnett juga pernah menggunakan kaus bertuliskan “58% DON’T WANT PERSHING” saat bertemu Margaret Thatcher pada 1984 sebagai bentuk protes politik.
"Fashion menciptakan makna, dan makna tersebut mendorong sebuah tindakan," tutur Céline Semaan, Founder Slow Factory, dikutip dari ELLE.
Hal ini menunjukkan bahwa fashion punya kemampuan untuk menciptakan makna. Ketika sebuah pakaian membawa pesan yang kuat, orang bisa melihatnya, membicarakannya, lalu mulai mencari tahu isu di baliknya.